Cang Panah Problematika Pendidikan di Aceh

Ilustrasi @goresanrahman.com

Oleh Usman*

Suatu hari saya berdiskusi dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ia berprofesi sebagai seorang guru. Kami bertemu tanpa sengaja di sebuah warung kopi di pinggiran Kota Banda Aceh. Sudah menjadi kebiasaan, bila bertemu dengan teman pastilah ada cang panah alias berdiskusi lepas tanpa beban seperti yang lazimnya dilakukan di warung kopi.

Disuguhi secangkir kopi pancong, kami duduk paling pojok di warung itu. Mulailah kami membuka diskusi ringan dengan isu seputar pendidikan Aceh yang lagi hangat-hangat menjadi buah bibir dan sorotan masyarakat karena belum mampu meningkatkan mutu dan beranjak dari urutan terbawah dengan propinsi lain.

Dalam diskusi tersebut sambil tertawa-tawa mulailah kami mencoba mereka-reka persoalan substansi penyebab pendidikan di Aceh masih tertinggal dan selalu posisi paling di bawah dibandingankan dengan provinsi lain. Dalam diskusi lepas ini kami mencoba mengindentifikasi beberapa persoalan substansial pendidikan di Aceh yang belum mempunyai arah dan tujuan, sehingga belum mampu keluar berbagai ketinggalan dengan provinsi lain. Kami mengibaratkannya sebagai sebuah kapal yang berlayar, dalam kapal tersebut lengkap dengan logistik, tapi tidak tahu arah dan tujuan berlabuh. Pada akhirnya kapal tersebut terombang-ambing di lautan lepas, tidak tahu arah dan tujuan sehingga akhirnya tenggelam. Hehe …

Kami mulai dari pemangku kebijakan, dalam penempatan kepala dinas terkait dan perangkatnya, kami menilai masih sangat sarat kepentingan politik dan kekuasaan. Akibatnya penempatan dan penunjukan kepada dinas terkait baik di provinsi dan kabupaten/kota tidak tepat sasaran, tidak profesional, malah ada yang bukan bidangnya. Ini menjalar sampai ke bawah. Rotasi pejabat sampai ke kepala sekolah kena imbasnya, yaitu banyak daerah penunjukan kepala sekolah tidak dilihat dari kemampuan profesional, namun lebih pada tekanan politik, rekomendasi orang dalam lingkaran kekuasaan atau tim sukses.  

Kami beranjak pada masalah yang sangat mendasar adalah Kurikulum 2013. Kurikulum ini menurut hemat kami sangat rumit dan membingungkan, masih banyak guru belum mampu sepenuhnya menguasai dan mengimplementasikan dalam proses pembelajaran dalam kelas, akibatnya metode pembelajaran dari awal hingga proses pembelajara pun monoton dengan satu metode yaitu metode ceramah. Padahal dalam pencapaian proses pembelajaran metode menentukan indikator siswa dalam memahami materi-materi yang disampaikan guru.

Artinya metode yang sudah dirancang dalam rencana pembelajaran semester (RPS) tidak digunakan oleh guru, dengan berbagai faktor salah satunya adalah tidak sepenuhnya memahami Kurikulum 2013. Menyebabkan guru tidak kreatif dan capaian pembelajaran tidak maksimal, malah bisa jadi tidak berjalan sesuai RPS yang dirancang. Persoalan lain juga adalah RPS yang rumit, tidak sederhana, dan sangat tebal lembaran RPS-nya. Namun apa yang tertulis dalam RPS tersebut tidak sepenuhnya terlaksana, seharusnya sederhana dengan beragam metode dan kerativitas.

Pelaksanaan pengembangan SDM guru melalui pelatihan dan workshop masih sebatas seremonial dan output kegiatan masih pada penyerapan anggaran. Dalam kegiatan pelatihan tersebut banyak materi-materi yang disampaikan masih bertolak belakang dengan kondisi di lapangan dan membosankan kata sahabat saya itu, beda daerah akan beda masalahnya. Seharusnya penguatan materi-materi mata pelajaran misalnya dibuat survei awal untuk mengindentifikasi masalah dasar terkait dalam materi-materi pembelajaran. Sebagai pemecahan berbagai masalah yang sesuai kondisi lapangan untuk menjawab masalah di lapangan. Banyak guru mengeluh dalam kegiatan tersebut, menurut mereka membosankan dan terlalu dipaksakan materi-materi yang disampaikan, malah mereka ikut kegiatan tersebut hanya memenuhi kewajiban.

Kami juga berbicara soal prasarana dan sarana. Banyak sekali bantuan prasarana dan sarana ke sekolah-sekolah yaitu bantuan lab komputer, sarana olahraga, alat-alat laboratorium dan sebagainya namun tidak semua sekolah menggunakan sarana tersebut, kalau dicek atau inteventarisasi alat-alat bantuan tersebut ada yang masih berplastik, terbungkus dengan rapi, sudah rusak tidak terpakai, dan sebagainya. Akibatnya barang tersebut tidak terpakai dan menyebabkan siswa tidak paham mengunakan alat-alat teknologi. Lucu ha ha.

Keterlibatan masyarakat dan orang tua dalam pendidikan sekarang ini sangat kurang, padahal salah satu pakem pendidikan bermutu ada keterlibatan masyarakat dan orang tua dalam pendidikan. Terkesan sekarang pendidikan urusan guru, semua dilimpahkan ke guru, pendidikan tidak bermutu juga disalahkan guru, padahal ada unsur lain juga untuk mengantarkan pendidikan yang bermutu salah satu adalah unsur keterlibatan masyarakat.

Pendidikan kita dalam penilaian akhir hanya pada nilai dan angka-angka, sehingga proses pembelajarannya dari pagi hingga sore berkutat pencapaian nilai, prestasinya pada nilai angka tertinggi itu dianggap terbaik, padahal banyak unsur yang lain sebagai pendukung prestasi siswa.

Pengelolaan perpustakaan di sekolah masih sangat sederhana dan buku referensinya pun terbatas, menyebabkan minat baca siswa pun menjadi rendah.

Ini hanya diskusi dan cang panah kami berdua, apa yang kami diskusikan dan kami simpulkan dari apa yang kami bicarakan bisa jadi sebuah penilaian yang subjektif tanpa melihat indikator lain yang sudah berjalan. Ini hanya diskusi, gurauan, dan cang panah di warung kopi. Bisa jadi apa yang tersebut di atas tidak sepenuhnya benar.[]

Penulis adalah penikmat kopi dan dosen di Universitas Abulyatama Aceh Besar

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK