Persiraja

Mustafa memakai nomor punggung 6, penyelamat penulis dari hukuman guru olah raga. Foto, tim Persiraja ketika di Stadion Tambak Sari. @persiraja_history

Bagi saya, yang tumbuh sebagai pendukung Persiraja di era 90-an, melihat tim ini menyenangkan, sekaligus memilukan. Sebab, selalu ada perasaan bangga menyelinap melihat tim ini bermain, sekaligus masygul melihatnya lama terpuruk.

Persiraja hadir, saat itu, sebagai tim yang diperhitungkan, walaupun hanya dengan materi pemain lokal. Ingatan saya tidak terlalu kuat, kapan awal mula Persiraja memakai pemain asing. Akan tetapi, apabila melihat foto-foto lawas Persiraja, berjejer pemain asli Aceh, dari berbagai kabupaten/kota. Jadi, wajar, kala itu, Persiraja menjadi tim Aceh. Sampai-sampai Tabloid GO menulis judul di halaman muka, “Aceh takluk di Bandung?”.

Kala itu, di Liga Indonesia I, Persiraja mengejutkan publik nasional, ketika mengalahkan tim-tim papan atas. Mulai dari Pelita Jaya dan Persita Tanggerang di stadion Lampineung, sampai Persija Jakarta di stadion Menteng. Persiraja memang kemudian takluk di Bandung, dikalahkan oleh Persib. Klub yang kemudian menjadi juara Liga Indonesia I. Bahkan berturut-turut, setelahnya, Persiraja kalah. Tapi itu bukan persoalan. Persiraja tetap dinanti.

Di setiap musim Liga Indonesia, selalu saja ada kegembiraan melihat tim ini bertanding dan berlatih. Saya, bersama teman-teman, saat itu, selalu saja menyempatkan hadir di setiap pertandingan. Melawan tim mana pun. Bahkan juga saat Persiraja berlatih. Hampir setiap sore. Karena tidak pernah alpa ke stadion, wajah saya pun dikenal oleh pemain Persiraja. Mustafa Jalil namanya. Pemain ini lincah dalam menggocek bola. Bersama adiknya, Dahlan Jalil, selalu menjadi pemain pilihan utama tim, siapapun pelatihnya.

Satu pagi, saya terlambat ke sekolah. Kebetulan sekolah saya dekat dengan stadion Lampineung, yang juga menjadi mess pemain. Untuk memotong waktu, agar lebih singkat, saya jalan kaki melewati stadion. Lamat-lamat, saya melihat Mustafa Jalil. Dia mengendari Honda Supra terbaru, dengan baju dinas. Tiba-tiba, tidak saya sangka, dia menawarkan boncengan. Mengantar saya ke sekolah. Jantung berdegup. Jelas gugup. Pemain yang biasanya dilihat dari tribun, kini sudah di depan. Bahkan diajak bicara. Topiknya tentang Persiraja. Sampai di depan sekolah, saya sudah ditunggu oleh guru olahraga. Beliau terkenal keras. Biasanya, kalau ada siswa yang terlambat, akan kena hukuman. Tapi pagi itu, saya bernasib baik. Guru olahraga itu melihat saya diantar oleh Mustafa, pemain Persiraja. Tidak disangka, saya selamat dari hukuman. Bahkan setelah itu, dia menjadi ramah. Saya memang beberapa kali melihatnya di stadion Lampineung, baik Persiraja berlatih, maupun bertanding. Satu waktu, mungkin karena penasaran, dia bertanya. Apakah saya adiknya Mustafa Jalil. Saya menjawab, bukan. Saya berfikir, jangan-jangan dia kecele, sebab selama ini berfikir kalau saya adik pemain Persiraja, klub kebanggaan orang Aceh itu, jadi harus diperlakukan dengan baik.

Kini, apa yang dulu selalu dikenang, terutama oleh generasi yang tumbuh melihat Persiraja begitu diperhitungkan di panggung sepakbola nasional, sudah kembali terwujud. Persiraja kembali ke kasta tertinggi sepakbola nasional, Liga-1. Selalu ada harapan, bahwa kenangan lama itu kembali lagi. Bahwa kita, di Aceh, kembali menyaksikan tim sepakbolanya sejajar dengan klub-klub dari belahan bumi Indonesia lainnya.

Selamat untuk kita semua, Persiraja telah kembali. Lantak laju!

KOMENTAR FACEBOOK