Kupiah Aceh Tembus Pasar Internasional

Kupiah Aceh @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kupiah Aceh yang diproduksi oleh ibu-ibu dari Kampong Kreatif Aceh di Gampong Lampeneurut, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar kini sudah menembus pasar internasional. Bahkan, bos maskapai internasional Air Asia, Tony Fernandes, pernah memesan secara khusus melalui salah satu koleganya di Malaysia.

Pembina Kampong Kreatif Aceh, Verawaty, mengatakan kupiah Aceh yang identik dengan kupiah meukeutop dan biasanya dipakai untuk melengkapi pakaian pengantin pria itu sengaja dimodifikasi supaya bisa dikenakan sebagai aksesoris pria sehari-hari.

Terbukti, sejak kupiah ini dikenalkan ke publik pada 2018 lalu permintaannya semakin meningkat. Tak kurang dari 500-an kupiah telah diproduksi dalam rentang waktu tersebut. Menariknya, kupiah ini justru lebih dulu ‘booming’ di luar Aceh dibandingkan oleh konsumen lokal di Aceh.

“Konsumen pertama kita itu malah konsumen nasional, bukan lokal,” ujar Verawaty saat berbincang dengan aceHTrend, Selasa (19/11/2019).

Vera mengatakan, selama ini konsumen produk kupiah Aceh sudah menjangkau ke Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Dalam waktu dekat ini kupiah Aceh yang dipasarkan dengan jenama Vee Design itu akan dikirim untuk pelanggan dari Korea.

Tagline kita adalah menjual Aceh di mana dan ke mana saja melalui produk-produk UKM seperti yang kami hasilkan ini,” ujarnya.

Sebagai produk hand made yang proses pembuatannya secara manual, diakui Vera agak kelimpungan dalam memenuhi permintaan pasar. Satu buah kupiah misalnya memerlukan waktu hingga 15 hari untuk memproduksinya. Sementara pengrajinnya masih sangat terbatas, dari sejumlah ibu-ibu yang diberi keterampilan khusus di Kampong Kreatif, hanya sekitar tiga orang saja yang menguasai pembuatan kupiah ini. Sisanya memiliki keterampilan lain seperti membuat kue-kue tradisional Aceh.

Ragam warna dan motif kupiah Aceh berjenama Vee Design @ist

Dalam pemasaran produk ia sangat terbantu oleh adanya promosi mulut lewat mulut yang dilakukan oleh para pelanggannya. Menurut alumnus Fakultas Ekonomi Unsyiah ini, 99 persen pelanggannya melakukan repeat order dan 98 persennya menjadi marketer untuk produk mereka.

“Di antaranya termasuk para pelaku usaha perhotelan di Banda Aceh. Kami beberapa kali mendapatkan pelanggan dari mereka,” katanya.

Untuk saat ini ada dua jenis kupiah yang diproduksi, pertama model bulat yang dijual seharga Rp350 ribu dan model lonjong seperti peci biasa dengan harga Rp250 ribu. Untuk memenuhi permintaan pasar, Verawaty juga memodifikasi warna-warna kupiah yang dihasilkan.

“Untuk warna bisa request khusus, begitu juga dengan motif, kalau mau pakai nama juga bisa, tetapi itu harganya juga khusus karena dikerjakan secara khusus pula,” katanya.

Beberapa motif yang tersedia saat ini adalah perpaduan dari motif batik, kunci, bintang, dan motif tenun.[]

KOMENTAR FACEBOOK