GM Kyriad: Hanya di Aceh Saya Bisa Kerja Sambil Ibadah

Bambang Pramusinto, General Manager Kyriad Muraya Hotel Aceh @aceHTrend/Ihan Nurdin

“Di Banda Aceh ini saya merasakan hal yang sangat luar biasa sekali di mana bekerja dan ibadah jalan dua-duanya. Saya baru selama di sinilah bisa salat Subuh di masjid berjamaah,” ujar Bambang Pramusinto, General Manager Kyriad Muraya Hotel Aceh saat berbincang dengan aceHTrend Jumat pagi pekan lalu (1/11/2019).

Sambil menyeruput kopi dan menikmati sarapan di restoran hotel, kami berbincang mengenai aktivitas sehari-hari Bambang yang sejak dua tahun terakhir ini berdomisili di Banda Aceh. Ya, seiring dengan hadirnya Kyriad Hotel di Banda Aceh, Bambang yang sebelumnya bertugas di Semarang, Jawa Tengah pun hijrah ke Banda Aceh untuk menapaki karier barunya sebagai hotelier. Lalu-lalang tamu hotel dan suara yang menggema di setiap sudut menambah semarak suasana pagi hari itu yang tampak cerah.

Kegemarannya melakukan salat Subuh jamaah di masjid itu lantas dijadikan sebagai salah satu program hotel untuk para tamu. Tamu-tamu yang menginap di hotel jaringan Prancis itu diberikan fasilitas salat Subuh gratis di Masjid Raya Baiturrahman. Kru hotel yang akan mengantar dan menjemput para tamu tersebut. Mereka juga dibangunkan sejak pukul 04.30 WIB supaya bisa bersiap-siap terlebih dahulu.

Program salat Subuh gratis ini mulai dijalankan sejak 2018, dan sangat diminati oleh tamu khususnya yang berasal dari Malaysia.

“Itu menjadi salah satu daya tarik tamu yang menginap di hotel kita, terutama yang dari Malaysia. Itu setiap hari kita lakukan, ada yang satu trip, kadang dua trip bahkan pernah sampai tiga trip, karena ada puluhan tamu yang ingin ikut salat Subuh di Masjid Raya Baiturrahman,” ujar Bambang.

Hal itu ternyata diikuti oleh beberapa hotel lainnya di Banda Aceh. Itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Bambang karena ia bisa menularkan inisiatif positif bagi pelaku industri perhotelan lain di Banda Aceh. “Karena kita melakukannya karena ridha Allah, kita secara nggak langsung juga dapat berkahnya ketika ada hotel lain yang mengikuti ide kita,” ujarnya lagi.

Bambang berkisah, sejak awal ketika Kyriad ingin memperluas jaringan usahanya di Banda Aceh yang notabenenya sebagai satu-satunya daerah yang menerapkan syariat Islam di Indonesia, pihak hotel sudah menyadari bahwa ada kearifan lokal di Aceh yang bisa dibilang tidak akrab dengan dunia perhotelan pada umumnya. Namun kearifan lokal itulah yang harus dijaga karena itu merupakan identitas sebuah daerah dan itu menjadi keunikan tersendiri. Dalam hal ini bagaimana pihak manajemen hotel mengelola segala aktivitasya tanpa berbenturan dengan Qanun Syariat Islam.

“Kearifan lokal itu harus kita jaga, cuma kita mengemasnya secara lebih wise, kita melakukan upaya-upaya persuasif supaya hal-hal yang menabrak norma itu tadi tidak terjadi sini,” kata penyuka kuliner Aceh dan sedang giat-giatnya belajar bahasa Aceh.

Selaku pengendali tunggal kemudi operasional hotel, Bambang sangat mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan silaturahmi. Baik itu kepada tamu, relasi, masyarakat, dan khususnya dengan para karyawan hotel yang dianggap sebagai aset alih-alih hanya dianggap sebagai pekerja semata. Pemikiran bahwa karyawan adalah aset itulah yang membuat manajemen memberikan penghargaan lebih kepada karyawan.

Misalnya membuat Appreciation Day kepada karyawan untuk merayakan milad hotel. Salah satu kegiatan di Appreciation Day ini yaitu para leader hotel menyemir sepatu para pegawai hotel. Walaupun aktivitas ini menurut Bambang bukanlah sesuatu yang baru di dunia perhotelan, tetapi nyatanya tidak begitu bagi karyawan. Terbukti, di tahun pertama pada 2018 lalu dibuat, aksi semir sepatu karyawan ini hanya diikuti oleh belasan karyawan saja. Mereka merasa canggung ketika sepatunya disemir oleh top leader-nya. Namun tahun ini ada 24 karyawan hotel yang mau sepatunya disemir.

“Kita ingin memperlakukan bahwa karyawan itu merupakan aset yang harus dijaga. Perlu kita sadari bahwa revenue dari hotel ini sangat luar biasa sekali dan itu karena kerja keras karyawan, pengunjung ramai, over budget terus, tentunya karena karyawan kita yang melakukan tugasnya dengan baik sehingga hasilnya nyata. Ini merupakan bentuk terima kasih kita dengan melakukan yang out of the box, tidak ada jarak. Biasanya yang canggung itu adalah stafnya,” ujar Bambang.

Bambang Pramusinto bersama top leader lainnya menyemir sepatu karyawannya @Facebook/Bambang Pramusinto

Selain semir sepatu, mereka juga mengadakan pangkas rambut gratis yang mendatangkan tukang pangkas profesional ke hotel. Kali ini kata Bambang, setidaknya ada 15 staf yang dipangkas rambutnya. Selain itu, Bambang juga membuat pesta barbeque khusus bagi para staf yang mendapatkan shift di malam hari.

Kyriad Hotel hadir di Banda Aceh sejak 16 November 2017, pekan depan tepat dua tahun hotel itu beroperasi di Aceh. Untuk rangkaian milad, sudah dilakukan sejak September lalu dengan meluncurkan program cleaning beach dan cleaning surau di pantai-pantai dan masjid yang ada di Kota Banda Aceh. Setiap pekannya di hari Sabtu, Bambang dan lebih dari 20 stafnya turun ke lokasi untuk membersihkan pantai dan masjid. Beberapa pantai yang sudah mereka sambangi seperti pantai Syiah Kuala, Gampong Jawa, Ujong Pancu, dan Lampuuk. Begitu juga dengan masjid, seperti Masjid Teuku Umar dan Masjid Peunayong yang berada di pinggir Krueng Aceh.

dan Lampuuk. Begitu juga dengan masjid, seperti Masjid Teuku Umar dan Masjid Peunayong yang berada di pinggir Krueng Aceh.

Selaku pegiat industri perhotelan, kebersihan memang menjadi sesuatu yang menarik perhatian Bambang. Ia ingin kehadiran timnya berkontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan yang bersih. Seluruh kegiatan yang sudah dilakukan ini bisa dikatakan sebagai praevent sebelum hari puncak yang digelar pada 16 November nanti. Namun untuk agenda bersih-bersih pantai sudah dilakukan sejak tahun lalu sebagai agenda rutin hotel.

Bersih-bersih pantai tim Kyriad Hotel @ist

“Puncak acaranya nanti kita ada penghargaan employee of the year yang mulai kita gagas sejak tahun lali. Mereka ini merupakan karyawan atau staf yang sebelumnya mendapat predikat sebagai best employee of the month yang kita buat setiap tiga bulan sekali, nanti dari mereka ini kita lihat siapa yang menjadi best employee of the year.”

Selain itu, di hari puncak nanti direncanakan ada pengajian dan doa bersama anak yatim di kampung sekitar lokasi hotel, yang dikemas sekaligus dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, santunan anak yatim dan penyerahan pakaian.

Tanpa terasa, tiga puluh menit berlalu. Perbincangan dengan Bambang pun harus disudahi. Namun sebelum obrolan pagi itu usai, Bambang sempat mengatakan bahwa Aceh merupakan daerah yang peaceful. Itu merupakan pengalamannya sendiri sebagai orang luar yang kemudian tinggal di Aceh. Jauh dari kesan-kesan seperti yang selama ini berkembang di luar sana. Apalagi dengan kekuatan silaturahmi yang dibinanya, berdomisili di Banda Aceh menjadi sangat menyenangkan bagi Bambang. Ya, karena hanya di sinilah ia bisa bekerja sambil beribadah.[]

KOMENTAR FACEBOOK