Kekerasan pada Perempuan, Pantaskah?

Ilustrasi

Oleh Amalia Muchtar

Dalam deklarasi PBB tahun 1993, kekerasan terhadap perempuan didefinisikan sebagai kekerasaan berbasis gender yang menghasilkan atau memungkinkan menghasilkan cedera fisik, seksual, psikologis, atau penderitaan terhadap perempuan, termasuk intimidasi untuk melakukan tindakan-tindakan serupa, baik terjadi di kehidupan publik atau pribadi. Angka kekerasan pada perempuan di Indonesia yang tercatat di Komnas Perempuan bahwa terjadi 406.178 kasus pada tahun 2018, meningkat 16,6% dibandingkan 2017 yang sebanyak 348.446 kasus. Data tersebut diangkat dari data perkara yang ditangani Pengadilan Agama sebanyak 96% (392.610 kasus) dan 209 lembaga mitra pengada layanan sebanyak 3% (13.568 kasus). Ini menunjukkan bahwa tingkat kekerasan pada perempuan tidak menurun.

Kasus kekerasan yang terjadi pun banyak ragamnya. Mulai dari kejahatan dunia maya (cyber crime), pelecehan seksual, perdagangan perempuan, penganiayaan, kekerasan dalam berpacaran, penelantaran,  pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga femicide atau kekerasan yang berakhir pada kematian (Republika.co.id). Segala bentuk kekerasan terhadap perempuan tidak sesuai dengan martabat dan harga diri manusia serta harus dihapuskan. Namun, faktanya kekerasan terhadap perempuan justru kian jelas dan nyata.

Kekerasan kerap terjadi di berbagai macam tempat. Bahkan Catatan Tahunan 2019 Komnas Perempuan menunjukkan, kekerasan terhadap perempuan banyak terjadi di wilayah tempat tinggal, yaitu sebanyak 66 kasus. Kekerasan kedua terjadi di tempat kerja, yaitu sebanyak 41 kasus. Kekerasan pada perempuan juga terjadi di tempat umum sebanyak 39 kasus, institusi pendidikan sebanyak 14 kasus, institusi kesehatan sebanyak 11 kasus, dan kekerasan terhadap pekerja migran sebanyak 6 kasus. Komnas Perempuan juga menyatakan bahwa kekerasan berbasis gender online (KBGO) di Indonesia meningkat dari sebelumnya hanya lima kasus di 2016, pada 2018 tercatat 95 kasus.

Pelaku kekerasan takkan pernah bisa disangka. Bukan hanya orang tak dikenal yang dapat melakukan kekerasan, bisa jadi pelaku adalah atasan di tempat kerja, rekan sesama kerja, tetangga, pacar, teman, suami atau bahkan seseorang yang memiliki hubungan darah. Pelaku dapat melakukan aksinya kapan pun dan di mana pun. Ancaman kekerasan tak dapat dihindari, karena keluarga pun memiliki potensi yang lebih besar untuk melakukan kekerasan.

Apakah yang menyebabkan kekerasan terjadi?

Ada beberapa faktor yang membuat kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi. Di antaranya faktor ekonomi, media sosial, pernikahan usia dini, kepribadian dan kondisi psikologis yang tidak stabil, lingkungan, dan diskriminasi gender. Selanjutnya, persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga kerap ditutupi karena dianggap sebagai masalah keluarga bukan masalah sosial.

Dalam rumah tangga biasanya kekerasan terjadi akibat masalah ekonomi. Ekonomi yang tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga menjadi pemancing terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pendapatan suami yang tak cukup untuk kebutuhan hidup membuat istri menuntut suami hingga di luar kemampuan. Suami tak dapat mengendalikan emosi akhirnya main tangan, dan terjadilah KDRT (Jawapos.com).

Salah satu penyebab terjadinya kekerasan pada perempuan ialah penyalahgunaan media sosial. Tak sedikit perempuan yang mudah percaya berita hoaks, dan dengan mudah mengunggah foto tidak senonoh di akun pribadi, memberitahukan tentang identitas pribadi kepada orang tak dikenal, dengan mudah memercayai orang asing lalu membuat sebuah janji temu, sehingga terjadilah cyber bullying dan kekerasan bentuk lainnya.

Pernikahan dini juga mengundang terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Hal itu disebabkan kurang matangnya pola pikir kedua pasangan suami istri. Pada usia yang masih belia seharusnya meraka masih mendapatkan dan merasakan masa-masa indah bermain, belajar, dan masa muda yang tak dapat terulang lagi.   

Efek yang ditimbulkan bagi para korban kekerasan punya kecenderungan hampir tiga kali lebih tinggi mengalami gejala depresi. Akibat trauma atas apa yang telah dialami membuat kualitas tidur para korban pun lebih buruk. Para korban cenderung insomnia, karena rasa trauma dan kepikiran selalu menghantui

Solusi pencegahan kekerasan pada perempuan

Pendidikan seks dapat menjadi solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Mengapa? Karena, sebenarnya pendidikan seks sangat penting untuk diketahui sejak usia dini. Kasus kekerasan terhadap perempuan yang sering terjadi belakang ini pun mengancam para remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Eksploitasi seks nyatanya juga sering kali terjadi oleh orang-orang terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri.

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan adalah bukti nyata bahwa kurangnya pengetahuan mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka perolah sejak usia dini dari orang tuanya. Namun, persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas. Pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap anaknya untuk menjaga apa yang menjadi kehormatannya, terlebih bagi anak perempuan.

Secara realita orang tua justru bersikap apatis dan tidak berperan dengan aktif untuk memberikan pendidikan seks sejak dini. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks akan diperoleh seiring berjalanya usia ketika ia telah dewasa nanti. Mereka seakan menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah untuk mengajari dan menjadi sumber ilmu bagi anaknya. Padahal pendidikan seks sendiri belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah yang ada. Akibat kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kebutuhan anak dalam melawan tuntutan zaman yang semakin mengarah ke arah barat menjadi salah satu faktor utama belum tersampaikannya pendidikan seks kepada anak sejak usia dini di lingkup keluarga.

Solusi lainnya agar kekerasan terhadap perempuan dapat dihilangkan ialah kesetaraan gender. Karena pada hakikatnya, perempuan berhak diperlakukan dengan adil dan sama di ruang publik, mulai dari hal yang sederhana hingga hal yang kompleks. Intinya adalah tidak ada penindasan bagi kaum hawa untuk semua hal. Seperti program Prevention Plus yang dibuat oleh Rutgers WPF Indonesia, bersama dengan beberapa mitra yang berupaya untuk membuka dialog dengan tokoh-tokoh agama untuk mempromosikan tafsir agama yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender. Upaya pencegahan kekerasan berbasis gender perlu menerapkan pendekatan transformasi gender dalam setiap tahapannya, agar dapat membongkar nilai-nilai dan norma sosial yang menghambat kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga dapat mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan.

Semoga dengan pengetahuan yang memadai akan kekerasan pada wanita, dan diberikannya pengetahuan tersebut sejak dini baik kepada perempuan maupun laki-laki, akan mampu mengurangi bahkan menghapus praktek-praktek yang berbau kekerasan terhadap perempuan.[]

Penulis adalah Siswa Kelas XII MIPA Aceh Tenggara SMA Sukma Bangsa Pidie

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK