Sang Pembentuk Miniatur Peradaban

Ilustrasi @Aulia Saiful Hadi

Oleh Aulia Saiful Hadi*

Anak adalah bintang yang akan menerangi peradaban dunia. Setiap sinar yang mereka pancarkan merupakan keunikan yang dimilikinya. Namun, jika memang hal tersebut merupakan kodrat yang ada pada setiap anak, siapakah yang dapat membantu mereka dalam menemukan peran personalnya? Tentunya, setiap anak dan generasi muda akan menghadapi tantangan baru. Dengan demikian, keluarga sebagai pranata yang paling dekat dengan anak harus ikut andil dalam mendidik generasi muda yang akan menjadi cahaya bagi peradabannya.

Keluarga juga merupakan sumber kebahagian sekaligus madrasatul ula (edukasi pertama) bagi anak. Hal ini membuktikan bahwa peran orang tua dalam kehidupan generasi muda sangat besar. Namun, mengapa ketika anak bermasalah, sebagian ibu dan ayah malah menyalahkan teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Mengapa anak-anak lebih terpengaruh oleh teman-teman dan lingkungannya daripada orang tuanya sendiri? Bukankah dengan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan oleh orang tua, seharusnya menyebabkan anak lebih berkarakter dan tak mudah terpengaruh lingkungan pertemanan mereka yang buruk? Mengapa setelah anak beranjak remaja dan dewasa, sebagian orang tua justru menganggapnya sebagai beban?

Benarkah setiap asumsi ini telah terdoktrin pada orang tua? Lalu, adakah anak yang terlahir sebagai pokok permasalahan dalam satu keluarga? Benarkah anak dengan keterbatasan yang dimilikinya ditakdirkan Tuhan hanya untuk menjadi sosok yang putus asa, menyusahkan orang tua bahkan saudara-saudaranya? Dan adakah anak yang berniat dari lahir “di saat aku besar nanti, aku akan bermalas-malasan dan enggan menghormati orang tua?”

Pada dasarnya, setiap anak memiliki fitrah Ilahiah yaitu berupa kecenderungan mutlak pada perilaku-perilaku baik (Chatib, 2015). Permasalahan-permasalahan ini muncul ketika para orang tua belum mampu menjadi figur yang dapat diteladani oleh anaknya. Ibu merawat dan mengasuh anak, ayah mencari nafkah agar dapat memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya. Peran orang tua hanya stagnan sampai tahap tersebut, mereka abai dalam hal mendidik anak-anaknya.

Pola Asuh yang Baik

Sebagian orang tua belum mampu menjalankan peran mereka dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan oleh kesalahan pola asuh sebelumnya dan kurangnya ilmu parenting yang dimiliki oleh orang tua (Ihsan, 2018). Pengasuhan yang baik adalah tindakan yang mampu meningkatkan kepercayaan diri sebagai ayah dan ibu dalam mendidik anak-anaknya berdasarkan fitrah pendidikan (Santosa, 2017). Sehingga menjadi orang tua mestinya mampu mendampingi anaknya untuk terus berkembang hingga mampu menemukan peran peradabannya kelak.

Hal ini membantah anggapan kebanyakan orang tua ketika mengantarkan anak ke sekolah yakni, “Kami menyerahkan anak-anak kami ke sekolah lantaran kami tidak terdidik” (Elfindri, 2010). Padahal, meskipun anak bersekolah, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga. Dengan demikian, peran ibu dan ayah sangat penting dalam character building process atau proses pembentukan karakter anak. Hal ini penting agar mereka memiliki soft skills yakni keahlian atau kemampuan nonakademik. Soft skill yang meliputi inisiatif, kerja keras, jujur, visioner, disiplin, dan karakter-karakter positif lainnya, nantinya diharapkan dapat mendukung keberhasilan mereka.

Pada dasarnya, sekolah dan keluarga merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Orang tua merupakan konsumen pendidikan yang penting di sekolah, selain anak sebagai peserta didik (Chatib, 2015). Dalam mendidik anak, orang tua memang tidak dapat mengandalkan kemampuannya saja, mereka membutuhkan kolaborasi antara guru yang ada di sekolah. Akan tetapi, para orang tua juga tidak boleh hanya bergantung kepada sekolah. Hal ini dikarenakan pendidikan berbeda dengan persekolahan.

Pada umumnya, sekolah hanya memberikan hard skills (kemampuan akademik) kepada para siswa. Karena bukanlah kewajiban sekolah untuk memenuhi kebutuhan rohani siswa dengan kasih sayang. Namun, ibu jelas merupakan sumber kasih sayang bagi anaknya. Seorang ibu sejati akan menjalankan perannya sebagai pendidik utama untuk membangkitkan fitrah Ilahiah pada anak (Santosa, 2017). Jika fitrah-fitrah ini tumbuh dengan semestinya, setiap anak akan mampu menjalani kehidupan sesuai dengan aturan yang ada. Sehingga mereka akan menjadi sosok yang memiliki peran personal dan komunal bagi perdabannya.

Sentral Miniatur Peradaban

Sebagai pendidik utama, jelaslah ibu berperan sebagi sentral bagi miniatur peradaban (rumah). Ibulah yang menjadikan anak memiliki jiwa yang tangguh. Seorang ibu akan mendidik anak-anaknya dengan cinta yang dimilikinya. Bahkan menurut Woligang Amadeus Mozart dalam (Chatib, 2016), menyatakan bahwa cinta merupakan bagian dari jiwa dan kecerdasan yang dapat diberikan oleh ibu pada anaknya. Interaksi yang intensif antara ibu dan anak, akan memudahkan ibu dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, pola pikir kritis, dan kreativitas pada anak.

Ibu  dapat menginspirasi si anak melalui kegiatan-kegiatan bersama. Setiap rancangan kegiatan yang dijalani oleh anak dapat menumbuhkan berbagai aspek potensi pada dirinya. Apalagi jika kegiatan yang dilakukan diintegrasikan dengan kehidupannya langsung. Hal ini berguna bagi peningkatan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emsoional anak.

Peran ibu tak terlepas dari peran ayah sebagai leader dalam sebuah miniatur peradaban. Peran ayah di keluarga ialah sebagai clear communication yakni sosok yang mampu mengomunikasikan segala struktur aturan bagi anak-anaknya dengan baik (Santosa, 2017). Segala ketulusan yang ada dalam pribadi seorang ayah, akan membentuk anak menjadi sosok pribadi yang menghargai segala bentuk pengorbanan dan tentunya memiliki karakter yang manusiawi sesuai fitrahnya (kemampuan afektif).

Sikap ayah yang selalu tampil berwibawa dan tegas terhadap aturan, dapat menciptakan jiwa kepemimpinan yang baik pada anak. Hal ini membuktikan bahwa peran kedua orang tua tidak dapat dipisahkan dalam membangun miniatur peradaban yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan. Untuk itu dibutuhkan kerja sama antara ayah dan ibu juga para pendidik di sekolah dalam menumbuhkan fitrah-fitrah pada setiap anak terutama fitrah Ilahiahnya. Oleh karena itu, bersyukurlah karena Tuhan telah mengirimkan sosok yang sangat berpengaruh dalam tumbuh kembangnya potensi generasi muda yakni ibu dan ayah sebagai talent companion (pendamping bakat anak) sekaligus moral companion (pendamping akhlak).[]

*Ketua OSIS Sukma Bangsa Pidie 2018/2019 sekaligus pegiat literasi Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK