Kecerdasan Buatan

Miswari.

Oleh Miswari*

Banyak orang mengkhawatirkan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI), yang dapat menyingkirkan manusia dari pekerjaannya, sebagaimana saban hari semakin banyak buktinya, sebagaimana diuraikan Yuval Noah Harari dalam ‘Homo Deus’.

Banyak orang khawatir robot dengan AI dapat menyingkirkan, memperbudak, dan bahkan memusnahkan manusia. Bahkan jangan-jangan homo sapiens, manusia seperti kita, adalah ciptaan homo neandherthal yang punya otot lebih kuat dan otak lebih besar daripada kita. Dan Yuval Noah Harari mengatakan dalam ‘Sapiens’ bahwa homo sapiens-lah yang memusnahkan homo neandherthal.

Dalam hal ini Yuval Noah Hahari dalam ’21 Lessons for 21st Century’ menawarkan untuk tidak panik, khususnya takut kehilangan pekerjaan dalam perkembangan teknologi dan AI. Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan manusia sebenarnya hanya transformasi dari masa ke masa. Awalnya umumnya manusia bekerja sebagai pemburu, lalu mendomestikasi gandum dan berubah menjadi petani. Lalu terjadi revolusi industri dan menjadi buruh. Lalu mendirikan negara bangsa dan menjadi pegawai negeri.

Di masa depan, kecerdasan buatan akan menggantikan buruh pabrik, petugas parkir, petugas pintu tol, pegawai kantor, kasir, dan sekuriti. Kita bekerja untuk mendapatkan uang. Uang kita gunakan untuk biaya pendidikan, kesehatan, makanan, dan perjalanan. Sementara negara dan caritas dunia akan menyediakan makanan, sekolah, pendidikan, transportasi gratis untuk umat manusia.

Kita akan menyerahkan pekerjaan menulis berita kepada AI. Algoritma sangat baik dan akurat untuk itu. Kita akan menyerahkan pekerjaan menenun pakaian kepada mesin, karena dia cukup rapi untuk bidang itu. Sementara kita akan menulis puisi dan kenangan masa kecil, kenangan saat bersama teman-teman mencuri mangga tetangga dan bermain sepak bola, menulis kenangan tentang cinta pertama.

Manusia akan kembali fokus pada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan AI seperti menyusui bayi sambil memeluknya dengan erat, berjalan-jalan di taman sambil menggandeng tangan anak dan suami, merawat orang tua sambil memberinya ciuman penuh kasih.

Manusia akan menjadi sejati ketika AI berkembang. Akan lebih banyak waktu bersama keluarga, saudara, tetangga. Akan sangat banyak waktu untuk ke kuil, shalat, yoga, dan mengikuti jamaah tarikat.

*)Dosen Filsafat Islam IAIN Langsa, Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KOMENTAR FACEBOOK