Film Dua Garis Biru: Perlu Ditonton agar Pendidikan Seks Tidak Tabu

Oleh Adli Dzil Ikram*

Film yang akan kita ulas ini, menuai kontroversi dari masyarakat sebelum penayangannya. Penolakan yang berbentuk petisi online dan nyinyiran dari media sosial sebelum film itu dirilis pertama kali, 11 Juli 2019. Film ini dianggap dapat memprovokasi perilaku seks bebas bagi anak-anak remaja. Padahal, film yang berdurasi 113 menit ini memiliki tujuan sebaliknya, yakni menunjukkan betapa mengerikannya berhubungan seks sebelum menikah. Apa lagi, jika yang merasakannya itu anak sekolahan seperti yang diceritakan dalam film ini, ada banyak kehidupan orang lain yang ikut terlibat dan susah. Well, sekarang kontroversi itu harus dibuat pesta. Film ini menjanjikan kenyataan-kenyataan yang sangat dekat dengan kita dan mungkin malas untuk kita bicarakan.

Saya menonton beberapa wawancara sang nakhoda dalam film ini, Gina S. Noer. Ia mengatakan bahwa draf pertama naskah film ini sebenarnya selesai ditulis pada tahun 2010. Namun, sang sutradara memilih untuk tidak melanjutkannya karena ia belum bisa mengakhiri ceritanya dengan bijak. Dan pada tahun 2018, skenario itu selesai. Setelah menontonnya, saya merasakan kebijakan Gina terhadap ending film ini, bahwa anak memang harus dirawat dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya sendiri.

Film yang-bagusnya-bangsat-ini adalah debut perdana Gina sebagai seorang sutradara. Meskipun begitu, ia menyajikan visual yang apik dan menarik dan metofora-metofora yang membuat kita ternganga. Gina memang tidak asing dalam industri perfilman Indonesia, ia kerap menulis skenario film yang berjuta-juta penontonnya. Seperti Ayat-ayat Cinta (2008), Habibie & Ainun (2012), Posesif (2017), dan Keluarga Cemara (2018). Dua Garis Biru sendiri berakhir di dua juta setengah penonton. Angka banyak untuk sebuah film kontroversi.

Anak-anak di kelas diam. Seorang guru menanyakan nilai hasil ulangan, dari angka 100 hingga 40. Dara (Zara JKT48) mendapat angka seratus, sedangkan Bima (Angga Yunanda) yang duduk di sebelah Dara mendapat nilai terendah. Itu adalah scene pembuka pada film ini. Adegan ini memperkenalkan kedua karakter utama itu, bagaimana latar belakang keluarga mereka dan akan memengaruhi cara berpikir keduanya dalam menyelesaikan sebuah masalah yang sangat kompleks. Dari gerak-gerik tubuh yang diperankan Zara dan Angga, saya dapat membaca dengan jelas, bahwa karakter Dara dan Bima adalah anak baik-baik dengan latar belakang keluarga yang bertolak-belakang.

Bima terlahir dari keluarga yang sederhana dan tinggal di gang-gang kecil Jakarta. Sedangkan Dara terlahir dari keluarga kaya, dan tinggal di rumah mewahnya.

Bel berbunyi, murid-murid pulang. Bima pulang ke rumah Dara. Dan di rumah Dara tidak ada orang satupun. “Bibi!..Bi!” pangil Dara. Bibi tidak menyahut. Setelah bermain-bermain di ruang bawah, Dara mengajak Bima ke atas, kamar Dara. Mereka menaiki tangga yang berkelok-kelok–seperti ular melilit di batang pohon. Setelah menonton filmnya, saya berpikir bahwa adegan itu, adalah metofora sang sutradara untuk mengatakan bahwa kisah yang berliku akan segera dimulai sehabis mereka menaiki tangga itu dan masuk ke kamar Dara.

Awalnya saya kecewa dan bertanya-tanya, sebagai film yang katanya film sex education, mengapa tidak diperlihatkan adegan seksnya. Bahkan adegan ciuman Dara dan Bima langsung di-cut to saat mereka sudah dalam selimut. Ya, dengan penolakan netizen–yang maha benar–saya rasa adegan itu agak berat. Atau barangkali ada, tapi dipotong. Toh, setelah saya menonton Dua Garis Biru, ternyata film ini lebih memperlihatkan akibat dari seks bebas dengan karakter utama anak remaja yang kurang pengetahuannya terhadap seks, sekaligus hubungan orang tua yang renggang terhadap anaknya. Dan tentang bagaimana menjadi orang tua.

Toh, Gina menjelaskan adegan itu dengan satu kalimat Bima ke Dara, “Kamu tadi sakit ya Dara?”

Saat Bima dan Dara dibalut selimut, saat itu pula emosi dalam film langsung berubah tegang sepanjang film, yang semula dipenuhi keceriaan ketika mereka bercanda gurau di rumah Dara. Bagaimana mereka merahasiakan hal ini? Bagaimana mereka menyelesaikannya? Raut wajah Dara memperlihatkan penyesalan setelah melakukan kenikmatan dunia itu. Kalau nasi sudah jadi bubur, mau gimana lagi? Begitu kira-kira nasihat yang sering saya dengar dari guru saya, untuk mengantar nasihat dalam keadaan penyesalan seperti itu.

Mata kamera berpindah ke sekolah lagi. Bima menyentuh tipis jari-jemari Dara. Dara agak bergeser, suasana diwarnai ketegangan yang rumit. Dara mengakat tangan, “Pak saya izin ke UKS ya.” Ia berbaring di sana. Kamera perlahan mengarah ke arah dinding di belakang kasur Dara. Sungguh, saya tercengang pada bagian itu. Ada poster reproduksi alat kelamin manusia di sana. Saya teringat masa sekolah dulu, betapa poster itu hanya saya lihat dan tidak dijelaskan dengan baik. Ini semacam pukulan bagi setiap guru dan orang tua yang dikemas dengan visual storytelling yang baik.

Ada long short di ruang UKS. Saat rahasia mereka sudah diketahui publik sekolah dan kedua orang tua mereka datang. Betapa sulitnya adegan itu, tapi Gina membuatnya dengan sangat rapi. Adegan itu juga puncak dari petualangan masalah ini dimulai. Jika Piala Citra ada nomisi adegan terbaik dalam film, maka adegan ini patut untuk menang.

Tidak ada plot twist atau semacamnya dalam film ini. Kekuatan film ini terdapat pada gaya bercerita yang sangat baik, dengan cara show not telling—tidak menjelaskan tapi memperlihatkan. Ada banyak dialog yang memukul kebiasaan-kebiasaan orang tua yang barangkali sebenarnya salah. Sejuah ini, Dua Garis Biru keluar sebagai best film, best script, dan best director di JAFF Indonesian Screen Awards 2019 dan mendapatkan 12 nominasi sekaligus di Festival Film Indonesia (FFI). Ini keberhasilan yang patut dirayakan Gina untuk debutnya sebagai sutradara. Gina membahkan daftar pendek sutradara wanita di Indonesia.

Stowbery dan Jembatan

Barangkali ada banyak metafora di film yang tak dapat saya tangkap. Saya sangat suka dengan cara Gina menjelaskan sejauh mana waktu sudah berjalan di film ini melalui umur kandungan Dara. Dara meletakkan buah strowbery di perutnya yang berisi janin sebesar buah tersebut—sebelumnya diperlihatkan layar laptop yang baru saja digunakan Dara untuk mencari tahu sebesar apa kandungan jika berumur sepuluh Minggu. Sekali lagi, saya sangat suka bagian ini.

Dara tinggal berhari-hari di rumah Bima setelah adegan menegangkan di ruang UKS itu. “Kamu mau bertanggung jawab kan! Mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab,” ungkap ibu Dara pada Bima dan meninggalkan Dara di ruang UKS bersama Bima dan keluarganya. Lalu kemudian Dara tinggal di rumah orang tua Bima. Sebuah lingkungan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, penuh dengan karut-marut, melewati jembatan sebelum akhirnya masuk ke gang-gang kecil kehidupan lain Jakarta.

Ketika suatu hari orang tua Dara menjemputnya, orang tua Dara menunggunya di jembatan yang sama, dilewati Dara saat ke rumah Bima. Keluarga Bima mengantarnya ke jembatan itu, bertemu ibu-bapaknya, tentu itu setelah keadaan mereda. Mengapa orang tua Dara tidak menyusuri gang-gang kecil itu? Mengapa orang tua Dara tidak langsung datang ke rumah Bima? Mengapa harus menunggu di jembatan?

Saya berasumsi, itu adalah kritikan Gina terhadap kelompok manusia yang tidak mau melihat lebih dalam dan langsung mengambil kesimpulan. Orang tua Dara tidak ingin melihat bahwa ada kehidupan lain setelah melewati jembatan itu. Pada bagian itu, saya teringat program #AsumsiDistrik yang dipandu Dea Anugrah. Memperlihatkan bagaimana kehidupan di gang-gang kecil dan kumuh sudut-sudut Jakarta.

Akhirul kalam, saya rasa film ini harus diputar di sekolah-sekolah sebagai percakapan awal untuk membicarakan pendidikan seks. Semua perlu menontonnya supaya tidak menjadi tabu. Sekian! Oh ya, film ini juga bisa diakses di aplikasi Iflix lo.[]

Adli Dzil Ikram, penikmat film, mahasiswa Arsitektur UIN Ar-Raniry

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK