Selamat Hari Pahlawan! Ini Enam Pahlawan Nasional Indonesia yang Baru

Setiap 10 November rakyat Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Pada momen ini biasanya pemerintah juga memberikan gelar Pahlawan Nasional yang baru kepada tokoh-tokoh yang dianggap telah berjasa besar bagi negara ini.

Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada WNI atau seseorang yang berjuang melawah penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka yang telah berjasa dan gugur demi membela bangsa dan negaranya.

Hal yang sama juga terjadi pada tahun ini, dari 20 nama yang diusulkan Kementerian Sosial untuk dibahas oleh Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), terpilih enam nama yang dianggap patut menjadi Pahlawan Nasional. Mereka, yaitu Rohana Kuddus (Sumatera Barat), Sultan Himayatuddin (Sulawesi Tenggara), Alexander Andries Maramis (Sulawesi Utara), Prof. dr. M. Sardjito (Yogyakarta), K.H. Abdoel Kahar Moezakir (Yogyakarta), K.H. Masjkur (Jawa Timur). Anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia ditetapkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada Jumat, 8 November 2019. Siapa saja mereka?

Rohana Kuddus

Ia merupakan jurnalis perempuan pertama Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Kiprahnya di dunia persuratkabaran Indonesia dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908. Koran ini dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia. Selanjutnya ia menerbitkan Soenting Melajoe yang beredar di Padang di mana ia menjabat sebagai pemimpin redaksi. Rohana Kuddus lahir di Koto Gadang, 20 Desember 1884 dan meninggal dunia di Jakarta pada 17 Agustus 1972 di usia 87 tahun.

Sultan Himayatuddin

Sultan Himayatuddin merupakan Sultan Kesultanan Buton di Pulau Buron, Sulawesi. Ia menjadi Sultan ke-20 pada 1750–1752 dan Sultan ke-23 pada 1760 – 1763. Semasa hidupnya ia dikenal gigih melawan VOC Belanda yang mencapai puncaknya pada 1755. Saat itu ia memimpin 5 ribu prajurit untuk bertempur melawan pasukan VOC Belanda. Perang gerilya yang dipimpinnya berlangsung selama 21 tahun sejak 1755-1776. Ia wafat pada usia 86 tahun.

A.A. Maramies

Namanya sebagai salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sudah sangat familier di telinga masyarakat Indonesia. Tokoh Minahasa kelahiran 20 Juni 1897 ini termasuk yang berperan dalam merumuskan preambule/pembukaan dari dasar negara kita yang dikenal sebagai Piagam Jakarta pada 17 Agustus 1945. Ia masuk dalam susunan kabinet pertama Indonesia yang salah satunya menempati posisi sebagai menteri keuangan. Dia juga yang awalnya memerintahkan mencetak Oeang Republik Indonesia dan diedarkan pertama kali oleh BNI 1946.

Sardjito

Seorang dokter yang juga anggota BPUPKI ini kelahiran Magetan, 13 Agustus 1889 dan meninggal dunia pada 6 Mei 1970 di Yogyakarta. Ia merupakan anggot kehormatan/pengurus Perkumpulan Dokter Indonesia pada 1915 sampai 1942. Pernah menjadi ketua Organisasi Pergerakan Nasional Bung Tomo Cabang Jakarta pada 1926-1930. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi Medische Beriichten (Berita Ketabiban).

Abdoel Kahar Moezakir

Ia aktif menggalang dukungan untuk kemerdekaan Indonesia melalui berbagai organisasi yang diikutinya seperti Gerakan Pelajar Indonesia maupun Perhimpunan Indonesia. Ia aktif menyebarkan tuntutan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia melalui berbagai artikel yang diterbitkan surat kabar Mesir. Saat itu ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo. Ia juga menuliskan gagasannya tentang kemerdekaan Indonesia melalui Muktamar Islam Internasional. Selesai kuliah dan setelah kepulangannya ke tanah air, ia berkiprah melalui organisasi Muhammadiyah terutama di bidang dakwah dan pendidikan.

K.H. Masjkur

Pria kelahiran Singosari, Jawa Timur ini merupakan salah satu tokoh sentral dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Saat itu ia memimpin laskar rakyat bernama Barisan Sabilillah untuk memperjuangkan kembali kemerdekaan RI di medan tempur. Namanya juga tercatat juga sebagai anggota BPUPKI yang merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Ia merupakan ketua Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) pertama, Ketua umum PBNU, anggota DPR RI (periode 1956-1971), dan Menteri Agama RI (periode 1947-1949 dan 1953-1955). Ia juga dikenal sebagai tokoh pendiri Pembela Tanah Air (Peta) di masa penjajahan Jepang.[]

KOMENTAR FACEBOOK