Belajar Jujur dari Kadin Aceh

Dalam dua hari terakhir beberapa netizen di Aceh tampak sibuk mengomentari soal perkakas yang kononnya akan dihibahkan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh. Menurut sejumlah media, kehebohan itu meledak pasca beredarnya screenshoot dana APBA-P 2019. Dalam screenshoot itu tertera sejumlah perkakas yang nilainya hanya dua koma tujuh sekian miliar; tidak sampai tiga miliar–untuk Kadin Aceh.

Akibat peredaran informasi yang begitu masif di media sosial, akhirnya Kadin Aceh yang saat ini dipimpin oleh Makmur Budiman pun dilanda bullying massal dari rakyat Aceh yang diwakili oleh tuan-tuan netizen di pentas maya. Dalam gelombang bullying tersebut Wakil Ketua Umum Organisasi dan Kesekretariatan Kadin Aceh, Muhammad Iqbal memberikan penjelasan yang cukup rasional; bahwa dana itu bakal diperuntukkan untuk penguatan lembaga Kadin di seluruh Aceh serta penguatan UMKM. Berdasarkan pernyataan itu dapat dipahami bahwa selama ini Kadin Aceh memang begitu lemah sehingga harus dikuatkan oleh pemerintah melalui suntikan dana.

Namun sayangnya sejumlah pihak justru mengecam pengalokasian anggaran yang hanya dua sekian miliar itu kepada Kadin. Mereka berdalih bahwa organisasi tempat berkumpulnya para pelaku industri dan pengusaha tersebut tidak pantas menerima anggaran di tengah kondisi Aceh yang masih morat-marit. Selain itu, anggaran untuk pengadaan perkakas kantor Kadin Aceh juga dianggap tidak rasional.

Tudingan ini kemudian mendapat tanggapan dari pihak Kadin Aceh. Menurut mereka segala perkakas seperti laptop, proyektor, mobil, komputer, printer dan sebagainya akan dipergunakan untuk mendukung kerja-kerja Kadin Aceh. Uniknya lagi, mereka mengaku tidak mungkin menggunakan mobil pribadi untuk kepentingan rakyat organisasi dengan intensitas pelatihan yang begitu padat.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Kadin Aceh memang sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dengan demikian adalah wajar jika pemerintah memberikan dukungan dan bantuan kepada mereka agar mereka tetap kuat dan tegar menghadapi kenyataan. Dalam hal ini, sebagai publik, kita tidak bisa secara ceroboh mencurigai setiap bentuk kepedulian pemerintah kepada Kadin Aceh. Bisa saja bantuan tersebut sejenis balas budi dari pemerintah Aceh sebagai pemegang amanah rakyat atas jasa-jasa Kadin yang tidak perlu kita ragukan lagi. Kita juga tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap sesama anak bangsa. Jika rakyat kecil seperti kita bisa dibantu dengan APBA, kenapa Kadin tidak boleh?

Namun sayangnya, usai menjamurnya komentar para netizen di media sosial, kononnya anggaran untuk penguatan Kadin Aceh akhirnya dibatalkan oleh Plt. Gubernur Aceh. Sejauh ini belum diketahui pasti tentang sebab-musabab pembatalan ini; apakah karena permintaan Kadin Aceh atau mungkin karena inisiatif Plt Gubernur yang selama ini memang dikenal cukup responsif dan akomodatif dalam menyahuti keinginan publik. Yang jelas pembatalan ini sangat kita sesalkan.

Belajar Jujur

Terlepas dari penilaian publik kepada Kadin Aceh yang sempat menuai kontroversi, namun ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari peristiwa ini. Pelajaran terpenting adalah soal sikap rendah diri. Sikap rendah diri yang penuh ketulusan itu dapat kita ketahui setelah menyimak komentar-komentar Kadin Aceh di media. Tidak seperti kita yang gemar toep gasin peuleumah kaya, Kadin justru bersikap sebaliknya, toep kaya peuleumah gasin. Seperti diketahui, top gasin peulumah kaya adalah perwujudan kesombongan. Sedangkan top kaya peuleumah gasin adalah manifestasi rendah diri – sebuah sikap yang sudah cukup langka di zaman ini.

Pelajaran lainnya yang tidak kalah penting adalah soal kejujuran. Seperti diketahui kejujuran juga sudah cukup langka di pentas dunia yang semakin munafik. Jangankan sosok-sosok “sekuler” yang dikenal bebal, bahkan sosok religius pun nyaris kehilangan kejujurannya di tengah godaan dunia yang semakin rumit. Oleh sebab itu, segala bentuk kejujuran yang masih tersisa mestilah diapresiasi dan disambut dengan meriah, bukan justru dicaci dan dilecehkan.

Pengakuan bahwa Kadin sedang berada dalam kondisi “lemah” sehingga harus dikuatkan adalah cerminan kejujuran yang patut dihargai. Kalau bukan karena kejujuran, mungkin kita tidak pernah tahu bahwa mereka saat ini sangat membutuhkan laptop, komputer, printer, kulkas, mobil atau mungkin juga spring bed. Semua itu bisa terbuka ke publik berkat kejujuran yang masih tersisa. Lagi pula, jika kita mau berpikir adil dan rasional, apa yang dibutuhkan oleh Kadin adalah lumrah saja. Jika kamar pengantin saja boleh diisi dengan ranjang, cermin, sisir, minyak rambut, parfum, bantal guling dan bunga-bunga sehingga kedua mempelai bahagia, lantas kenapa kamar dagang tidak boleh merasakan nikmat yang sama? Saya kira, sikap diskriminatif semisal itu sudah semestinya dikubur dalam-dalam.[]

Penulis adalah guru dan berdomisili di Bireuen

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK