Sidang Jual Beli Sisik Tenggiling, Para Terdakwa Mengaku Bersalah

Para terdakwa di persidangan @aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Sidang perkara jual beli sisik tenggiling selaku satwa yang dilindungi kembali digelar di Pengadilan Negeri Banda Aceh yang beragendakan pemeriksaan terhadap tiga terdakwa, Rabu (6/11/2019).

Persidangan tersebut dipimpin oleh majelis hakim yang diketuai Juandra SH, didampingi dua hakim anggota. Sedangkan dari JPU yakni Maulijar SH dan Fitriani SH. Sedangkan dari tiga terdakwa, hanya Khairul Furqan yang didampingi oleh kuasa hukum. Sementara dua terdakwa lainnya, Fauzul dan Ahmad Zaini tanpa dampingan dari kuasa hukum.

Tiga terdakwa terlihat mengenakan rompi tahanan berwarna oranye, dan duduk di kursi pesakitan saat dilakukan proses pemeriksaan secara bergantian dari dua berkas perkara tersebut.

Dalam fakta persidangan, Khairul Furqan mengakui bahwa ia yang pertama menghubungi Ahmad Zaini untuk mencari sisik tenggiling, berdasarkan pesanan Agus untuk dijadikan obat.

Setelah itu Ahmad Zaini menyanggupi permintaan Khairul, dan mengolah sisik tenggiling tersebut dengan cara direbus dan dikuliti, kemudian dijemur di rumahnya. Semua aktivitas itu dilakukan tanpa sepengetahuan keluarganya.

Furqan membenarkan bahwa ia yang menghubungi Ahmad Zaini, untuk mencarikan sisik tenggiling. Awalnya Agus yang menghubungi Furqan dan meminta sisik tenggiling untuk dijadikan obat.

Berdasarkan keterangan terdakwa, majelis hakim mempertanyakan apakah masuk akal dengan jumlah sisik 6 kilogram untuk dijadikan obat.

Furqan juga mengaku baru tahu tindakan itu terlarang setelah dirinya ditangkap. Sebelumnya ia mengaku tidak tahu sama sekali. Keduanya mengaku bersalah dan menyesali perbuatannya saat dipertegas oleh majelis hakim.

Untuk menguliti tenggiling itu kata Ahmad Zaini, ia mengaku bekerja sendiri di rumah. Keluarganya juga tidak tahu saat ia menjemurnya.

Jaksa Penuntut Umum, Fitriani SH mengatakan, saat Khairul Furqan ditangkap oleh pihak kepolisian, awalnya Furqan tidak mengakui sisik tenggiling, kepada polisi Furqan mengatakan bahwa yang dibawanya itu sisik ikan.

Menurut Fitriani, kedua terdakwa yaitu Khairul Furqan dan Ahmad Zaini telah terbukti bersalah karena melakukan jual beli satwa dilindungi yaitu sisik tenggilng, walau belum menerima uang. Hal tersebut terungkap di persidangan dalam pengakuan terdakwa mulai saat memesan pertama kali dari terdakwa Ahmad Zaini.

“Saudara Zaini mengatakan 3 kilogram dan terdakwa Furqan menanyakan lagi kepada Zaini apa ada tambahan barang. Berarti ia pingin lebih dari itu, untuk apa? Sedangkan pengakuan pertama Furqan, menjelaskan bahwa Agus menghubunginya karena mamaknya sakit dan sisik itu untuk obat, kan tidak mungkin 6 kilogram untuk obat,” kata Fitriani.

Saat ditanya tentang pemesan sisik tenggiling pertama kali mengapa tidak ditindak, Fitriani menjelaskan bila di berkas tidak ada pengembangan itu. Di BAP juga tidak keluar nama Agus, dan baru kali ini nama Agus muncul di fakta pengadilan.

“Menurut keterangan saudara Furqan, yang pertama pesan sisik trenggiling pada dirinya bernama Agus tapi dalam berkas tidak ada cerita itu, di dalam berkas hanya deal dengan si Koko di Sie Hotel,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam persidangan, kedua terdakwa Furqan dan Ahmad Zaini mengaku baru pertama kali melakukannya. Namun JPU mengatakan itu haknya untuk membuat pengakuan seperti itu.

“Maunya kita, mereka jujur namun yang tampak dalam persidangan tetap bungkam dan tidak mau mengakui dan pengakuan keduanya baru pertama kali,” sebutnya.

Dalam kasus ini, Fauzul satu berkas sendiri, sedangkan Furqan dan Zaini dalam satu berkas. Namun tuntutannya bisa jadi sama bisa jadi beda, hal itu dipertimbangkan dari jawaban terdakwa di pengadilan.

“Kita lihat jawaban terdakwa jujur apa tidak, sikapnya di pengadilan bagaimana, dan itu akan memengaruhi tuntutan kita,” katanya.

Fitriani menjelaskan bahwa dalam kasus perkara ini hanya terdakwa Furqan yang didampingi oleh penasihat hukum atau pengacara, walau satu berkas perkara dengan Ahmad Zaini, akan tetapi Ahmad Zaini tidak didampingi oleh penasihat hukum.

“Semua terbukti bersalah, keterangan saksi sudah mendukung, terdakwa telah mengakui bahwa dirinya bersalah. Kenapa, karena menjual sisik tenggiling, walaupun uangnya belum diterima tapi telah deal,” kata Fitriani lagi.

Kedua terdakwa melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda 100 juta dan subsider paling lama setahun.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Furqan, Dedy Ichsan mengatakan, tadi telah dilakukan pemeriksaan terhadap para terdakwa, dan ini juga kelanjutan dari pemeriksaan saksi ahli kemarin, dan terungkap ini adalah jebakan petugas.

“Terdakwa tidak memungkiri bahwa dia membawa sisik tenggiling, tapi barang tersebut merupakan pesanan orang yang telah didesain, untuk dibawa oleh Furqan, sehingga terdakwa dijebak dalam kasus ini,” kata Dedy Ichsan.

Selanjutnya kata Ichsan, pihaknya akan menunggu tuntutan dari jaksa, dan jaksa juga harus menilai secara objektif, karena Furqan perannya hanya membawa, dari jembatan ke Sie Hotel.

“Dan dalam hal ini belum ada transaksi, maka nanti akan kita lihat, apakah Furqan ini akan dituntut lebih berat daripada pelaku yang telah menerima uang, atau pengumpul sisik itu sendiri,” katanya.

Usai persidangan para terdakwa kembali ditahan. Sidang dilanjutkan pada Rabu pekan depan dengan agenda tuntutan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK