Menjadi Muslim yang Islami

M. Ikhwan, dosen STAIN Meulaboh, Aceh Barat.

Oleh M. Ikhwan*

Beberapa waktu lalu di warung tempat biasa kami nongkrong minum kopi, duduk satu meja dengan beberapa teman dan berdiskusi ringan tentang orang Islam yang berperilaku tidak islami. Diawali dari melihat negara-negara mayoritas non-muslim kemudian Indonesia secara keseluruhan sampai ke Aceh tempat kami hidup setiap hari yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam.

Islam sebagai identitas dan Islam sebagai nilai sering salah dipahami. Jika hanya menjadikan Islam sebagai identitas saja tidak cukup bila menafikan nilai-nilai ajarannya.

Bicara tentang nilai (value), ajaran agama Islam mempunyai nilai-nilai yang universal dan dapat dilaksanakan oleh siapapun termasuk orang non-muslim sekalipun. Sehingga wajar saja jika kita sering melihat daerah mayoritas non-muslim namun nilai-nilai Islam hidup di sana atau sebaliknya juga bisa terjadi di tempat yang mayoritas muslim tapi gersang dari nilai ajaran Islam.

Misalnya kota-kota di Indonesia yang mendapatkan penghargaan Adipura dalam bidang kebersihan lingkungan, tingkat kebersihannya tidak lebih baik dari kota-kota di Autralia atau contoh lainnya di bidang pendidikan, sekolah kita banyak yang berlabel sekolah model, sekolah favorit, sekolah percontohan, sekolah binaan namun standar kualitasnya belum mengimbangi sekolah di negara-negara Skandinavia. Konon lagi sekolah biasa yang ada di pelosok negeri ini.

Dalam bidang ekonomi, pelaku usaha belum seutuhnya menjalakan nilai-nilai Islam. Misalnya ketika makan dan minum terkadang dipersilahkan mencicipi lebih awal sebelum dibayar dan harga tidak disebutkan sehingga waktu dibayar pembeli merasa keberatan karena harga tidak sesuai dengan keinginan. Namun sebahagian telah menyebutkan harga dan meminta dibayar di awal yang cenderung transparan dan akuntabel jika setuju silahkan beli dan jika tidak boleh mencari yang lain (baca khiyar).

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini penulis teringat ungkapan Muhammad Abduh abad 19 silam “Saya pergi ke negara Barat (non-muslim), saya melihat Islam tapi tidak melihat orang Islam, saya pergi ke negara kaum muslimin, saya melihat orang Islam tapi tidak melihat Islam” (Abduh 1849-1905).

Ungkapan Abduh di atas pernah dinilai kontroversial oleh banyak kalangan. Berbagai argumentasi pun disampaikan baik yang membantah maupun yang mendukung sebagai bentuk konsekuensi dari ungkapan tersebut. Bagi yang membantah ungkapan itu mengatakan bahwa Abduh terburu-buru mengambil kesimpulan, karena agama Islam itu sesuatu yang sempurna adapun orang Islam yang berbuat tidak Islami itu adalah oknum yang tidak bisa digeneralisasikan. Jika ingin mengkritisi Islam lihat ajaran Islam jangan lihat orang Islamnya. Adapun mereka yang mendukung ungkapan Abduh mereka mengatakan itu sesuatu yang terjadi secara nyata dan mudah dilihat bahwa konsep Islam itu justru diterapkan oleh non-muslim seperti bidang pendidikan yang memadai, penegakan hukum yang tegas, perilaku ekonomi akuntabel dan transparan, komitmen kedisiplinan, menjaga kebersihan dan lain sebagainya.

Kedua argumentasi di atas barangkali dapat diterima, tapi tidak bisa dinilai benar seluruhnya atau menyalahkan semuanya. Menurut penulis Abduh menyampaikan apa yang beliau lihat di Barat secara kasat mata namun parsial dan tidak komprehensif. Abduh hanya melihat aspek moral (akhlak) sementara Islam itu ada hal fundamental lainnya seperti tauhid dan syariah. Ia juga tidak menyampaikan bagaimana kebiasaan non-muslim seperti minum-minuman keras, pergaulan bebas dan lain-lain yang tentunya juga tidak islami dan di saat yang sama Abduh tidak menyampaikan secara berimbang.

Memang tidak dapat dibantah bahwa ada orang Islam yang berperilaku tidak islami, artinya nilai-nilai Islam tidak terdapat dalam pribadi sebahagian orang Islam. Islam sebagai nilai dan muslim sebagai identitas terdapat jurang pemisah (gap) yang seharusnya tidak boleh terjadi. Nilai-nilai ajaran Islam sejatinya menyatu dalam kehidupan masyarakat muslim sebagai konsekuensi kepercayaannya yang telah dipilih (baca teori kredo). Islam itu bukan hanya simbol (identitas) akan tetapi nilai yang harus diwujudkan dalam bentuk perilaku islami. Lantas bila kenyataannya seperti yang disampaikan di atas, apa penyebabnya? Lalu bagaimana tawaran solusi yang mungkin dilakukan saat ini?

Upaya Mewujudkan Nilai-nilai Islami

Mewujudkan nilai-nilai islami perlu dipahami terlebih dahulu apa penyebabnya, sehingga perlu ditawarkan beberapa solusi yang mungkin dilakukan untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut.

Asbabnya pertama, karena umat Islam tidak mau mempelajari ajaran agama secara keseluruhan. Banyak yang beranggapan bahwa belajar agama itu hanya orang-orang tertentu seperti ustazd- ustazdah, santriwan-santriwati di pesantren, siswa-siswi di sekolah madrasah adapun yang lainnya cukup belajar agama seadanya. Padahal “menuntut ilmu agama itu diwajibkan bagi semua kaum muslimin” (alhadits). Jadi tidak ada kategori belajar agama hanya orang-orang tertentu.

Kedua, karena terbelenggu doktrin agama. Berbagai latar belakang orang menjadi Islam, ada yang terlahir dalam keluarga muslim, ada karena pernikahan, karena pertemanan, atau karena pencarian yang berangkat dari kesadaran masing-masing, kebanyakan terbelenggu oleh doktrin bahwa setiap orang Islam telah dijamin akan menikmati surga meskipun berlumur dosa dan harus mampir dulu di neraka, dan dipadai sampai di situ.

Penulis ingin menegaskan bahwa bukan doktrin itu yang keliru namun berperilaku islami itu yang penting dilakukan. Bagaimana seandainya jika terlahir dalam keluarga non-muslim, apakah Islam akan tetap dipilih sebagai agama? Tentang memilih agama tentu diberi kebebasan dan tidak boleh dipaksakan untuk memilihnya. Dalam Al-Qur’an telah secara jelas difirmankan “tidak ada paksaan dalam memilih agama…” (baca QS. al-Baqarah: 286), demikian juga secara normatif telah dijamin oleh peraturan perundang-undangan (baca UUD 1945 pasal 28E dan 29, UU No. 12 tahun 2005 pasal 18).

Ketiga, orang Islam yang tidak berperilaku islami karena mengira Islam itu hanya ibadah mahdhah atau yang terdapat dalam rukun Islam saja dan tidak ada hubungannya dengan muamalah lainnya. Banyak yang ber-syahadat, mengerjakan shalat, melaksanakan puasa, membayar zakat dan menunaikan haji sebagai rutinitas, sedangkan korupsi dilakukan, nepotisme tetap terjadi, orang miskin dibiarkan, kebersihan diabaikan, pendidikan hanya dinikmati sebahagian orang, dan banyak lagi ketimpangan yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya dalam tulisan ini. Padahal Islam mempunyai nilai-nilai yang luhur seperti peduli dan memberdayakan kaum yang lemah, menganjurkan kebersihan, mendorong masyarakat agar menjadi terdidik, mencintai kedamaian, mendambakan lingkungan (negara) yang penuh kebaikan dan di bawah keampunan Allah.

Namun demikian, mengapa ada yang memilih identitas sebagai muslim namun tidak bernilaikan Islam. Bukankah menjadi orang Islam tidak boleh hanya sebahagian saja, namun harus menjalankan ajaran agama secara keseluruhan (baca QS. al-Baqarah: 208). Oleh karena itu beberapa hal yang perlu dilakukan orang Islam agar dapat berperilaku islami di antaranya : Belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, karena dengan memahami ajaran agama secara komprehensif akan memberi wawasan keagamaan yang luas.

Kemudian berislam dengan murni, karena menuju surga tidak cukup hanya dengan masuk Islam akan tetapi disertai dengan perilaku islami, dalam Islam tidak ada istilah numpang lewat menuju Surga. Terakhir memperbanyak ibadah dan amal shaleh dalam artian menjalin hubungan baik dengan Allah dan makhluknya di alam semesta secara seimbang. Karena rajin beribadah namun tidak peka dengan kondisi manusia dan alam sekitarnya hanya menjadi sia-sia, demikian juga sebaliknya.


*)Penikmat kopi di Barat Selatan Aceh, dosen STAIN Meulaboh.

KOMENTAR FACEBOOK