Mengenal Ayi Jufridar, Sastrawan dari Pasee

Ayi Jufridar

PANITIA Borobudur Writer and Cultural Festival sudah mengumumkan peserta yang lolos ke event tahunan tersebut. Kegiatan itu berlangsung di Jogjakarta dan Magelang, Jawa Tengah pada 21–23 November 2019. Dari 95 nama, terdapat nama Ayi Jufridar sebagai peserta dari Aceh yang berasal dari Lhokseumawe.

Ini event sastra dan literasi keenam yang meloloskan Ayi Jufridar pada tahun ini, wartawan sekaligus penulis dari Aceh. Sebelumnya, ia juga diundang ke Pertemuan Penyair Nusantara di Kudus, Pertemuan Penyair Pesisiran di Semarang, Festival Sastra Bengkulu, Jogyakarta International Literary Festival, dan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Kepulauan Riau. Jauh sebelumnya, pada 2012, Ayi juga mendapat undangan ke Ubud Writer and Reader Festival di Bali serta International Visitor Leadership Program di Amerika Serikat.  

Sejak masa tugasnya sebagai komisioner di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara berakhir pada Juli 2018 lalu, Ayi Jufridar lebih fokus pada kegiatan literasi dan menulis. Sejalan dengan itu, banyak pertemuan sastra di berbagai provinsi di Indonesia. Pemerintah kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia berbondong-bondong menggelar kegiatan sastra sebagai bagian dari penguatan intelektual masyarakat sekaligus memperkenalkan destinasi wisata dan kebudayaan di daerah masing-masing.

Sayangnya, tidak semua event bisa diikuti Ayi. Selain masalah waktu karena beberapa event tersebut digelar hampir bersamaan, juga masalah biaya.

“Para penulis harus menanggung sendiri biayanya, termasuk perjalanan. Padahal komponen biaya paling tinggi ada pada transportasi,” kata pria kelahiran Bireuen, 18 Agustus 1972 itu kepada aceHTrend, Senin (4/11/2019).

Dari beberapa kegiatan literasi tersebut, umumnya penulis mengirim karya untuk dikurasi secara ketat oleh kurator profesional karena ada ratusan karya yang masuk. Namun, ada juga sistem seleksi dengan menilai rekam jejak kreativitas penulis seperti pada Jogyakarta International Literary Festival. Waktu itu, ada dua penulis Aceh yang diundang, yakni Ayi Jufridar dan Ida Fitri, sastrawan perempuan yang karya-karyanya banyak diterbitkan media nasional.

Ayi mengakui, dalam beberapa event para penulis Aceh sering membawa nama daerah di tingkat nasional dan internasional karena kegiatan tersebut juga melibatkan penulis luar negeri. “Sering juga kawan-kawan sastrawan Aceh memperkenalkan kekayaan budaya Aceh. Tapi dukungan Pemerintah Aceh boleh dibilang tidak ada sama sekali. Beda dengan dukungan terhadap dunia olahraga, setiap tahun miliaran dana digelontorkan. Padahal, sastra dan dan olahraga itu sama-sama punya kontribusi terhadap kemajuan bangsa,” kata ayah empat anak tersebut.

Dia merasa beruntung karena mendapat dukungan dari Rektor Universitas Malikussaleh untuk kegiatan literasi tersebut. Ya, selain aktif sebagai penulis, sejak 2010 Ayi juga tercatat sebagai dosen tetap non-PNS di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh.

“Ketika mengikuti kegiatan literasi, banyak penulis nasional mengira saya mengajar di Fakultas Sastra. Padahal, saya lebih banyak mengampu mata kuliah jurnalistik di Prodi Ilmu Komunikasi dibandingkan di Fakultas Ekonomi. Kalau di Sastra, tidak ada sama sekali,” ujar Ayi sambil tertawa.

***

Menulis memang sudah menjadi kegiatan Ayi Jufridar sejak kecil. Ia memulai kariernya dengan menulis kisah fiksi di berbagai majalah remaja nasional pada era 1990-an sampai awal 2000-an seperti Anita Cemerlang, Aneka Yess, Gadis, Ceria, Kawanku, Fantasi. Beberapa tabloid dan surat kabar nasional juga pernah memuat karya Ayi Jufridar seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Jurnal Nasional, majalah Majas, Nova, Wanita Indonesia, Aura, Femina, Kartini, majalah Story, majalah, Say, Romansa, bahkan majalah Dewan Bahasa dan Sastra Malaysia.

Seiring perkembangan teknologi dan bermunculan situs sastra, Ayi juga menulis di kanal sastra online seperti basabasi.co, kurungbuka.com, dan sebagainya. Sampai sekarang, tak kurang dari 500 karyanya berupa cerpen, puisi, dan artikel sudah dipublikasikan sepanjang karier kepenulisannya.

Selain itu, Ayi juga sudah melahirkan empat buku fiksi. Pada 2005, novelnya Alon Buluek (Gelombang Laut yang Dahsyat) menjadi pemenang ketiga lomba novel nasional yang digelar Penerbit Grasindo dan Radio Nederland. Novel itu kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda dengan judul Alon Buluk (de Verschrikkelijke Zeegolf). Novel itu berkisah tentang perjuangan seorang gadis mengumpulkan keluarganya yang tercerai-berai akibat tsunami.

Novel keduanya, Kabut Perang, diterbitkan sebuah penerbit indie di Jakarta. Meski tidak menyebut Aceh di dalamnya, mudah ditebak karya tersebut berkisah tentang konflik bersenjata di Aceh. Sedangkan novel ketiga, Putroe Neng, kembali diterbitkan Grasindo pada 2011, dan novel 693 Km Jejak Gerilya Sudirman diterbitkan Noura Books (grup Mizan) pada 2015. Selain itu, ada beberapa cerpen dan puisinya masuk dalam antologi bersama penulis lain.

Ditanya saat ini sedang menulis novel apa, Ayi mengaku ingin melanjutkan sebuah novel tentang sebuah mitos di Aceh yang sudah 70 persen ditulis sejak 2015 lalu, tetapi terhenti karena kegiatan sebagai penyelenggara pemilu yang menuntut perhatian sepenuh waktu. Beberapa outline novel yang sudah disiapkan juga ingin diselesaikan.

“Menulis itu bukan sekadar masalah teknis yang bisa dipelajari. Hal yang lebih sulit adalah menjaga motivasi dan semangat tetap berada di level atas. Konsistensi ini yang berat dalam menulis, lebih berat dari rindu,” kata Ayi kembali tertawa.

Masalahnya harus mengalokasikan waktu untuk menulis, membaca, dan berdiskusi sastra dengan penulis lain di tengah berbagai kesibukan. Event-event sastra seperti di atas menurutnya menjadi kesempatan menambah daya kepenulisan, selain pengetahuan dan jaringan, sesuatu yang juga tak bisa diabaikan dalam dunia literasi.

Meski Wikipedia menyebutnya sebagai sastrawan, Ayi mengaku risih dengan sebutan tersebut. Menurutnya, sebutan sastrawan terlalu berat dan harus dibuktikan dengan karya dan kesetiaan yang panjang dan konsisten terhadap dunia sastra. “Saya belum sampai ke sana,” katanya merendah.

Kegiatan menulis tak bisa dipisahkan dari membaca. Di sela-sela kesibukan mengajar dan menulis berita, Ayi juga membaca buku, baik sastra maupun buku-buku lain. Untuk sastra, ia mengagumi karya-karya Amin Maalouf, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, Mo Yan, Haruki Murakami, dan beberapa penulis lain termasuk dari Indonesia seperti Eka Kurniawan, Azhari, dan Seno Gumira Ajidarma. Kekagumannya bukan saja karena sastrawan itu sudah meraih penghargaan.

“Tapi karena karya-karya mereka begitu menggetarkan dan meninggalkan kesan mendalam sepanjang masa,” tandas Ayi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK