Wali Nanggroe Jelaskan Proses Perdamaian Aceh pada Mahasiswa Asal Papua

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pemuda Aceh dan Papua yang tergabung dalam dua organisasi berbeda, yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas Generasi Aceh untuk Perubahan (SIGAP) dan Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA) melakukan audiensi dengan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar di Meuligoe Wali Nanggroe, di Banda Aceh, Sabtu (16/11/2019)

Kedatangan dua lembaga kepemudaan di waktu yang bersamaan ini untuk mendengarkan langsung seluk-beluk proses damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI yang disepakati pada 2005 silam, hingga kiat mempertahankan perdamaian yang kini telah berusia 14 tahun.

Dari HIMAPA, Yuspani Asemki (FISIP Unsyiah) selaku Ketua Umum datang didampingi oleh rekan-rekan mahasiswa Papua yang kuliah di Aceh, antara lain, Tera Mirino (Fakultas Kedokteran Unsyiah), Oktavianus Yesnat (Fakultas Ekonomi), dan Yosimin Yikwa (FKIP). Sementara dari LSM SIGAP hadir langsung Samsuardi selaku ketua umum.

“Terima kasih Ayahanda Malik Mahmud, atas waktu yang telah diluangkan kepada kita. Sebagai mahasiswa Papua di Aceh, kita bangga bisa kuliah di sini dan senang bertemu Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh,” kata Yuspani.

Pada pertemuan tersebut Yuspani bersama rekan-rekannya sangat serius mendengar dan berdiskusi seputar pengalaman dan kiat Aceh yang dinilai sukses mengakhiri konflik dengan jalan damai, dan sukses merajut perdamaian pasca konflik. Selain itu, mereka juga berbagi pengalaman seputar pembangunan ekonomi di daerah asal mereka masing-masing.

“Mahasiswa Papua di Aceh lebih kurang berjumlah 74 orang. Selama berada di Aceh, kami semua diperlakukan secara baik tanpa ada diskriminasi. Malah di beberapa event festival budaya adat Aceh, Mahasiswa Papua pun ikut dilibatkan berpartisipasi,” lapor Yuspani kepada Wali Nanggroe.

Pada salah satu bagian diskusi, Wali Nanggroe menjelaskan secara rinci historis perjuangan Aceh dan kisah kedekatan emosionalnya dengan tokoh pejuang Papua Merdeka.

“Saat itu kita sempat berkolaborasi,” kata Wali Nanggroe, seraya menambahkan bahwa kini masyarakat Aceh sudah menyatukan diri dalam bingkai NKRI dan berkomitmen untuk membangun negeri secara bersama-sama.

“Saya sudah 80 tahun. Harapan saya, agar generasi muda Papua dan Aceh ke depan bisa merawat dan menjaga perdamaian yang telah dirajut. Kita harus memiliki prinsip, saat berjuang, kita komit berjuang. Tapi pada saat bersepakat damai, maka wajib kita buktikan dengan komitmen dan prinsip pada perdamaian,” kata Wali Nanggroe mengingatkan.

Menanggapi nasihat Wali Nanggroe, Ketua Umum DPP-SIGAP, Samsuardi, mengatakan pihaknya siap untuk ambil bagian dalam memperjuangkan butir-butir MoU Helsinki yang saat ini belum seluruhnya tuntas direalisasikan.

Usai diskusi yang berlangsung dalam suasana keakraban, Wali Nanggroe menjamu makan siang para mahasiswa yang tergabung dalam HIMAPA dan SIGAP.[]

KOMENTAR FACEBOOK