Lawan

Setelah buku keduanya laku keras di pasaran, Of Time and the River (1934), Thomas Wolfe sangat girang sekali. Dijemput oleh editornya, Max Perkins, di pelabuhan New York setelah kepulangannya dari liburan Eropa, dia pun merayakan keberhasilan bukunya itu. tidak lama, keceriaannya mendadak hilang. Amerika, yang dia banggakan dengan meluap-luap itu, terjerembab dalam depresi besar. Orang-orang-pun harus antri untuk mendapatkan roti.

“Lalu untuk apa aku menulis? Siapa yang akan membaca buku-ku,” kata Wolfe kepada editornya itu. Lalu Max menjawab dengan sebuah cerita.

“Pernah dahulu, ketika malam memasuki waktu. Orang lalu masuk gua untuk tinggal di malam itu. dan menyalakan api unggun. Kemudian, terdengar lah suara lolongan serigala. Semua yang berada di dalam gua ketakutan. Sampai kemudian datang seseorang yang mulai bercerita kepada semua yang berada di gua. Dan meredalah ketakutan semuanya itu. Jadi jangan berhenti untuk menulis.”

Lakon yang saya ceritakan di atas saya dapati di film Genius (2016). Max perkins, diperankan oleh Colin Firth. Aktor yang membuat kita terhempas batin ketika memerankan King George IV secara menawan, di dalam film The King’s Speech. Sedangkan Thomas Wolfe diperankan oleh Jude Law, aktor yang setia memerankan Dr. John Watson dalam film Sherlock Holmes.

Pertanyaan Thomas Wolfe ini juga mungkin akan menjawab pertanyaan kita terhadap Albert Camus yang menulis surat-surat kepada teman Jerman imajinernya, — tentu yang dimaksud untuk Nazi. Ketika negara itu membuat Perancis bertekuk lutut tanpa perlawanan sama sekali.

Surat-surat camus yang dimuat dalam buku Krisis Kebebasan (1988) menceritakan tentang kemerdekaan diri secara otonom dan sekaligus pernyataan untuk tidak tunduk.

Menulis, tentu yang dituangkan adalah gagasan, adalah cara untuk menjelaskan eksistensi diri di hadapan raksasa sekalipun, seperti yang Camus lakukan pada pengalaman Perancis pada Perang Dunia ke II. Raga terkurung tapi tidak dengan jiwa. Menulis untuk merawat keberanian, ketika serigala menyeruak, seperti yang dikisahkan Perkins kepada Wolfe – sehingga menimbulkan ketakutan, tulisan hadir seperti sang pencerita.

Menulis, atau terjemahan membuat narasi, merupakan cara perlawanan yang paling efektif, karena yang disasar adalah pencerahan batin, sekaligus membangkitkan kesadaran. Ketika Aceh ditekuk Belanda, maka kalangan intelgensia di masa awal memproduksi pemikiran, untuk melawan. Begitu juga dengan Wiji Tukul. Puisi-puisinya menjadi energi perlawanan. Bahkan menjadi reasoning mengapa perubahan perlu dilakukan.

Pada titik inilah, tulisan telah menjadi narasi. Dia menjadi senjata karena memberi pengaruh terhadap cara berfikir dan bertindak. Dalam teori gerakan sosial, narasi itu disebut framing, pembingkaian. Mengenai sebuah gagasan yang hendak diperjuangkan.

Narasi juga cara melawan yang paling senyap. Keberadaannya ada, namun tidak terlihat. Tapi selalu menghantui.

KOMENTAR FACEBOOK