Aceh [yang Sedang] Bergegas

Muhajir Juli.

Oleh Muhajir Juli*

Pasca konflik dan gempa serta tsunami yang menghumbalang Aceh, propinsi yang menjalankan Syariat Islam memiliki sebuah persoalan klasik. Yaitu kemiskinan yang kemudian diikuti oleh pengangguran angkatan kerjanya di usia produktif. Telah banyak tulisan-tulisan yang dibuat tentang itu. Bila hendak dibalik, ketidaktersediaan lapangan kerja, membuat banyak masyarakat usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan. Efeknya adalah lahirnya kemiskinan kultural, yang hingga saat ini terus menjadi kajian banyak pihak. Sekaligus beban psikologis pemeritah.

Ada beberapa hal yang membuat persoalan kemiskinan semakin akut di Aceh. Pertama soal tenaga terampil yang terbatas. Kedua, minimnya lapangan kerja. ketiga etos yang lemah. Keempat, belum terbukanya –secara luas—keterhubungan Aceh dengan luar.

Seusai musibah raya yaitu konflik dan bencana alam, banyak pihak yang masuk ke Aceh, baik pemerintah asing maupun lembaga swadaya masyarakat. Mereka bekerja membangunkan mental orang Aceh yang telah porak-poranda, seiring dengan hancurnya kampung halaman orang Aceh. Runtuhnya motivasi hidup serta hilangnya cita-cita karena kondisi daerah yang membuat mereka berhenti untuk membangun cita-cita besar. Usai semua donor itu keluar, persoalan mental, belumlah pulih seperti sediakala.

Tentu fakta tersebut merupakan anomali dari Aceh yang dikenal sebagai daerah yang mempelopori banyak hal, yang kemudian diadopsi oleh nasional. Aceh yang tersisa pasca perang dan bencana alam, adalah komunitas yang berbeda dengan pendahulunya. Aceh yang tersisa adalah komunitas yang pemarah, dendam, curiga serta kehilangan rasionalitas. Bahkan sudah sekian jauh tersisih dari peradaban dunia.

Memulihkan mental yang telah lama hancur tersebut, tentu tidak bisa serta merta dan tidak bisa sim salabim. Butuh waktu yang lumayan lama. Pun bila tanpa perencanaan yang matang, sungguh waktu yang lama tersebut tidak akan bisa memulihkan manusia Aceh yang secara darah memiliki semangat perlawanan tinggi terhadap sesuatu yang menurut mereka tidak sesuai.

Ini menjadi tantangan bagi pemerintah, siapapun itu. Aceh harus dibangun, bukan saja ekonominya, tapi juga mentalnya. Ini pekerjaan berat. Tapi harus dilakukan.

Saat ini, Aceh sudah memulainya. Melalui banyak kebijakan dan terobosan yang dilakukan oleh pemerintah, sejatinya bisa menjadi tolok ukur bila langkah itu telah dimulai. Aceh telah membuka diri kepada dunia—walau harus dengan kerja keras dan berdarah-darah.

Hadirnya Kawasan Industri Aceh (KIA) di Ladong, Aceh Besar, merupakan pintu awal bagi negeri ini untuk membuktikan bila sudah memulai membuka diri untuk menghubungkan Aceh dengan luar. Tentu, juga tidak bisa simsalabim. Masih banyak tahapan yang harus ditempuh oleh pemerintah daerah.

Masih banyak infrastruktur yang harus disediakan untuk meyakinkan para pelaku ekonomi dunia melirik Aceh sebagai daerah tujuan investasi. Misal ketersediaan jalan yang representatif bagi pelaku usaha. Ketersediaan energi listrik yang pasti dan cukup untuk dunia industri. Ketersediaan air bersih yang tidak pernah berhenti mengalir dari pipa-pipa. Serta terjaminnya keamanan dan kenyamanan bagi orang luar yang datang dan menginvestasikan modalnya di Serambi Mekkah.

Aceh saat ini sedang bergegas–bila saya tidak keliru. Meyakinkan semua pihak bahwa negeri ini siap dihubungkan dengan pihak luar. Perjalanan ke luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah, merupakan salah satu usaha menuju ke arah tersebut.

Seperti saya sampaikan di awal, tidak mudah membangun daerah yang sekian lama terpuruk. Tapi hal tersebut tidak serta merta menjadi pembenar untuk terus melambat. Aceh harus bergegas. Hadih maja Aceh mengatakan: Teulah sithon urueng meugoe, teulah si uroe ureung meurusa.Tak ada waktu untuk berleha-leha. Karena setiap detik sangatlah berharga. []

KOMENTAR FACEBOOK