Aceh Tak Pantas Miskin

Aldi Ferdian (Ist)

Oleh Aldi Ferdian*

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh pada Maret 2019, merilis data penduduk miskin. Menurut data tersebut, Aceh mengalami penurunan angka kemiskinan jika dibandingkan pada tahun 2018 yang mencapai 831 ribu jiwa. Dari angka itu, di tahun 2019 Aceh mengalami penurunan sebanyak 12 ribu jiwa. Meskipun demikian, Aceh tetap menjadi juara satu Provinsi termiskin di tingkat Sumatera, dan peringkat enam di tingkat Indonesia.

Seharusnya, provinsi yang dijuluki Serambi Mekah ini tidak layak menyandang status provinsi termiskin di Sumatera, sebab setiap tahunnya Aceh selalu mendapatkan suntikan dana segar dari Pemerintah Pusat melalui Dana Otonomi Khusus (DOKA) dari hasil perdamaian antara GAM-RI yang berlangsung di Finlandia tahun 2005 lalu.

Jika dilihat dari jumlah DOKA yang diterima Aceh dari tahun ke tahun, Aceh terus mengalami peningkatan yang diberikan oleh Pusat dengan menggunakan APBN. Hal itu bisa dibuktikan dengan jumlah DOKA yang diterima Aceh, dari awalnya pada tahun 2008, mendapat kucuran dana Rp3,6 triliun,sampai dengan sekarang pada tahun 2019 mencapai Rp8,3 triliun. Jika ditotalkan, hingga tahun 2019 Aceh menerima dana total Rp73,1 triliun.

Yang jadi sebab, anggaran segar yang dikucur Pemerintah Pusat tersebut seakan-akan tidak menjadi jembatan untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Malahan, anggaran sebesar itu terkadang tidak mampu dihabiskan oleh Pemerintah Aceh itu sendiri. Ajaib bukan.

Padahal, dengan jumlah anggaran besar tersebut, Aceh tidak lagi harus terpuruk, apalagi menjadi provinsi miskin dalam limpahan uang. Bak kata pribahasa Aceh “lage manok mate lam berandang padee” (seperti ayam mati di dalam gudang padi)”.

Seharusnya Pemerintah Aceh menyadari akan hal ini dan segera mencari solusi yang terbaik untuk menuntaskan permasalahan kemiskinan di Aceh. Pemerintah harus hadir di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat yang hingga kini masih dililit kemiskinan.

Penulis yakin, dengan program Aceh Kaya, Aceh Kreatif, dan Aceh Troe yang dibungkus dalam Aceh Hebat oleh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah, Aceh akan mampu bangkit dari semua sektor, yang terpenting bagaimana Pemerintah Aceh mampu mewujudkan Aceh Carong sebagai sumber daya manusia yang akan mengelola Bumo Endatu di masa yang akan datang.

Selain itu, Pemerintah Aceh juga harus membuka peluang kerja baru, baik dari sektor industri maupun sektor ekonomi yang berbasis kawasan. Sehingga para pengangguran bertitel dapat terserap sebagai tenaga kerja di sektor-sektor tersebut.

Maka oleh karenanya, dana otsus yang diterima Aceh setiap tahunnya harus menjadi sumber mata air bagi masyarakat untuk menghapus air mata yang selama ini didera. Sebab Aceh memerlukan kepastian dalam pembangunan, baik jangka pendek, menengah hingga jangka panjang.

*)Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry, Fakultas Dakwah &Komunikasi. Jurusan Kesejahteraan Sosial.

KOMENTAR FACEBOOK