Belajar di Era 4.0: Tidak Melulu “High-Tech”

Saiful Akmal

Di era Revolusi Industri (RI) generasi 4.0, dunia bergerak ke arah yang semakin maju dalam semua aspek. Hal ini tentu memberi dampak masif ke dunia pendidikan yang harus menyiapkan kualitas sumber daya manusia terlatih dengan sangat baik, karena semuanya sekarang sudah berbasis daring, big data, transformasi digital (Ustundag & Cevikcan, 2017). Bukan hanya tujuan pendidikan, proses pembelajaran juga akan harus terus beradaptasi. Jika pendidik lambat menyesuaikan kemampuan, sikap serta keterampilan dalam memanfaatkan teknologi dalam pengajaran, dikhawatirkan dalam beberapa waktu ke depan profesi pendidik akan dengan mudah digantikan dengan kelas belajar daring, seperti Ruang Guru, Coursera, dan sejenisnya.

Namun demikian, di tengah disrupsi dunia pendidikan ini, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab selain terkait kesiapan kita untuk beradaptasi. Apakah ini memang sebuah hit atau hype? Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Drath & Horch (2014), jangan-jangan kita begitu reaksioner terhadap terminologi RI 4.0 yang pada akhirnya membuat kita latah dan tidak substansial. Padahal sebelumnya juga muncul istilah e-learning, yang kalau merujuk ke analisis Huba & Kozak (2016) bisa menjadi sekedar slogan overlap dengan RI 4.0.

Apabila kita kembali ke akar dari makna pendidikan, salah satu prinsip mendasar adalah bahwa pendidikan itu mengajar siswa, bukan mengajarkan materi. Konsekuensinya adalah bahwa hal pertama yang perlu dilakukan dengan baik adalah pengkondisian, bukan hanya atmosfer intelektual, tapi juga atmosfer sosial dan emosional di dalam kelas agar siswa siap menjadi pemelajar (Ambrose, dkk, 2010). Anggraeni (2018) percaya bahwa atmosfer kelas yang kondusif secara sosial dan semangat dialog sangatlah menentukan untuk keberlanjutan proses pendidikan. Dalam kelas berbasis e-learning, seorang pengajar perlu memastikan bahwa atmosfer kondusif tetap terbangun lewat berbagai cara seperti forum diskusi daring yang interaktif, maupun kehangatan dan empati pengajar yang disampaikan di video atau platform pengajaran (Junus dkk., 2015).

Selanjutnya, keberadaan RI 4.0 tidak seharusnya membuat proses belajar mengajar menjadi begitu searah. Namun sebaliknya, mengedepankan proses reflektif terus menerus antara pengajar dan pemelajar. Untuk itu umpan balik dan refleksi diri dan kelompok menjadi sangat krusial (Farrel, 2015). Semua kecanggihan teknologi harusnya memudahkan pengajar untuk mengeksplorasi banyak umpan balik dan pengalaman bermakna dari peserta didik (Hussin, 2018), misalnya dengan kuis dan evaluasi mahasiswa daring, analisis data forum diskusi, maupun instrumen daring lainnya.  Dengan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan pembelajaran, maka resistensi terhadap hal baru dapat diminimalisir (Dinkelman, 2009).

Kemampuan berinteraksi sosial dalam bentuk penilaian bersama, atau kolaborasi proyek kelas juga dapat menjadi sebuah pengalaman berharga dalam pembelajaran.  Metode seperti ini adalah bagian dari evaluasi berkelanjutan yang bisa membantu peserta didik untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan mereka secara lebih alami, sekaligus memahami bagaimana menyelesaikannya melalui refleksi yang terus menerus sebagai bagian terpenting dari proses pembelajaran (Yorke, 2003). Praktik pedagogi semacam ini membutuhkan penguatan kebijaksanaan kolektif yang pada akhirnya, meski ini terdengar sedikit klasik, akan membantu peningkatan performa peserta didik (Walker & Angelo, 1998).

Lebih jauh lagi dalam konteks pendidikan tinggi RI 4.0 harus membawa lebih banyak makna dibandingkan pendidikan tradisional. Lewat metode pengajaran yang inovatif, pendidik dan calon pendidik merefleksikan kepada siswanya tentang perlunya respons yang tanggap terhadap perubahan teknologi dan secara cerdas terus berinisiatif tinggi dan kreatif dalam segala aspek kehidupan (Puncreobutr, 2016; Mason & Williams & Cranmer, 2009). Selain itu, pembelajaran cerdas (smart education), tidak melulu perkara penggunaan media belajar yang canggih, namun juga lebih bisa mendorong kemampuan pemelajar untuk membangun kemampuan metakognisi yang konstruktif. Berbekal materi pembelajaran yang dapat akses kapan saja di mana saja dan didukung dengan umpan balik yang kontinyu, sang pemelajar diharapkan dapat membangun kemampuannya menjadi pemelajar yang utuh.

Harapannya adalah, dalam era globalisasi dan disrupsi yang menjadi norma abad ini, pendidikan bisa menghasilkan manusia yang mampu berpikir kritis, mengubah pendidikan dan sekaligus memperbaiki hasil akhir (Horton-Deutsch & Sherwood, 2017). Pembelajaran bukanlah hanya upaya mencapai hasil akhir monodisipliner dengan mengabaikan proses. Namun, pada akhirnya, pendidikan, baik “konvensional” maupun “modern”, diukur berdasarkan kemandirian peserta didik dalam upaya memahami dan membangun pengetahuannya secara mandiri dan utuh. Mereka diharapkan mampu memperkuat kepercayaan diri,  nilai-nilai budaya dan pendekatan antar disiplin dalam menyelesaikan masalah (Howlett, Ferreira & Blomfield, 2016)

Singkatnya, pendidikan di era 4.0 memang menuntut kita untuk mengembangkan kemampuan individu agar kompetitif. Namun proses pendidikan yang demikian menuntut kita lebih kreatif dan pada saat yang sama lebih relevan secara sosial dan mampu mencari alternatif penyelesaian masalah secara lebih manusiawi dan bijaksana. Karena secanggih apapun teknologi yang terus berkembang dan saling menggantikan, itu semua dikendalikan oleh manusia. Dan manusia secara alami adalah makhluk sosial dan reflektif, oleh karenanya fokus belajar itu ada pada manusianya, pada cara mengajar manusianya, dan cara mereka menerima pembelajaran. Teknologi tinggi hanyalah salah satu media pembelajaran yang membantu, bukan yang utama.[]

Penulis adalah peneliti The Aceh Institute dan Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK