Rabithah Thaliban Apresiasi Lomba Baca Kitab Kuning yang Digagas Pemerintah Aceh

Sekjen PB RTA Tgk Mahlil Haitami

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pengurus Besar Rabithah Thaliban atau ikatan santri Aceh (RTA) mengapresiasi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) yang diselenggarakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh di Asrama Haji Aceh pada 29 November-2 Desember 2019.

Sekjen PB RTA, Tgk Mahlil Haitami mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk peran serta pemerintah dalam menyukseskan program Aceh Caroeng. Selain itu, acara tersebut menurutnya juga bisa menumbuhkan semangat bagi seluruh santri di Aceh untuk terus belajar lebih giat lagi dengan harapan bisa ikut serta dalam event ini.

“Yang paling penting adalah bagaimana untuk menjaga kultur dan tradisi ‘aneuk meudagang’ atau dengan ‘beut’ kitab kuning yang kini sudah mulai memudar,” ujar Mahlil seusai mengikuti penutupan MQK 2019 Senin malam (2/12/2019).

Bahkan, lanjut dia, ada pemahaman bahwa belajar agama cukup dengan membaca ataupun berselancar di dunia maya untuk justru memberikan pengaruh ke arah yang salah. Sehingga terjadi pemaknaan hukum-hukum Islam yang melenceng dari yang sesungguhnya.

“Sebagai contoh dalam memaknai jihad yang cenderung melenceng akibat salah tafsir. Sehingga menimbulkan paham radikalisme,” katanya.

Ia berharap, MQK ini bukan hanya tanggung jawab dayah dan pemerintah tetapi tanggung jawab semua umat muslim. Peran serta dan kewajiban pemerintah untuk menjalankan kegiatan tersebut.

“Pemerintah harus supporting fasilitas dan pembiayaannya,” tandasnya.

Sekjen PB RTA ini mengatakan, kegiatan tersebut sebagai salah satu akselerasi visi misi Pemerintah Aceh. Jumlah dayah di Aceh kata dia sangat banyak. Definisi dayah dalam undang-undang yaitu harus ada kitab kuning dan harus ada teungku (guru).

“Salah satu daya dorong untuk memberikan semangat kepada santri untuk belajar kitab kuning dengan melombakannya melalui MQK ini. Sejauh mana dan bagaimana para santri dapat memahami tata cara membaca kitab kuning dan tahfidul uthun yakni mempelajari dan menalar kitab-kitab kuning lainnya,” ujar Tgk Mahlil Haitami.

Sehingga, kata dia, kegiatan ini mampu memberikan semangat kepada para santri untuk lebih giat belajar dan juga memberikan motivasi kepada anak-anak yang belum tahu tentang pesantren dan juga tentang MQK.

“Khususnya para orang tua, dapat memasukkan anak-anaknya ke lingkungan dayah,” ucapnya.

Selain itu, kata Mahlil, dia merasa bangga sebab penyelenggaraan MQK 2019 diikuti oleh 120 peserta dari 23 kabupaten/kota di Aceh.

“Kami berharap agar MQK tahun depan didorong oleh bupati/wali kotanya untuk mengikutsertakan warganya. Selama ini peserta mengikuti kegiatan MQK ini dengan swadaya dayah dan dibantu ormas Islam dan kami juga berharap agar MQK ini bisa disejajarkan dengan MTQ ada seleksi kabupaten/kota sebagai tuan rumah pelaksanaan MQK ke depan,” katanya.

Tgk Mahlil menambahkan, hal itu untuk menyukseskan Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober yang akan diisi dengan berbagai kegiatan.

“Pada peringatan Hari Santri nanti diawali dengan upacara dengan mengenakan pakaian santri (bersarung-red) dan setelah itu di antaranya ada pawai taaruf dan lain-lain,” ungkap Mahlil.[]

Editor : Ihan Sunrise

KOMENTAR FACEBOOK