Konsep Sukses Akademisi

Ilustrasi @finansialku.com

Oleh Muhammad Putra Adha, S.Pd, M.Sc (Ed)*

Tidak ada orang yang ingin tidak sukses dalam hidupnya, semua berhasrat yang sama untuk itu. Namun hanya berbeda cara atau metodenya saja. Di sini, di dalam judul tulisan ini, sungguh sangat menarik untuk disimak dan diperhatikan memang sehingga penulis tertarik untuk mencoba menjelajahi tulisannya pula untuk membuat sedikit jurus (konsep) akademisi dalam menuju “SUKSES”. Penulis di sini ingin menyampaikan beberapa hikmah atau pelajaran yang ada dari arti sebuah perjuangan kesuksesan. Ada hal–hal yang bisa kita jadikan sebagai panduan atau landasan dari lini–lini kehidupan kita untuk mencapai tujuan, cita–cita atau kesuksean. Penulis juga berusaha menyingkap beberapa nilai moralitas yaitu penghargaan terhadap kerja dan karya akademisi yang bertujuan untuk mencerdaskan generasi bangsa yang menuntut dan membagikan ilmunya kepada mereka.

Dalam mendesain tujuan sukses, penulis memberikan beberapa konsep atau rumus menuju sukses yang harus dimiliki oleh mereka agar dapat diterapkan akademisi dalam hidup, yaitu:

Tekad dan semangat

Untuk mencapai pintu awal dalam sukses, niat dan tekadlah yang menjadi bekal awal untuk sebuah kesuksesan agar kehidupan ini terarah ke mana tujuannya ketika telah dijalani dan dihadapi dalam masa yang jauh ke depan. Perumpamaan seperti sebuah pohon besar yang akan mempunyai akar dan cabang yang kuat, sebelumnya dia akan diberikan lahan tanah dan disirami dengan pupuk yang bagus dan layak dipakai. Begitu pula dengan sukses, sebelum kita mengambil buah dari sukses itu maka kita harus benar – benar dengan rapi dahulu mempersiapkan pohon kesuksesan itu agar dapat dinikmati buahnya dengan enak.

Tingkat semangat dan tekad sangat menentukan bagaimana konstruksi rencana tujuan kehidupan yang tertata, dikarenakan seseorang hidup dalam tahap dan fase tertentu senantiasa memerlukan desain kehidupan yang telah dipersiapkan sejak awal atau istilahnya bayar dimuka. Dengan mengutip apa yang ditulis Nor Islafatun, semangat dan tekad itu sangat penting dalam kehidupan manusia.

Nor Islafatun, dalam bukunya The Real Hero, Masa Kecil Orang–Orang Besar, mengungkapkan sosok Bachruddin Jusuf Habibie, sebagai ikon orang penting Indonesia yang membahagiakan. Sosok ini tidak muncul begitu saja, melainkan buah dari perjalanan yang dilalui dengan kerja keras, disertai semangat dan tekad yang membaja. Menurut Nor Islafatun, BJ. Habibie, ketika berangkat ke Jerman, tidak bermodal uang saja, melainkan juga semangat dan tekad, yang menjadikan Indonesia kemudian berubah drastis berkembang dan maju.

Tetap Pendirian (Istiqamah)

Deretan masalah yang juga masuk dalam daftar bagi akademisi adalah menentukan pilihan. Ini adalah suatu masalah yang paling krusial bagi akademisi dalam membangun dan mengembangkan kariernya karena jika tidak ada sikap yang jelas dalam menentukan pilihan, maka ini akan menyebabkan karier kerja dan profesinya berantakan dan bisa–bisa hancur. Di sini, ramai akademisi yang tak menentu arah dan sikap sehingga mereka mendapatkan risiko yang tidak enak, bahkan parah sampai ada yang menganggur dan beralih profesi diakibatkan banyak pertimbangan dalam menentukan pilihan/sikap atau tidak fokus dengan hanya satu pilihan mereka. Hal ini sangat ditakutkan karena akan membuat akademisi rugi bukan hanya sesaat tapi berpengaruh untuk jangka panjang, misalkan saja seorang akademisi ingin menentukan kariernya di suatu tempat yang layak, tetapi honor atau kampusnya tidak cocok baginya dan ia pindah dan tidak mau menentukan sikap untuk tetap di situ, maka akhirnya pasti dia akan merasa menyesal dan rugi karena tidak memiliki kerja yang cocok di tempat lain belum lagi masalah reputasi dan gengsi yang akan membuat seseorang itu tidak berani dan down.

Berhubungan dengan itu, Drs. Cahyo Yusuf dalam bukunya Akhlak membentuk pribadi muslim pernah menuliskan arti dan fungsi salat adalah sebagai benteng pertahanan yang amat kuat yang berperan penting bagi kehidupan seseorang. Dapat mencegah perbuatan yang keji dan kotor, serta munkar. Oleh karena itu, sebagai ibadah, istiqamah (tetap pendirian) dapat dijadikan sebagai salah satu tameng dalam mencapai kesuksesan. Tidak perlu terlalu berangan–angan terlalu tinggi sekali untuk sukses baik itu dalam pendidikan, kerja maupun jabatan, yang terpenting adalah jalani dan nikmati dulu pekerjaan, pendidikan dan jabatan yang ada yang telah diberikan. Just fokus dan tetap berfikir penuh menuju masa depan sebagai bentuk perjuangan dalam mengejar cita–cita dan bakti kepada pendidikan bagi diri dan bangsa.

Lapang Dada dan Berjiwa Besar

Dua kata ini sangatlah melekat dalam jiwa–jiwa pribadi yang kukuh terselubung dalam setiap pemikiran dan perasaannya, yang jika dibandingkan dengan rasa bersyukur dan bersabar itu sangatlah dekat atau mendekati satu sama lainnya karena orang yang tidak memiliki kendaraan bersyukur dan bersabar tidak akan bisa mendapatkan tingkat lapang dada dan jiwa besar. Dengan kedua sikap ini, seseorang akan sangat mudah melewati jalan menuju sukses yang sebenarnya karena sukses itu membutuhkan perjuangan yang tidak lepas dari ejekan dan cacian orang–orang di luar panggung dalam hal ini panggung luar akademisi. Bahkan di dalam panggung sendiri pun karena zaman era globalisasi sekarang yang namanya kompetisi/persaingan tidak putus dari yang namanya sikat–menyikat. Dunia pendidikan bukan hanya aturan tetapi kebebasan di dalamnya. Oleh karena itu diperlukan seni dalam bertarung dengan segenap pengalaman perjuangan yang telah dimiliki oleh akademisi. Tetapi di sini, penulis tidak mau berbicara itu, tetapi hanyalah sebuah dorongan untuk dapat tetap bersemangat dalam menggapai tujuan dan visi misi. Dengan bersifat lapang dada dan berjiwa besarlah kita dapat bertahan dalam kesuksesan dan itu inti dari perbincangan yang dituangkan oleh penulis sebagai salah satu akademisi dalam meniti karier.

Siap menghadapi masalah

Masalah datang silih berganti tanpa diketahui kapan masalah itu datang. Seringkali masalah mampir di saat sedang nyaman dan ada saatnya pula masalah timbul dalam waktu keadaan sedang genting dan itu sering dirasakan oleh para pejuang khusunya pendidikan (akademisi). Pejuang dalam pendidikan biasanya menghadapi situasi yang tidak familier atau aneh. Mereka datang ke negara-negara dengan kebiasaan yang berbeda, budaya yang berbeda, dan bahasa yang berbeda.Tidak timbul rasa pasrah dalam menghadapi cros dan shock of culture, tetapi para petualang akan menggunakan kondisi ini untuk menentukan strategi agar tetap tenang dalam kondisi yang asing dan ketidakpastian. Selain itu, kemampuan beradaptasi juga sangat penting. Kedua kemampuan ini akan sangat membantu di bidang bisnis dan kepimpinan. Oleh karena itu banyak akademisi yang sukses dalam bidang memimpin organisasi–oraganisasi baik organisasi di dalam maupun organisasi di luar universitas yang berada di dalam masyarakat. Itu disebabkan timbul atas dasar kemauan, keberanian, dan kebesaran jiwa yang dimiliki dalam mempersatukan perbedaan–perbedaan tadi seperti yang telah diuaraikan di atas. Selamat menggapai kesuksesan.[]

*Dosen STIS UMMUL AYMAN dan anggota IGI (Ikatan Guru Indonesia) Pidie Jaya. Penulis buku “Petualangan Panjang Akademisi Menuju Sukses”

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK