Nomophobia

Miswari.

Oleh Miswari*

Seorang anak tujuh tahun di Aceh Utara tiba-tiba jatuh saat hendak berdiri. Ternyata dia menjadi lumpuh akibat otaknya terganggu karena terlalu sering main gawai pintar.

Puluhan remaja di Bogor terganggu jiwanya akibat gadged. Ditemukan ratusan pasien rumah sakit jiwa mengalami gangguan jiwa akibat gadged. Pecandu smartphone terbanyak adalah di Asia, dengan tertinggi di Korea Selatan dan Indonesia. 

Lebih lima puluh persen remaja pria dan wanita mengalami kecemasan apabila tidak membawa hape atau kehabisan baterai. Mereka disebut mengidap nomophobia (no: tidak, mo: mobile, phobia: ketakutan). Pengidap nomophobia adalah mereka yang merasa cemas, gelisah, khawatir, apabila tidak memegang atau membawa hape. Nomophobia disebut juga dengan smartphone addiction, yaitu kecanduan ponsel pintar. 

Bila seseorang sudah mulai bingung, bosan, gelisah, kalau tidak membawa, kehabisan baterai, kehabisan data, tidak ada jaringan, dan sebagainya dengan gadged-nya, maka dapat dikatakan dia sudah mulai mengidap nomophobia.   

Orang yang sudah kecanduan gadged mengalami kelainan di otak. Sehingga banyak fungsi tubuhnya menjadi tidak stabil. Dia akan mengalami gangguan selera makan, ketidakmampuan pengendalian emosi, ketidakmampuan membedakan kenyataan dan ilusi, mudah stres, dan cemas. Sementara itu, dampak sosialnya adalah menjadi tidak suka berinteraksi dengan orang lain. 

Nomophobia adalah penyakit yang sangat berbahaya. Kalau sedang asyik dengan gadged, seseorang akan menunda ke kamar mandi, meski sudah sangat mendesak. Di Bogor bahkan seorang mahasiswa semester delapan, sudah tidak bersedia lagi ke kamar mandi. Dia sekarang buang hajat di tempat tidur. Makanannya selalu dihantar. 

Nomophobia-lah yang membuat seorang cucu menebas leher neneknya karena tidak sanggup membelikan ponsel pintar. Penyakit ini menambah angka kekarasan, pencurian, dan gangguan kejiwaan. 

Nomophobia coba diobati dengan berbagai pendekatan. Obat-obatan, baik herbal maupun bukan, coba digunakan. Obat tidur bagi yang sudah insomnia, obat anti cemas, dan obat penenang, menjadi andalan. Pendekatan psikoterapi juga dicoba. Terapi tindakan, terapi interpersonal, terapi komunikasi interpersonal, terapi keluarga, psikoanalisa, dan terapi humanistik juga coba ditawarkan. Bahkan lembaga-lembaga bersimbol keagamaan juga coba menangani masalah ini. Tetapi hasilnya tidak menyenangkan. 

Kecanggihan teknologi sering melemahkan kecerdasan otak manusia. Banyak alat teknologi membuat otak manusia kehilangan potensi besarnya. Otak dibuat lemah oleh beberapa alat teknologi. Sehingga manusia menjadi kalah ketika berhadapan dengan barang yang diproduksinya sendiri. 

Sering sekali anak dan remaja kecanduan gadged karena kekurangan perhatian dari orangtuanya. Orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan. Pulang ke rumah sejenak juga dimanfaatkan waktu untuk bermain gadged. Anak akan suka meniru orangtua. 

Anak harus diberi perhatian lebih. Mereka harus sering diajak bermain bersama orang tua. Jauh dengan gadged.  

Dalam hal ini, manusia harus menghadapi tantangan dunia kecerdasan buatan (artifisial intelligence, AI). Tantangan ini dimulai dengan kesadaran bahwa landasan produksi teknologi adalah sebagai alat untuk membantu kerja manusia. Jadi, semua teknologi adalah pembantu manusia, mereka hanya benda-benda yang berada di bawah kendali manusia. Jangan sampai kita dikendalikan oleh benda-benda. 

Dalam dunia AI, manusia dituntut memiliki kesadaran yang kuat, fokus yang baik, kemampuan yang tinggi dalam mengendalikan teknologi. Supaya manusia tidak dikendalikan teknologi. 

*)Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KOMENTAR FACEBOOK