Mata Ie, Merengkuh Segarnya Kolam “Zamrud” di Kaki Gunung

Objek wisata Mata Ie, Darul Imarah, Aceh Besar. Di bawah pohon-pohon besar yang rindang, air jernih mengalir 24 jam. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Kolam pemandian Mata Ie, yang berada di kaki gunung di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, adalah pucuk sungai yang bersumber dari ceruk-ceruk gunung di sana. Di musim hujan, warna airnya hijau bak zamrud, dengan kilauan indah yang menyegarkan mata. Di masa lalu, aliran sungai ini menjadi pemasok air untuk Krueng Daroy yang digali atas perintah Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, yang muaranya berada di Taman Sari, tempat Putroe Phang mandi bersama para dayang-dayang istana Darud Dunya.

Pemandian Mata Ie, merupakan objek wisata di Aceh Besar, yang berlokasi di dekat Markas Resimen Induk Kodam Iskandar Muda. Berada di bawah naungan pohon-pohon besar di kaki bukit kapur, aliran Mata Ie disekat-sekat ke dalam berbagai kolam yang lebarnya bervariasi.

Mata Ie juga menjadi salah satu sumber air bagi PDAM Tirta Montala, Aceh Besar.

Ketika aceHTrend berkunjung ke Mata Ie, Minggu (1/12/2019) langit mendung. Udara di sana terasa cukup segar. Nyaris seperti di dataran tinggi. Cabang-cabang pohon besar menjadi kanopi alam, yang memberikan kesan kian teduh.

Setelah membayar tiket masuk, Kijang LGX aceHtrend parkir di depan sebuah mushalla yang sedang direnovasi. Sepelemparan batu dari bangunan yang dominan dicat hijau itu, puluhan monyet terlihat semarak dengan dunianya yang tidak pernah sepi. Binatang yang dalam bahasa Aceh disebut siben bu, ada yang bergelantungan di dahan, ada pula yang meloncat dari satu dahan ke dahan lain. Tidak sedikit yang berjalan-jalan di atas tanah, sembari bermanuver ke sana-kemari. Ada pula yang selalu menoleh ke arah homo sapiens yang lalu lalang sekitar 10 meter dari kumpulan monyet itu berada.

Ketika seorang lelaki yang memakai singlet mendekat, monyet-monyet itu pun merapat. Si lelaki, sembari mengendong anaknya, memberikan “hadiah” untuk kera-kera berekor panjang itu. Lelaki itu, dari jarak yang sangat dekat, memberikan kacang kepada kumpulan monyet yang terlihat saling berebut. aceHTrend sempat mengabadikan moment kerakraban antara homo sapien dan kumpulan kera itu.

Puluhan kera ekor panjang sedang menanti “hadiah” dari pengunjung objek wisata Mata Ie. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Tidak lama di sana, aceHtrend menuju ke lokasi pemandian Mata Ie yang berada di sebelah kiri mushalla. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11.33 WIB. Homo sapiens dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan sudah terlihat berenang di petak petak kolam. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka terlihat asyik masyuk menikmati segarnya air pegunungan yang mengalir deras menuju muara nun di sana.

Walau mendung, kemolekan Mata Ie tidak dapat tersamarkan. Airnya yang terlihat hijau segar seperti zamrud, menggoda siapa saja untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Rafa (7) murid SD Negeri Mon Singet, Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, salah satu pengunjung yang kehilangan kesabaran kala melihat aliran air Mata Ie.

“Wuih, enak sekali mandi,” katanya. Tidak lama kemudian, dia sudah menceburkan diri ke dalam petak kolam paling bawah. Seketika saja ia menggigil.

aceHTrend juga merasakan hal yang sama. Ketika menceburkan diri ke dalam air nan jernih tersebut, rasa dingin langsung menyergap. Bahkan sedikit ngilu di gigi, seperti mengulum es batu.

***
Objek wisata Mata Ie, merupakan destinasi wisata keluarga. Hasil amatan aceHTrend, biaya masuk ke destinasi tersebut sangat terjangkau untuk semua kalangan. Harga jajanan pun demikian. Juga biaya sewa ban untuk mandi, masih dalam tatanan wajar. hanya Rp10.000 untuk pemakaian sepuasnya. Asal jangan dibawa pulang.

“Untuk objek wisata, Mata Ie sangat cocok sebagai tempat rekreasi keluarga. Air sungainya yang mengalir bersumber dari ceruk-ceruk gunung, bukan hanya segar tapi sehat. Bonusnya, tempatnya rindang. Kalau lagi terik, di sini ngademnya enak,” ujar Mutia Dewi, salah seorang pengunjung.

Pemandian Mata Ie, Darul Imarah, Aceh Besar. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Sebagai objek wisata, satu hal yang masih kurang di sini. Yaitu kurang bersih. sampah-sampah plastik bertebaran di mana-mana. bahkan tidak jarang, baik pengunjung maupun pedagang di sana, membuang sampah ke dalam sungai. Di dalam kolam-kolam yang airnya terus mengalir selama 24 jam, banyak bambu bekas tusukan bakso bakar.

Sekitar pukul 12.30, kumandang azan bergema dari mushalla. Selesai azan, muazin mengumumkan bahwa waktu shalat telah tiba. Pengunjung dihimbau untuk menunaikan shalat. Di mushalla tersebut, digelar shalat berjamaah.

Rintik-rintik hujan yang tadinya berupa rinai lembut, kini sudah semakin terasa. Jalan aspal terlihat mulai basah. Udara semakin sejuk. Rafa menggigil. Bocah itu segera keluar dari kolam. Tubuhnya kuyup.

“Kapan-kapan kita ke sini lagi, ya Umi,” katanya sembari tersenyum lebar. Sang ibu yang berusia sekira 32 tahun hanya mengangguk sembari mengelap tubuh putranya yang berkulit eksotis. []

KOMENTAR FACEBOOK