Teluk Surin Abdya Gerbang Ekonomi Barsela dan Tengah Aceh

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Perekonomian memegang peranan penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam upaya menunjang pembangunan yang berkualitas. Hal tersebut tentunya juga tidak lepas dari harapan dan tantangan yang dihadapi dalam dunia ekonomi. Perkembangan dan persaingan global saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Begitupun halnya dengan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), salah satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002. Dengan luas wilayah +2.334,01 Km² atau 233.401 hektare dan jumlah penduduk +143.000 jiwa, secara administratif pemerintahan terbagi dalam sembilan kecamatan dan 152 gampong.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Abdya, Drs. Thamrin saat membuka kegiatan diskusi pengembangan ekonomi dan industri di Kawasan Barat Selatan Aceh dengan Kakanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh, yang berlangsung di Aula Masjid Kantor Bupati Abdya, Senin (18/11/2019).

Thamrin menjelaskan, sebagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat, Teluk Surin cukup layak dijadikan sebagai pelabuhan dengan kemampuan labuh kapal di atas 5000 Ton DWT. Teluk Surin, kata Thamrin, berada di darat sehingga cukup aman dari empasan ombak dan badai Samudera Hindia yang dikenal cukup ganas. Karena ganasnya Samudera Hindia inilah, tidak ada pelabuhan laut yang representatif dari Aceh hingga pesisir Sumatera Barat bahkan ke batas Sumatera dan Jawa.

“Karena itulah Surin ini kami tawarkan kepada pemerintah provinsi dan pusat sebagai gerbang harapan untuk pantai barat selatan dan tengah Aceh. Baik untuk tingkat regional maupun internasional. Selain hasil bumi yang melimpah, di pantai barat selatan sudah ada puluhan pabrik kelapa sawit dengan produksi rata-rata sekitar 3.000 ton per hari,” jelas Thamrin.

Ia berharap, pelabuhan Surin menjadi gerbang ekspor hasil bumi kawasan pantai barat Selatan dan tengah Aceh ke dunia Internasional. Apalagi, sebut Thamrin, India dan kawasan Asia Selatan adalah salah satu kawasan pembeli CPO dari Indonesia. Padahal, jarak tempuh India dan kawasan Asia Selatan dengan Aceh begitu dekat sehingga cost pemasaran hasil bumi lewat pelabuhan Surin juga akan sangat fleksibel.

“Berbeda halnya dengan ekspor impor yang berlangsung lewat pelabuhan Belawan Medan, karena harus memutar dari Selat Malaka dengan jarak ratusan mil menuju Samudera Hindia. Apa salahnya kita yang sudah berada di Samudera Hindia menggagas hubungan dagang langsung dengan India dan negara-negara di Asia Selatan. Kalau gagasan hubungan langsung ini diterima, kita sudah mengurangi ketergantungan negara ini kepada Singapura yang menjadi agen dan pusat distribusi di Asia untuk dunia,” jelasnya.

Tentunya, sambung Sekda, pihaknya tidak sanggup memikul beban dan harapan yang begitu besar ini. Tapi bila pihak provinsi dan pusat mendukung, Pemkab Abdya siap bekerja sekeras-kerasnya untuk mewujudkan mimpi ini.

Apalagi, lanjut Sekda, secara geografis, Abdya berada persis di tengah pantai barat selatan Aceh, bahkan untuk kawasan bagian tengah Aceh. Jarak tempuh Abdya ke Lamno, Aceh Jaya sekitar 4 jam. Begitu juga halnya ke batas Aceh-Sumatra Utara di Subulussalam.

“Ke laut kita didukung oleh Simuelue, dengan jarak paling dekatnya adalah Abdya. Ke bagian tengah hanya 3 jam sampai ke Gayo Lues, atau hanya 5-6 jam ke Kuta Cane. Jarak Kuta Cane ke Abdya lebih dekat dibanding jarak Kuta Cane ke Medan. Sedangkan Abdya ke Takengon via Beutong Ateuh juga hanya berjarak 3 sampai 4 jam. Karena itu, biaya aktivitas ekonomi akan sangat mudah dan murah bila terpusat di Abdya. Maka secara empirik, dari zaman ke zaman, Abdya memang dikenal sebagai kota dagang layaknya Bireun di pantai timur Utara Aceh,” papar Sekda.

Pemkab Abdya berkeinginan, bahwa kawasan ekonomi dan industri tersebut sangat mungkin diwujudkan melihat potensi sumber saya alam (SDA) dan keunggulan yang dimiliki Abdya yang bakal menjadi pusat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi daerah di Aceh. Pertimbangan ini sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Abdya ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi.

“Kabupaten ini memiliki kawasan agropolitan untuk pengembangan sektor pertanian atau perkebunan. Lalu ada juga kawasan perkotaan sebagai pusat perekonomian, perdagangan, jasa dan pemukiman. Di wilayah pesisir ada kawasan minapolitan yang ruangnya bakal dimanfaatkan untuk produksi perikanan tangkap, perikanan tambak, industri pengolahan hasil laut, konservasi kelautan, dan pariwisata,” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Pemkab Abdya sangat berharap dengan terselenggaranya kegiatan tersebut akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi kemajuan dan pembangunan ekonomi masyarakat wilayah ini, khususnya Abdya, sehinggga perekonomian masyarakat dan daerah nantinya akan berkembang serta terkelola dan tersistem dengan baik dan teratur.

“Hal ini nanti tentunya juga akan berdampak bagi terciptanya peluang dan kesempatan kerja baru bagi masyarakat dan generasi-generasi kita kedepannya,” pungkas Sekda.

Dalam kegiatan tersebut, ikut hadir, Kakanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh, Safuadi beserta rombongan, forkopimkab Abdya, Staf Ahli, para Asisten, kepala SKPK dalam Lingkup Pemerintah Abdya serta para tamu undangan lainnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK