Hasan Tiro, Dari Tam-tum Sampoe Mumat Jaroe

Hasan Tiro. Foto: Budi fatria/Serambi Indonesia.

Abdul Mugni*

Tulisan ini tidak bermaksud mengungkit Aceh saat konflik. Hanya menukilkan kembali bagaimana idealisnya Hasan Tiro berjuang sampai beliau kembali kehadirat Ilahi, dan sepeninggal Allahyarham seakan Aceh kehilangan arah dan tujuan yang ingin dicapai. Hasan Tiro belum tergantikan sebagai tokoh yang bisa membawa masalah Aceh ke meja internasional, sekaligus bisa mengobarkan semangat pasukan yang ada di lapangan. Meskipun ia berada di tempat yang jauh, itu kecerdasan Hasan Tiro dalam berjuang untuk Aceh.

Dalam banyak catatan dan Karya Hasan Tiro yang ditulis dengan tangannya,ia berjuang karena tiga hal, pertama, pemalsuan sejarah. Kedua, pemalsuan kenyataan dan ketiga propaganda lain yang bukan-bukan (Sumatra Siapa Punya? Dr.Tengku Hasan M.Di Tiro, Stockholm, 1 Februari 1991), dalam karyanya ini Hasan Tiro sedang memotivasi para pemuda Aceh dan warga Aceh tentang tanggung jawab terhadap wilayahnya yang telah diwariskan oleh nenek moyang untuk diurus demi kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Aceh.

Bagi Aceh Hasan Tiro adalah aktor pejuang sejati untuk “kemerdekaan” dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Sementara bagi Republik Indonesia Hasan Tiro separatis (pemberontak).Perjuangan yang dilakukan oleh Hasan Tiro bukan untuk kepentingan pribadi kelompok dan lainnya tetapi murni untuk rakyat aceh. Sejak tahun 1979 Hasan Tiro menjadi warga Swedia dan baru kembali ke Aceh pada tahun 2008 setelah Aceh benar-benar dirasakan damai. Hasan tiro meninggal pada tanggal 2 juni 2010 dan negara Indonesia mengakui kewarganegaraan Hasan Tiro satu hari sebelum sang proklamator meninggal, dengan pertimbangan alasan kemanusiaan, khusus dan politik serta nota kesepahaman damai antara Indonesia dan GAM.

Melihat sepak terjang Hasan Tiro seakan akan pesan yang ingin ia sampaikan adalah perjuangan Aceh dengan senjata telah selesai saya jalani. Kini Aceh kutitipkan padamu generasi untuk kalian perjuangkan lewat parlemen. Pesan ini penting karena Hasan Tiro meninggal dunia tanpa meninggalkan “PR” karena perjuangan dengan senjata telah dilakoni semasa sang ideolog hidup mulai satu pucuk pistol masa pergerakan Aceh Merdeka (sebelum GAM ) sampai disepakati perdamaian dengan catatan Republik Indonesia menarik pasukan dari Aceh sementara dari pihak GAM mengikhlaskan senjata dipotong.

Partai lokal yang notabene lahir pasca perdamaian adalah keniscayaan estafet perjuangan Hasan Tiro. Seharusnya kita malu sama almarhum Hasan Tiro karena ia berjuang puluhan tahun sampai harus meninggalkan daerah asal yang paling dicintainya. Perjuangan yang perlu dilanjutkan oleh pemimpin Aceh sekarang adalah mewujudkan asa Hasan Tiro yakni “memerdekakan” rakyat Aceh dari jurang kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan.

Tidak ada lagi masyarakat yang mempertanyakan mengapa rumah dhuafa yang telah disepakati kemudian ditunda. Tidak ada lagi pemukulan anggota parlemen hanya karena ingin mengibarkan sesuatu yang telah disahkan serta tidak ada lagi mantan kombatan yang menulis surat terbuka kepada Plt Gubernur yang mempertanyakan Aceh mau diapakan? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya menunjukkan betapa kita telah mengecewakan Hasan Tiro sekaligus menunjukkan sikap kita yang belum ‘dewasa’ dalam mengelola keuangan untuk mensejahterakan Rakyat Aceh.

Semangat yang telah digelorakan oleh Hasan Tiro yang selalu dikenang setiap tanggal 4 Desember, semoga menjadi titik balik cara berfikir pemimpin Aceh dalam memakmurkan rakyat Aceh, bukan memakmurkan kelompoknya sehingga yang dicita-citakan almarhum menjadi kenyataan meskipun beliau sendiri tidak bisa merasakan nikmat dari perjuangannya sendiri. Kondisi Aceh hari ini begini tercapainya MoU Helsinki, Otsus, lahir partai lokal, Badan Dayah, Syariat Islam, adanya BRA sebenarnya ini semua adalah bagian dari perjuangan almarhum Hasan Tiro. Sang proklamator sudah mengakhiri masa konflik (perang) dengan salaman (perdamaian), dari tam tum sampe mumat djaroe.

*)Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta.

KOMENTAR FACEBOOK