Harimau Malaya Terkam Garuda 2-0

Catatan Seputar Kualifikasi Piala Dunia 2022

Selasa 19 November 2019, merupakan momen yang jauh-jauh hari sudah dinantikan oleh pendukung tim sepakbola Indonesia dan Malaysia khususnya yang berdomisili di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Hari itu sudah ditetapkan sebagai waktu pertandingan kelima bagi kedua tim yang masuk ke dalam grup G Zona Asia Kualifikasi Piala Dunia 2022. Tiga tim lainnya dalam grup ini adalah United Arab Emirates (UAE), Thailand dan Vietnam.

Kami yang sudah sekian lama merantau di Malaysia juga begitu. Laga antara dua tim yang masing-masing berjuluk Harimau Malaya dan Garuda itupun selalu kami nantikan. Setiap ada kesempatan kami akan berusaha untuk menonton langsung laga yang sering disebut-sebut sebagai derbi Asia Tenggara.

Tercatat sudah beberapa kali kami menonton derbi kedua tim ini mulai tahun 2010 ketika Malaysia berhadapan dengan Indonesia di Final Pertama Piala AFF Suzuki 2010 yang dimenangi Malaysia dengan skor 3-0. Kali kedua tahun 2012 juga dalam ajang Piala AFF Suzuki, kali ini di babak penyisihan. Lagi-lagi Malaysia menang dengan kedudukan 2-0. Lalu pada Sea Games 2017 lalu ketika Harimau Muda berhadapan dengan Garuda Muda di semifinal. Kali ini Malaysia kembali menang 1-0 sehingga mereka pun melaju ke pertandingan final. Sayang di final Sea Games 2017, Malaysia kalah dengan tim Gajah Putih, Thailand dengan hasil akhir 1-0.

Singkat kata, bagi saya pribadi, sudah tiga kali menonton langsung Malaysia melawan Indonesia di mana ketiga-tiga kalinya pula timnas Indonesia mengalami kekalahan. Oleh karena itu saya juga sangat menantikan pertandingan kali ini, siapa tahu hasilnya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya atau malah saya kembali memperpanjang rekor kalah selama menonton timnas Indonesia ketika melawan Malaysia. Satu-satunya kemenangan timnas yang saya nonton secara langsung adalah ketika melawan Singapura di penyisihan AFF Suzuki Cup 2012 ketika gol tunggal Andik Virmansyah membawa Indonesia memenangkan pertandingan ketika itu.

Seperti biasa, ketika menonton bola saya selalu mengajak sahabat akrab dari Aceh yang sama-sama kuliah di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). Anak muda ini berasal dari Grong-Grong, Pidie. Dulu ia pernah menjadi pemain junior di PSAP Sigli. Kini anak muda ini dikenal mempunyai kepakaran dalam bidang Teknologi Informasi sehingga tidak heran di samping melanjutkan S3 di UIAM dia juga bekerja di salah satu perusahaan papan atas di Malaysia. Anak muda ini bernama Zeldi Suryady. Ketika kuliah di UIAM, kami sering memperkuat tim sepakbola PPI UIAM merajai blantika sepakbola antar pelajar Indonesia di Malaysia. Kelak di kemudian hari kami baru tahu, bahwa ternyata kami masih mempunyai ikatan keluarga. Itulah yang membuat persahabatan kami semakin akrab.

Untuk derbi Asia Tenggara pada 19 November 2019 ini, saya dan Zaldy pun kembali berencana membawa anak-anak kami untuk ikut bersama ke Stadion Bukit Jalil. Anak-anak kami pun selalu antusias ketika diajak untuk menonton bola secara langsung. Kami pun terus saja membeli tiket secara daring yang tentunya lebih mudah dan praktis. Benar saja, tidak perlu lama, dalam waktu 15 menit, kami sudah berhasil memesan tiket. Uniknya, sama seperti pengalaman sebelumnya, kali ini pun lokasi tempat duduk kami ada bersama-sama dengan para pendukung Harimau Malaya.

Satu hari sebelum pertandingan berlangsung, kami membaca berita bahwa seluruh tiket yang berjumlah 74,038 yang dialokasikan untuk pertandingan ini sudah pun terjual. Tren positif ini mungkin disebabkan pada 14 November 2019, Malaysia berhasil menundukkan Thailand dengan skor 2-1 di Bukit Jalil, dalam pertandingan kualifikasi sebelumnya. Di sisi lain, keberhasilan Malaysia menundukkan Indonesia pada pertandingan pertama kualifikasi yang berlangsung di Jakarta pada 5 September lalu juga meningkatkan animo pendukung Malaysia memberikan dukungan langsung untuk pasukan kebangsaan mereka sehingga bisa mengulangi prestasi gemilang di kandang lawan itu.

Di hari pertandingan, pada jam 5 sore seperti yang sudah kami sepakati sebelumnya, kamipun bertemu di stasiun LRT (Light Rapid Transit) Taman Melati. Lalu kami pun berangkat dengan menggunakan LRT KJL (Kelana Jaya Line) dari Taman Melati menuju ke stasiun Mesjid Jamek. Setelah melewati 11 stasiun kami pun sampai di Mesjid Jamek, lalu kami pun turun dari LRT KJL untuk naik ke LRT SPL (Sri Petaling Line) pula yang akan membawa kami ke stasiun Bukit Jalil yang berada di 10 stasiun berikutnya.

Dalam perjalanan itu, sejak dari Mesjid Jamek, LRT dipenuhi oleh para penumpang yang mayoritasnya sedang menuju ke Stadion Bukit Jalil sehingga aroma pertandingan itu sudah terasa sejak dalam perjalanan. Sekitar jam 6.15 sore, kami pun tiba di Stadion Bukit Jalil yang kapasitas sebenarnya adalah 87,411 penonton.

Begitu melangkah turun dari LRT, kami pun melihat penonton sudah sangat ramai. Ada yang langsung menuju ke pintu masuk sesuai dengan tiket yang sudah mereka beli. Banyak juga yang melihat-lihat di luar stadion sambil membeli berbagai pernak-pernik pertandingan yang banyak dijual oleh para pedagang di sana. Ada juga yang segera membeli makanan dan minuman untuk mengisi perut.

Kami juga ikut melihat-lihat suasana di sekitar stadion sambil mencari kostum tiruan yang banyak dijual di sana. Memandangkan kami nanti akan duduk bersama-sama dengan pendukung Malaysia, maka kami pun membeli replika kostum Malaysia untuk anak-anak kami. Ketika sedang memilih kostum yang sesuai, jalan menuju ke stadion tiba-tiba bertambah ramai dengan kehadiran pendukung Malaysia yang menamakan diri mereka Ultras Malaysia. Mereka yang jumlahnya ribuan itu berbaris teratur, lalu berjalan menuju ke stadion sambil menyanyikan yel-yel sorakan dan lagu-lagu yang menjadi ciri khas mereka.

Lirik yang mereka nyanyikan sewaktu berjalan bersama-sama masuk ke stadion terasa sangat menggelitik. Lirik sorakan itu mereka diberi nama ‘Kita Masuk Padang”. Liriknya lebih kurang seperti ini:
Kita masuk padang, dia cuma pandang-pandang
Kita tunjuk belang, dia lari lintang pukang
Oleee, Ole Ole Ole Ola…
Oleee, Ole Ole Ole Ola…
La lalalalalalalaa…
La lalalalalalalaa…

Begitu kami masuk ke dalam stadion dan duduk di tempat yang sesuai dengan yang tertera di tiket, suasana di sana sudah sangat bergemuruh. Ultras Malaya tidak berhenti melakukan berbagai koreografi dan berbagai yel-yel dukungan untuk pasukan kebangsaan mereka itu.

Sewaktu kedua tim masuk untuk melakukan pemanasan maka suasana di sana menjadi semakin riuh rendah. Kedua tim segera saja melakukan pemanasan sesuai dengan setting yang sudah diberikan oleh pelatih mereka masing-masing.

Ada sedikit catatan kecil bagi saya yang sedikit mengusik sewaktu sesi pemanasan dilakukan. Beberapa kali terlihat operan jarak jauh yang coba dilakukan oleh pemain timnas Indonesia tidak tepat dan kesalahan mendasar ini tidak patut dilakukan oleh pemain-pemain timnas manapun. Pemain timnas Indonesia juga melakukan pemanasan dalam tempo yang lebih singkat dibandingkan dengan yang dilakukan oleh pemain Malaysia.

Sesaat sebelum pertandingan dimulai, lagu kebangsaan kedua negara pun diperdengarkan. Para penonton di samping kami mungkin sedikit bingung melihat kami menyanyikan kedua lagu kebangsaan itu dengan sama baiknya. Mereka sebelumya juga sedikit bingung ketika kami menggunakan bahasa Aceh dalam mengomentari peluang kedua tim ini.

Sewaktu pertandingan dimulai, dalam 15 menit pertama permainan bisa dikatakan seimbang. Malaysia walaupun banyak menguasai bola tapi hanya lancar melakukan distribusi bola di daerah sendiri sampai ke tengah lapangan. Mereka terlihat sedikit kesulitan melakukan penetrasi ke jantung pertahanan Indonesia yang dikawal ketat oleh duo Yanto Basna dan Otavio Dutra, pemain naturalisasi asal Brazil yang baru kali kedua memperkuat timnas kita. Satu-satunya momen yang sedikit merepotkan pertahanan Indonesia adalah ketika Safawi Rashid melakukan tendangan penjuru yang mengarah terus ke gawang Indonesia sehingga harus ditepis bersusah-payah oleh kiper Indonesia, Muhammad Ridho.

Kurang tajamnya lini depan Malaysia ini bisa jadi disebabkan oleh absennya ujung tombak mereka Syafiq Ahmad yang terkena akumalasi kartu kuning. Untuk menyiasati kondisi ini, pada mulanya Sumareh digeser ke posisi ujung tombak dengan sayap kanan ditempati oleh Safawi Rashid dan sayap kiri oleh Akhyar Rashid. Formasi ini kurang berhasil dalam membongkar pertahanan Indonesia sehingga begitu babak kedua dimulai Akhyar Rashid pun diganti dengan Mat Yo, striker kawakan yang mulai dimakan usia. Mat Yo pun bermain sebagai ujung tombak, sementara Sumareh kembali bergeser ke sayap kiri, posisinya selama ini.

Indonesia sendiri sempat memperoleh peluang emas yang seharusnya membuahkan gol. Greg Nwokolo yang bergerak dari tengah lapangan berhasil melewati beberapa pemain tengah dan bawah Malaysia sebelum memberikan umpang matang yang menempatkan Febri Haryadi berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan. Sayang tembakan Febri dapat diselamatkan oleh Khairulazhan walaupun kemudian ia terpaksa diganti karena mengalami cedera hamstring saat menyelamatkan bola itu.

Tak lama setelah itu berawal dari pelanggaran yang tidak perlu yang dilakukan oleh Yanto Basna terhadap Safawi Rashid, timnas Malaysia membuka keunggulannya. Tendangan bebas cantik nan akurat yang dieksekusi oleh Safawi dengan kaki kirinya membuat bola melewati pagar hidup yang dibuat pertahanan Indonesia dan menerjang jaring gawang walaupun Ridho sudah berusaha keras menjangkaunya. Gol berkelas dunia ini pun membawa Malaysia unggul 1-0 sehingga babak pertama usai.

Sebelum babak pertama berakhir Indonesia sempat kembali mendapatkan peluang untuk mencetak gol. Tendangan bebas yang diarahkan ke Otavio Dutra berhasil disundul olehnya untuk mengarahkan bola ke depan gawang di mana Yanto Basna dan Greg Nwokolo sudah menunggu. Bola itu akhirnya disambar oleh Greg Nwokolo dan mengarah menuju ke sudut kiri gawang Malaysia, namun sayang kapten tim negeri jiran itu, Aidil Zafuan, dapat melakukan penyelamatan gemilang sehingga selamatlah gawang Malaysia.

Pada babak kedua, Malaysia semakin mendominasi permainan dengan serangan bertubi-tubi ke kubu Indonesia. Timnas kita sendiri kemudian mencoba melakukan pertukaran pemain untuk memberikan nafas baru. Sayangnya, bagi saya pribadi, pelatih sementara timnas Yeyen Tumena melakukan kesalahan dengan menarik keluar Greg Nwokolo dan memasukkan Osas Saha.

Greg malam kemarin merupakan salah satu pemain terbaik Indonesia. Pergerakannya dengan atau tanpa bola cukup merepotkan lini pertahanan Malaysia. Ketika Greg berjalan keluar dan menuju ke bangku cadangan, dia mendapatkan tepuk tangan dari sebagian penonton Malaysia sebagai apresiasi atas kualitas yang dia miliki.

Pada menit ke 73, Malaysia berhasil mencetak gol kedua yang merupakan kombinasi dari blunder yang dilakukan oleh kapten timnas Yanto Basna dan kecerdikan Safawi Rashid merebut bola dari kawalan Yanto yang diakhiri dengan tendangan keras kaki kiri dari sudut sempit yang kemudian kembali menggetarkan jala gawang Indonesia untuk kali kedua. Setelah gol itu beberapa kali Safawi memperoleh kesempatan untuk mencetak hattrick tapi semua gagal termasuk satu tembakan kaki kirinya yang membentur tiang kanan gawang Indonesia.

Timnas Indonesia juga memperoleh peluang emas dari titik penalti untuk memperkecil ketinggalan. Penalti itu diperoleh dari akselarasi Febri yang menusuk ke kotak penalti Malaysia setelah menerima umpan dari Otavio Dutra yang juga melakukan gerakan menarik menembus lini tengah Malaysia dengan solo run dari lini belakang pertahanan kita. Gerakan Febri itu dihentikan dengan pelanggaran oleh kiper Malaysia, Farizal Marlias, sehingga membuat wasit menunjuk titik putih. Sayangnya tendangan penalti yang lemah oleh Osas Saha ke sisi kanan kiper dapat ditangkap dengan sempurna oleh Farizal Marlias.

Pertandingan inipun berakhir dengan dua gol tanpa balas untuk kemenangan Malaysia. Hasil ini memang sudah diprediksikan sebelum pertandingan mengingat Harimau Malaya berhasil mengalahkan Thailand di pertandingan sebelumnya, sementara Indonesia sudah mengalami kekalahan empat kali berturut-turut dalam pertandingan kualifikasi grup G ini.

Kemenangan tadi malam membuat Malaysia berada di tempat kedua dan membuka peluang melaju ke babak selanjutnya dalam kualifikasi Piala Dunia 2022, sedangkan untuk tim Garuda kekalahan kali kelima ini otomatis membuat tim ini sudah masuk kotak.

Di akhir pertandingan saya juga mencatat satu momen istimewa ketika pemain-pemain Malaysia berjalan mengelilingi stadion untuk memberikan penghormatan untuk pendukung-pendukungnya yang sudah memberikan dukungan tiada henti sepanjang laga berlangsung. Tepat ketika berada di depan tribun di mana Ultras Malaya ditempatkan, pemain timnas Malaysia berhenti dan berdiri dalam satu barisan. Lalu mereka bersama-sama Ultras Malaya kembali menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia. Setelah itu pemain timnas Malaysia bergerak masuk ke ruang ganti sedangkan Ultras Malaya pun berangsur bergerak keluar dari stadion. Hubungan erat antara punggawa timnas Malaysia dan kelompok pendukung setia yang menamakan diri mereka Ultras Malaya layak diberikan acungan jempol.

Untuk timnas Indonesia pula, terhentinya langkah ketika masih ada tiga partai sisa memang sangat menyakitkan. Mungkinkah ini sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan sepakbola kita. Betapa tidak, dari segi talenta dan ‘pool’ pemain yang ada, kita mungkin masih yang terbesar di Asia Tenggara. Timnas usia kelompok umur mulai dari U16, U19 sampai U23 pun punya prestasi yang baik. Namun begitu masuk ke timnas dewasa, prestasi segera merosot tajam. Mungkinkah ini juga akibat seringnya gonta-ganti arsitek timnas, ataukah pemilihan pemain yang masih menganut faktor suka atau tidak suka, ataukah ini merupakan cerminan karut-marutnya sepakbola Indonesia yang perlu dibenahi dari semua sektor? Semoga pimpinan PSSI yang baru mau melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas dunia sepakbola di Indonesia sehingga mimpi timnas ke pentas Piala Dunia dapat diraih di masa depan.