Potensi Perikanan Tangkap Indonesia

Oleh Zulfikar Halim Lumintang, SST*

Indonesia merupakan negara kepulauan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik bahwa Indonesia memiliki 17.504 pulau di Indonesia yang tersebar di 32 provinsi (sebelum terjadi pemekaran Kalimantan Utara dan Sulawesi Barat). Adapun provinsi yang memiliki pulau terbanyak adalah Kepulauan Riau dengan jumlah 2.408 pulau. Lalu diikuti oleh Papua Barat dengan 1.945 pulau di urutan kedua dan Maluku Utara dengan 1.474 pulau di posisi ketiga. Sementara provinsi yang paling sedikit memiliki pulau adalah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jambi masing-masing terdapat 19 pulau.

Jadi bisa kita bayangkan, betapa banyaknya kekayaan Indonesia yang dianugerahkan kepada Indonesia. Menyusul itu, dengan banyaknya jumlah pulau di Indonesia, tentu saja luas wilayah perairan Indonesia juga sangat luas. Berdasarkan data yang dirujuk oleh Menko Kemaritiman, luas perairan Indonesia mencapai 6.400.000 km persegi. Luas tersebut setara dengan 77,11% luas seluruh wilayah Indonesia. Dengan luas tersebut, tentu saja potensi kelautan Indonesia sangat besar. Ada potensi pariwisata berupa pantai, pemandangan bawah laut, dan tentunya potensi produksi perikanan tangkap lautnya. Secara logika, seharusnya perikanan bisa menghasilkan kontribusi yang lebih dibandingkan pertanian. Namun nyatanya tidak demikian.

Selama periode 2014-2018, subsektor pertanian selalu memiliki kontribusi PDB lebih dari 70% terhadap PDB sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sedangkan subsektor perikanan hanya menyumbang PDB pada kisaran angka 17% hingga 20% saja pada periode 2014-2018. Namun ada harapan yang cukup besar pada sektor perikanan mengingat selalu memiliki tren kontribusi yang meningkat dari 2014-2018. Tercatat pada 2014 subsektor perikanan memiliki kontribusi sebesar 17,41% terhadap PDB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kemudian meningkat 1,17 poin menjadi 18,58%. Pada tahun berikutnya kembali meningkat 0,40 poin menjadi 18,98%. Kemudian pada tahun 2017 kontribusi subsektor perikanan meningkat 0,54 poin menjadi 19,52% terhadap PDB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tahun 2017. Dan yang terakhir, pada tahun 2018, kontribusi subsektor perikanan berhasil mencapai 20,31% dengan laju pertumbuhan 5,20%.

Dalam periode tersebut, Kementerian Perikanan dan Kelautan di bawah kendali Menteri Susi Pudjiastuti terlihat berhasil meningkatkan gairah usaha perikanan, khususnya perikanan tangkap di Indonesia. Dan yang paling fenomenal dari beliau adalah menenggelamkan kapal ikan illegal. Tercatat 558 kapal ikan illegal telah ditenggelamkan selama Menteri Susi menjabat. Kapal-kapal yang berasal dari Vietnam, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara tetangga yang lain, tersebut terbukti telah mencuri ikan di perairan Indonesia. Dari penenggelaman kapal tersebut, ada sekitar ratusan triliun rupiah aset milik Indonesia yang berhasil diselamatkan dari tindak kejahatan pencurian ikan.

Untuk ke depannya perikanan tangkap akan menjadi bagian penting dari subsektor perikanan, karena seperti yang kita ketahui, bahwa jumlah ikan, jenis ikan yang berada di lautan Indonesia sangat tidak terbatas. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya yang bisa mendukung keberhasilan perikanan tangkap dalam dunia yang semakin berbasis teknologi ini. Pertama mungkin dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pekerja di laut perusahaan penangkapan ikan di Indonesia masih banyak yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), mencapai 4.647 orang atau sekitar 22,44% dari total pekerja di laut perusahaan perikanan pada tahun 2018. Melihat persaingan teknologi dan SDM yang sangat bebas, tentu hal ini patut mendapat perhatian. Pembekalan peralatan teknologi penangkapan ikan perlu diberikan kepada para pekerja di laut, agar bisa menangkap ikan lebih maksimal dan tidak mencederai ekosistem laut. Jika memang pendidikan formal sudah tidak dapat ditingkatkan, maka bekal ilmu teknologi harus diberikan kepada nelayan berpendidikan rendah. Agar nantinya mereka tidak semakin tertinggal oleh kemajuan zaman.

Kemudian dari segi perusahaan yang mengekspor ikan. BPS mencatat bahwa pada tahun 2018 total ekspor perusahaan penangkapan ikan hanya mencapai 9,64%. Sisanya, 90,36% ikan hasil tangkapan dijual di dalam negeri. Harapannya pada tahun berikutnya ekspor ikan tangkapan Indonesia bisa meningkat seiring dengan penggunaan teknologi yang tepat. Hal tersebut dimaksudkan agar menambah kontribusi PDB subsektor perikanan pada PDB total Indonesia. Diantara ikan hasil tangkapan, terdapat ikan tuna yang baik dikonsumsi oleh orang dewasa dan balita, bahkan ibu hamil. Tercatat 20.310 ton tuna berhasil ditangkap pada tahun 2018. Tuna sangat bermanfaat untuk menurunkan kolesterol jahat, mengurangi risiko penyakit jantung, mendukung kesehatan mata dan otak, mendorong kesehatan reproduksi dan tiroid, dan berfungsi untuk mencukupi kebutuhan protein, vitamin dan mineral.[]

*Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK