Kedai Kopi dan Generasi Sampah

Ilustrasi @kompasiana

“Generasi duduk di kafe yang menghabiskan waktu rutin setengah jam saja di kafe atau satu jam saja. Itu generasi sampah, itu generasi robot, itu los generasyen. Otaknya tidak jalan. Kesehatannya tidak jamin. Cita-citanya ngambang. Tidak ada semangat untuk apa kerja dan sebagainya. Tidak ada target hidupnya. Dan mereka jeut tak tanda, tak tanda, tak tanda. Yang duduk di kafe berjam-jam itu calon dhuafa.”

Potongan kalimat di atas kononnya diucapkan oleh seseorang yang mirip guru saya, Profesor Farid Wajdi, mantan rektor UIN Ar-Raniry. Walaupun mirip, namun saya belum berani memastikan sosok itu sebagai Prof Farid sebab saya tidak menyaksikannya secara langsung. Namun begitu, rekaman video yang beredar di pentas maya beberapa hari ini memang cukup meyakinkan. Tapi tentunya kita tidak bisa menuduh sembarangan tanpa melakukan verifikasi faktual terhadap sosok yang mirip Prof Farid tersebut. Dengan peradaban teknologi yang super canggih seperti sekarang ini bukan tidak mungkin seseorang bisa menyerupakan dirinya dengan orang lain. Atau bisa saja itu satu rekayasa visual untuk mengalihkan isu pengangkatan Prabowo sebagai Menhan.

Terlepas dari apa pun yang terjadi, kalau kita merujuk ke belakang, tuduhan terhadap kedai kopi bukan hanya terjadi baru-baru ini. Saya ingat hal serupa juga pernah mengguncang kesadaran anak muda Aceh pada tahun 2016. Saat itu sosok yang diyakini sebagai singa podium itu pernah berujar bahwa 80% generasi muda Aceh menghabiskan waktu di warung kopi yang kemudian disebutnya sebagai musibah yang lebih besar dari bom atom di Jepang. Saat itu saya juga pernah menulis satu tulisan di aceHTrend untuk menerjemahkan tudingan tersebut.

Adapun terkait video yang beredar baru-baru ini saya belum mendapatkan keterangan resmi di mana, kapan dan dalam konteks apa ucapan itu muncul. Tapi, sebagai bagian dari penghuni kedai kopi tentunya saya dan siapa pun berhak berkomentar seperlunya. Sebagai penghuni kedai kopi, kita berhak menerjemahkan diri untuk kemudian menolak terjemahan orang lain yang mungkin saja sama sekali tidak mengenal seluk beluk kedai kopi. Kita berpegang pada prinsip la ya’rifu generasyen illa generasyen (tidak ada yang lebih mengenal generasyen kecuali generasyen itu sendiri). Dengan kata lain, generasi kedai kopi lebih tahu tentang dirinya tanpa harus diterjemahkan oleh orang lain, termasuk oleh singa podium sekali pun.

Namun begitu, dalam konteks kebebasan tentunya setiap orang bebas saja berkomentar dan memberi penilaian kepada pihak lain menurut standarnya sendiri-sendiri. Misalnya seorang dosen menuding mahasiswa yang sering menghabiskan waktu di kedai kopi sebagai calon dhuafa adalah sah-sah saja. Begitu pula ketika ada seorang mahasiswa menuding seorang profesor yang berebut posisi rektor sebagai dhuafa yang sebenarnya dan sebagai los generasyen hakiki yang otaknya tidak jalan juga sah-sah saja jika ditimbang dari standar masing-masing pihak.

Di luar itu, dalam dunia akademik, seorang profesor memang dituntut untuk melahirkan temuan-temuan baru sesuai bidangnya. Jika dianalisis dengan cermat, teori yang disampaikan oleh sosok yang mirip Profesor Farid adalah termasuk dalam kategori temuan baru yang patut diapresiasi. Dalam hal ini beliau sudah sukses mengidentifikasi beberapa spesies baru di kedai kopi yang kemudian disebut sebagai generasi sampah, generasi robot, los generasyen, dan calon dhuafa.

Bukan tidak mungkin apa yang disampaikannya tersebut sudah melalui riset mendalam selama bertahun-tahun. Bukan tidak mungkin pula dia juga melakukan observasi terlibat dengan cara memerankan diri sebagai generasi robot dan los generasyen di kedai kopi sehingga kesimpulan yang dibuatnya pun semakin kuat yang kemudian tercermin dalam jeut tak tanda, tak tanda, tak tanda. Kita juga yakin saat ini sudah banyak sekali generasi sampah, generasi robot, los generasyen dan calon dhuafa yang sedang berkeliaran di kantor-kantor pemerintah, di kampus-kampus, dan di gedung DPR.

Dengan demikian sudah semestinya kita berbaik sangka kepada sosok yang mirip profesor itu. Klaim beliau bahwa generasi kedai kopi adalah generasi sampah, los generasyen dan calon dhuafa bisa jadi ada benarnya. Artinya pernyataan itu tidak bisa dipahami secara tekstual karena kedalaman makna yang dimilikinya. Dibutuhkan penakwilan-penakwilan filosofis agar pemaknaannya menjadi tepat.

Terakhir, ada kemungkinan lain. Bisa jadi ketika kalimat itu diucapkan, otaknya sedang berjalan-jalan ke masa lalu pada saat kedai kopi masih memproduksi los generasyen. Artinya telah terjadi loss antara bibir dan otak di mana keduanya tidak mampu lagi menyesuaikan diri sehingga keluarlah ucapan-ucapan yang hanya bisa dipahami dalam konteks masa lampau. Saya kira begitu.[]

*Penulis adalah seorang guru sekolah rendah. Penulis kajian sosial, politik dan budaya.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK