Ayah dan Perannya dalam Mendidik Anak

Ilustrasi

Oleh Husna Dita Amanda*

Mana Janji Ayah merupakan film pendek karya Eka Gustiwana yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang ayah. Seorang ayah yang bekerja sebagai tukang bajai untuk menghidupi seorang anaknya. Namun, anaknya malu dengan status sosial keluarganya, terlebih ia sering dibuli di sekolahnya karena pekerjaan ayahnya.

Ayahnya selalu berusaha memberikan apa yang ia inginkan. Hingga suatu hari ayahnya menjual peralatan rumah untuk membelikan tas, sepatu, handphone baru seperti yang diinginkannya dan menuliskan sepucuk surat. Namun sebelum anaknya menerima semua itu, di perjalanan ayahnya mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawanya. Setelah kejadian itu barulah anaknya sadar betapa besarnya perjuangan ayahnya untuk membahagiakan dirinya.

Dari kisah di atas kita dapat melihat bagaimana perjuangan seorang ayah yang bekerja bercucuran keringat, melupakan rasa lelah, dan mengabaikan terik matahari yang menembus kulitnya dengan tetap bekerja untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Namun sekarang ini, banyak ayah yang perannya mulai memudar dalam ingatan anak. Banyak ayah yang lepas tangan terhadap pengasuhan anak karena banyak yang beranggapan  bahwa mendidik anak itu merupakan tugas ibu.

Ketiadaan ayah

Kebanyakan ayah lebih lama menghabiskan waktu di tempat kerja atau bersama rekan kerjanya. Banyak ayah yang bekerja sampai malam, meninggalkan keluarga di rumah, hingga anak kehilangan sosok ayah. Keadaan ini menyebabkan kian banyak anak yang tidak menghormati orang tua.

Rita Pranawati selaku Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengatakan fatherless (ketidakhadiran ayah) bagi anak laki laki akan berdampak pada agresivitas anak yang dapat menyebabkan keterlibatan dalam “kenakalan remaja”, sedangkan bagi anak perempuan akan berdampak pada pengelolaan emosi anak, sulit mengambil keputusan  dan cenderung mencari pengganti figur ayah.

Salah satu dampak yang dapat terjadi adalah pacaran dan mencari figur yang dianggap nyaman  sebagai pengganti figur ayah. Maka dari itu, Rita mengingatkan pentingnya interaksi ayah terhadap anak meski dengan hal hal sederhana sekalipun agar dapat memberi dampak positif bagi pertumbuhan anak.

Ketiadaan peran ayah yang menjadi salah satu sebab kenakalan remaja terbukti dari kian bertambahnya kasus yang menjerat anak-anak. Data KPAI mencatat, total pengaduan kasus pornografi dan cyber crime atau kejahatan online yang menjerat anak-anak pada 2014 sebanyak 322 kasus, 2015 sekira 463 kasus, 2016 meningkat menjadi 587 kasus, 2017 menjadi 608 kasus dan pada 2018 naik mencapai 679 kasus.

Hal ini menunjukkan kasus yang menjerat anak semakin meningkat dari tahun ke tahun dan ini merupakan hal yang tidak patut dibanggakan oleh para orang tua, terkhusus ayah sebagai pemimpin keluarga. Ayah juga yang bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di dalam keluarga.

Dari data KPAI menyebutkan tentang penelitian mengenai hasil survei kualitas pengasuhan anak tahun 2015, sekitar 3,8 dari pengukuran interval 1-5. Kualitas dan kuantitas waktu Ayah berkomunikasi dengan anak baru satu jam per hari. Hasil data tersebut menggambarkan bahwa kurangnya peran ayah dalam mendidik anak. Menurut Rita Pranawati (2017), anak yang mendapatkan kasih sayang dari ayah, akan tumbuh lebih percaya diri, berani mengambil risiko dan memiliki daya juang yang baik. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, sulit mengambil keputusan hingga mengalami  keterlambatan perkembangan psikologis.

Mengutip Survei Indeks Nasional Pengasuhan Anak di Indonesia tahun 2015 oleh KPAI, Rita mengatakan peran ayah dibandingkan ibu, hanya sedikit lebih baik dalam hal mengetahui dampak teknologi informasi, pemenuhan nafkah dan menguruskan akte kelahiran.

Dampak positif

Seorang psikolog dari University of Montreal Kanada, Daniel Paquette dalam studinya bejudul theorizing The Father-Child Relationship:Mechanisms and Developmental Outcomes, mendapatkan fakta bahwa saat ayah bermain dengan anak, ayah akan menstimulasi kemampuan anak untuk mampu menangani hambatan dalam berkomunikasi dengan orang luar (2016)

Peran penting ayah dalam mendidik anak diantaranya: sebagai leader, pelindung keluarga, pendorong kepercayaan diri anak, menumbuhkan rasa ingin tahu anak, membuat anak jadi pemberani, melatih disiplin, menjadikan anak menjadi sholeh dan sholehah, teladan. Selain itu, ayah juga harus bisa menjadi teman bermain bagi anak, menjadi motivator, penumbuh rasa peduli, memperkuat ikatan sebagai sebuah keluarga, teman curhat, memberi perhatian, mengawasi pergaulan anak, dan meningkatkan kecerdasan emosional anak (Fikri Fathoni,2016)

Anak yang mendapatkan peran seorang ayah akan berkembang ke arah yang lebih positif tentunya. Ayah akan menjadikan anaknya sosok pemimpin yang tangguh dan bertanggung jawab. Mengajarkan kepada anak bagaimana bersosialisasi dengan dengan orang luar. Muazzah dalam tulisannya yang berjudul Luqman al-Hakim dan Ayah Masa Kini yang dimuat di situs (Sahabat Keluarga Kemdikbud), mengatakan kita dapat belajar dari kisah Luqman al-Hakim dalam mendidik anaknya. Luqman al-Hakim merupakan hamba Allah yang saleh yang Allah abadikan namanya di dalam Alquran yaitu pada surah Luqman.

Menceritakan sosok ayah yang taat kepada Allah, yang memberikan pendidikan pertama kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah, berbuat baik kepada orang tua, dan bersikap baik kepada sesama. Luqman mendidik anak tanpa kekerasan melainkan dengan nasihat nasihat yang disampaikannya. Seharusnya Luqman dapat dijadikan contoh untuk para ayah agar dapat meluangkan waktunya untuk berbicara, bermain, dan memberikan motivasi kepada anak agar tidak terjerumus ke dalam hal negatif.

Jadi, kepada para ayah atau para calon ayah, mari mendekatkan diri kepada anak untuk memberikan motivasi dan nasihat dalam menjalani hidup. Memberikan arahan dan pemahaman agar anak  tumbuh menjadi pemuda-pemudi penerus bangsa yang perkasa.[]

Siswa SMAS Sukma Bangsa Pidie

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK