4 Desember 4.0

Muhajir Juli. (Ist)

Oleh Muhajir Juli

4 Desember, sejak 1976 menjadi deret waktu yang penting–bahkan sakral– bagi sebagian besar orang Aceh. pada tanggal tersebut, di lebatnya rimba Gunong Halimon, Pidie, Teungku Hasan Tiro bersama sejumlah penyokongnya, mendeklarasikan perlawanan terhadap Pemerintah Republik Indonesia. Hasan Tiro yang awalnya adalah Republiken sejati, berbalik arah melawan Indonesia, setelah menemukan titik beda di dalam pikirannya.

Sejak 4 Desember 1976, Aceh berubah menjadi daerah yang gelap. Penuh darah dan kisah-kisah seram nan melukai nilai-nilai kemanusiaan. Sepanjang titimangsa itu, Aceh adalah daerah kaya tapi tak memiliki apa-apa. Setiap hari, pemberitaan di media massa selalu saja tentang pembunuhan, kontak senjata, penembak misterius, peluru nyasar, pembakaran permukiman warga, pemerkosaan, penculikan, pengungsian, dan sebagainya.

Di tengah kecamuk perang. Di antara letusan senjata api, harapan untuk merdeka dalam bentuk menjadi negara mandiri bergema di banyak hati. Di antara ledakan granat, kobaran api yang membakar sekolah dan permukiman, doa-doa damai dipanjatkan oleh banyak jiwa. Antara harapan untuk segera merdeka yang katanya sibak rukok teuk, serta harapan untuk segera datangnya damai, selalu beriringan.

NGO Internasional, datang menjenguk Aceh. Pemerintah luar negeri hadir menengok Aceh. Lembaga kemanusiaan tingkat nasional hadir ke Aceh. media dalam dan luar negeri meliput Aceh. Mahasiswa berdemo, masyarakat berdemo, tentara, polisi dan kombatan bertempur. Ada yang datang mencoba merajut damai. Ada yang meminta hadirnya pengadilan HAM internasional. Ada yang berharap perang terus berkobar. Ada yang serius dan ikhlas, ada yang culas memanfaatkan kesempatan. Ada yang hidup untuk membantu Aceh, ada yang membantu Aceh untuk mencari penghidupan. Ada yang berkampanye agar damai segera hadir. Ada yang berkampanye agar keadilan segera datang. Ada yang sembari kampanye berharap agar perang terus berkobar, demi tetapnya jalan program dan proposal atas nama kemanusiaan. Semuanya campur baur dalam satu rasa: Solidaritas untuk Aceh.

26 Desember 2004, bumi bergetar. Laut mengamuk. Allah mengirimkan tentaranya dari laut yang bernama gelombang raya. Orang Jepang menyebutnya tsunami. Orang Aceh dan dunia internasional kemudian sepakat menggunakan istilah tsunami.

Dalam waktu singkat, ratusan ribu manusia terkapar. Menjadi mayat. Aktivis, tentara, kombatan, polisi, akademisi, agamawan, bandit, pejabat, jelata, pencuri ayam, tukang zina, bromocorah kelas gang sempit, yang cantik, yang ganteng, tua, muda, anak-anak, perempuan hamil, dan sebagainya, terbujur kaku. Menjadi jenazah.

Di tengah lautan mayat di Serambi Mekkah, kerasnya perang, kehilangan harga diri. Kisah-kisah suram pembantaian di berbabai tempat di Aceh, kalah pamor di hadapan musibah gempa dan tsunami.

Hati manusia bergetar. Elit-elit GAM tersentuh. Elit Jakarta terhenyak. Aceh telah hancur lebur. Tak ada jalan lain, damai harus dipercepat. Tak ada waktu untuk bermain-main. Aceh harus segera dipulihkan. 15 Agustus 2005, di helsinki, Finladia, kedua pihak bersepakat berdamai. Peristiwa bersejarah itu dikenal dengan nama MoU Helsinki.

***

4 Desember 2019, harus menjadi titik refleksi, Aceh mau dibawa ke mana? kembali ke konflik bersenjata? Tentu pilihan itu telah kuno. Zaman sudah masuk era 4.0. Kita masih tertinggal dalam berbagai hal. Kita harus mengejar ketertinggalan itu. Oleh konflik, banyak hal yang telah terdesrupsi secara paksa. Kita tidak mungkin meraihnya kembali. Hanya saja, kita tidak boleh mengulang kesalahan yang sama.

Setelah 4 Desember 2019, haruskah GAM mati bersama ideologi yang diajarkan oleh Hasan Tiro? Tentu saja tidak. Tapi GAM harus ber-evolusi menjadi hal baru. Ideologi pembebasan harus disesuaikan dengan era 4.0. Bukan lagi perang bersenjata. GAM harus menjadi rumah bagi semua orang untuk menyusun rencana melahirkan generasi Aceh yang gilang gemilang di masa depan.

Era 4.0, negara masih ada di seluruh dunia. Tapi garis batas imaginernya telah pupus semenjak internet ditemukan. Banyak hal yang telah didesrupsi semenjak teknologi canggih tersebut dibuat. GAM, bila gagal menjadi sesuatu yang baru, juga akan ditelan oleh kemajuan teknologi. Di Masa depan, perang bersenjata bukan lagi pilihan.

GAM harus –minimal– seperti UMNO Malaysia. Menjadi rumah bagi seluruh kepentingan rakyat Aceh. Menjadi rumah bersama yang kemudian menjadi pula tempat menyusun gagasan dan rencana menuju Aceh Hebat di masa depan.

4 Desember 2019 adalah peralihan. Ingin kembali ke pengalaman buruk, atau menuju harapan baru. Aceh akan merdeka bila seluruh kita telah mendapatkan keseteraan, kesejahteraan, serta telah mampu menjadi generasi yang diperhitungkan di tataran ekonomi dunia.

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK