Cegah Indonesia Darurat Asap

Ilustrasi

Oleh Riski Ananda Putri*

Indonesia memiliki hutan tropis yang sangat luas dengan beragam sumber daya alam hayati. Hutan adalah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan berbagai jenis tumbuhan, sehingga hutan dapat dikatakan sebagai paru-paru dunia. Hutan memiliki manfaat yang nyata bagi makhluk hidup baik manfaat ekologi, budaya, maupun ekonomi, dan mempunyai peranan sebagai penyeimbang dalam lingkungan global. Untuk itu, hutan harus kita jaga dan lestarikan dengan baik, bukan justru merusaknya.

Terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan akan berdampak buruk bagi hutan. Kondisi hutan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Banyak hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan, salah satu penyebabnya yaitu kebakaran hutan. Kebakaran hutan menimbulkan asap yang pekat sehingga udara di sekitar menjadi tercemar. Akibat tercemarnya udara maka habitat dan populasi berbagai makhluk hidup menjadi terancam.

Penyebab kebakaran hutan

Kebakaran hutan bisa disebabkan oleh alam dan kesengajaan manusia. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh alam dipicu karena aktivitas vulkanis yang disebabkan oleh aliran lahar panas dari letusan gunung berapi dan sembaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau panjang.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran yang disebabkan oleh ulah manusia bisa meliputi ketidaksengajaan saat membuang puntung rokok dan membakar sampah di hutan. Selain itu, ada pula faktor kesengajaan manusia membakar hutan untuk membuka lahan, yang nantinya akan dijadikan perkebunan atau pemukiman.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH), salah satu faktor pemicu terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ialah cara petani kecil dan pengusaha perkebunan membuka lahan. Jika memakai cara-cara tradisional (sistem pembakaran) dalam membuka lahan biaya yang dibutuhkan jauh lebih murah ketimbang dengan cara tidak membakar.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari 328.724 hektare luas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di tahun 2019 ini, 99% disebabkan oleh ulah manusia. Kebakaran yang terjadi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang mudah dipadamkan karena lahan gambut relatif basah, sedangkan tahun ini lahan gambutnya relatif kering, karena musim kemarau panjang.

Akibat yang ditimbulkan

 Kebakaran hutan menghasilkan asap yang pekat yang mengandung  bahan kontaminan, sehingga menyebabkan udara tercemar. Menurut Corman, pencemaran udara adalah kondisi di mana terdapat bahan kontamina di atmosfer karena perbuatan manusia. Pencemaran udara menyebabkan aktivitas masyarakat terhambat karena udara di sekitar ditutupi oleh kabut asap, sehingga masyarakat sulit berpergian, dan juga membahayakan kesehatan.

Efek lainnya yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan ialah pemanasan global. Menurut Natural Resources Defence Council, pemanasan global adalah kondisi peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca berlebihan. Efek rumah kaca terjadi karena polutan dari hasil pembakaran  akan meningkatkan konsentarasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin meningkat konsentrasi gas rumah kaca, maka semakin panas atmosfer bumi karena sebagian dari radiasi matahari diserap oleh bumi, sedangkan bagian lainnya dipantulkan kembali ke angkasa, sehingga mengakibatkan global warming (pemanasan global). Dampak dari pemanasan global yaitu; mencairnya es di kutub, menipisnya lapisan ozon, dan terjadi perubahan musim yang tidak stabil.    

Kebakaran hutan juga menjadi salah satu penyebab turunnya biodiversiti. biodiversiti atau keanekaragaman hayati adalah semua kehidupan di atas bumi ini baik tumbuhan, hewan, jamur dan mikroorganisme serta berbagai materi genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka hidup (Global Village Translations, 2007). Indonesia kaya akan biodiversiti karena jumlah hutan yang cukup tinggi.

Pada saat ini, biodiversiti di Indonesia sudah mulai menurun dibandingkan dengan biodiversiti di era tahun 1990 an, terutama biodiversiti yang terdapat di darat. kebakaran hutan mengakibatkan turunnya biodiversity (keanekaragaman hayati), terutama spesies yang mempunyai pergerakan lambat. Biodiversiti di Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra beberapa waktu yang lalu menjadi sebab turunnya keanekaragaman hayati di indonesia.

Ada banyak flora dan fauna yang mati akibat kebakaran hutan. Sehingga jumlah satwa langka terus berkurang, bahkan beberapa dalam kondisi nyaris punah. Berbagai media mengabarkan banyak orang utan, harimau, ular, dan hewan khas Indonesia lainnya yang mati mengenaskan akibat kebakaran hutan.

 Langkah strategi

Tingginya angka kebakaran hutan di dunia memaksa kita untuk mampu melakukan langkah-langkah strategis yang dapat menangani masalah tersebut. Menurut hasil rapat kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, langkah strategis yang dapat dilakukan untuk meminimalkan angka kebakaran hutan yaitu; pertama, pengelolaan berkelanjutan. Pengelolaan berkelanjutan yaitu proses pengelolaan sumber daya alam yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia saat ini tanpa mengurangi potensi kebutuhan manusia di masa yang akan datang. Dalam membuka lahan harus disesuaikan baik teknik maupun kontrol sampai secara bertahap menghilangkan cara-cara ekstensifikasi, ini berlaku baik petani maupun perusahaan.

Kedua, pemberian subsidi kepada petani untuk modal membuka lahan. Pemberian modal tersebut bertujuan agar petani tidak membakar hutan untuk membuka lahan baru. Ketiga, pengelolaan berkelanjutan dengan menyatukan masyarakat di dalam penggunaan lahan yang ada. Masyarakat dengan pengusaha harus bersinergi dalam menjaga lingkungan. Untuk itu, peran organisasi masyarakat sipil sangat membantu dalam pencegahan kebakaran hutan.

Keempat, penerapan pengawasan dan penalti bagi perusahaan dan petani yang melanggar aturan. Kelima, penguatan kelembagaan pemerintahan tingkat kecamatan dan desa. Dalam hal ini, peran camat sebagai aparat yang berwenang, dan dikontrol langsung oleh gubernur dibutuhkan untuk mengawasi daerah rawan kebakaran.

Go Green

Mengingat keadaan hutan saat ini tidak membaik, maka kita harus meningkatkan kepedulian terhadap hutan. Salah satu bentuk kepedulian kita terhadap hutan yaitu menggalakkan slogan Go Green, yang artinya sebuah tindakan penghijauan untuk menyelamatkan bumi. Go Green dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, dan dimulai dari kita sendiri. Gerakan ini bisa dilakukan dengan cara paling mudah yaitu tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon secara illegal, dan tidak membakar sampah di hutan yang kering.

Menurut Kementrian Lingkungan Hidup, gerakan Go Green sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia yaitu, dapat mengembalikan daerah resapan air, menjaga kualitas air tanah, mengurangi polusi udara, pengontrol iklim. Selain itu, penghijauan juga dapat menjadikan bumi menjadi lebih indah, dan mengurangi dampak global warming (pemanasan global).

Salah satu contoh penerapan Go Green yang dilakukan di sekolah sukma bangsa Pidie ialah gerakan membawa tumbler ke sekolah. Tujuan dari gerakan ini ialah untuk mengurangi sampah plastik. Tidak hanya guru dan siswa yang menerapkannya, akan tetapi para pedagang di sekitar sekolah juga ikut berpartisipasi dalam menerapkan gerakan tersebut. Para pedagang tidak menjajakan minuman dalam kemasan, dan dibungkus plastik. Mereka menaruh minuman di gelas, atau pembeli yang menyediakan botol sendiri untuk diisi minuman yang akan dibeli.

Dengan sedikit kepedulian yang kita berikan untuk menjaga bumi tempat kita tinggal, diharapkan semakin banyak pihak yang tersadarkan akan pentingnya menjaga lingkungan. Karena bukanlah kebutuhan sebagian orang atau pihak tertentu agar bumi tetap lestari, namun kebutuhan setiap manusia. Maka dari itu, mari lindungi hutan agar bumi tetap menjadi tempat yang paling nyaman bagi semua mahluk hidup.[]

*Penulis adalah siswa SMA Sukma Bangsa Pidie

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK