Membaca Aceh dari Sekarung Gula Pasir

Muhajir Al-Fairuzy.

Oleh: Muhajir Al-Fairusy*

Sejak gula pasir (GP) yang diperas dari tebu diperkenalkan ke pasar oleh industri, sejak itu butiran putih seperti pasir dengan rasa manis ini mulai digandrungi oleh masyarakat dunia, tak terkecuali Aceh. Bahkan, Aceh sebagai salah satu provinsi yang kerap merasa dirinya selalu “manis” jika bercermin pada sejarah masa lampau justru membutuhkan gula pasir lebih banyak setiap hari (berkarung-karung), seiring meledaknya jumlah kedai kopi di negerinya saban tahun yang tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Tak ada pelosok dan tikungan jalan yang tidak ada penjaja kopi dengan saring seperti kaus kaki berwarna putih dengan cara diangkat tinggi-tinggi di Aceh. Satu sendok kopi selalu ditambah satu sendok gula pasir. Pelanggan kedai kopi juga tak pernah sepi di negeri yang konon paling sulit ditaklukkan Belanda tersebut.

Kondisi ini membuktikan jika budaya tutur memang mengakar dalam struktur masyarakat Aceh dibanding budaya literasi (baca dan tulis). Budaya tutur ini pula yang selalu melambungkan cerita kehebatan Aceh di mata generasi mudanya saat berkisah hebatnya mereka melawan Belanda dulu dan pernah jaya pada abad ke-17 M.

Tidak hanya membantu bunyi mesin industri kedai kopi semakin nyaring, gula pasir bahkan masuk lebih dalam ke tengah struktur sosial masyarakat Aceh. Fungsi gula pasir dalam takaran kilogram bahkan telah menjadi simbol relasi dan pertukaran sosial (meminjam istilah resiprositas, Mauss, 1992). Lebih jauh, gula (Aceh: saka) mempunyai makna sendiri dalam kehidupan masyarakat yang sangat menghormati Syariat Islam ter-formalisasi tersebut. Khusus dalam konteks ini, gula pasir tak bisa dilihat secara an sich, karena di balik takaran dan ukuran gula yang dipertukarkan, terutama pada saat urusan ritual cyrcle life (Aceh : Keureuja udep, keureuja mate) menjadi kunci kepentingan, kompromi dan rekayasa sebuah relasi sosial.
“Tamee/taba sikilo saka” adalah propaganda awal menjaga marwah diri dengan pihak lain saat bertamu. Tak tanggung-tanggung, untuk menghargai keberadaan gula di muka bumi ini, di Pidie bahkan terdapat nama wilayah-Lampoh Saka yang berarti kebun gula.

Pun demikian, meskipun gula berperan dan memiliki makna bagi masyarakat Aceh dalam urusan relasi sosial dan pendongkrak industri kedai kopi, gula pasir dalam satu dekade terakhir justru mulai membawa petaka bagi segelintir manusia Aceh. Angka penderita diabetes di negeri yang pernah memiliki kisah pilu tsunami meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hasil chek up sebagian borjuis Aceh di Penang-sebagai kiblat rumah sakit kebanggaan masyarakat cultural friction dari Arab, China, Eropa dan Hindia tersebut setidaknya mengarah pada pola konsumsi gula pasir yang terlampau berlebihan. Padahal Islam sebagai agama paling dihormati di Aceh telah mengingatkan bahaya berlebih-lebihan. Manis di awal, namun getir di ujung perjalanan kehidupan. Bayangkan, sudah tak terhitung anggota tubuh diamputasi akibat konsumsi gula yang tak terkontrol.

Walau telah menjadi mesin pembunuh secara perlahan, konsumsi gula pasir tak pernah surut. Masyarakat Aceh tidak melihat gula pasir sebagai parasit, karena manisnya seperti agama dalam bacaan Marxisme, berfungsi mempengaruhi alam bawah sadar. Bahkan, untuk melindungi gula pasir dari tuduhan jahat, penikmat kopi justru mengelabui krimmer dengan menyebutnya “susu.” Untuk secangkir krimmer yang terbuat dari gula pasir dan dipaksa kawin dengan kopi, pemburu kopi di Aceh mendesain istilah lokal “sanger,” berawal dari konsensus sama-sama me-ngerti untuk menegasi keberadaan susu jadi-jadian tersebut dalam secangkir kopi dengan ukuran minimalis. Bagaimanapun, keberadaan “susu KW-1” krimmer telah membunuh identitas susu murni sebenarnya dalam kaleng cap beruang. Kondisi ini nyaris menjebak seorang kolega saya dari Jogjakarta, saat dijamu minum susu di sebuah kedai kopi oleh seorang teman saya dari Aceh yang tak pernah merantau. Kaget bercampur aneh saat ia menyeruput segelas krimmer berwarna putih bak susu murni yang dituduh susu oleh orang Aceh.

Gula pasir benar-benar merepresentasi kehidupan manusia Aceh dalam perilaku sehari-hari. Menampilkan kesan yang manis-manis dengan bumbu hiperbolik menjadi ciri dari jejaring komunikasi dengan sekumpulan orang Aceh pada momen tertentu, terutama untuk urusan “peu-ek/peu-rayeuk droe” (menyanjung diri sendiri). Urusan virus satu ini memang menyerang hampir seluruh penduduk di bumi yang bersebelahan dengan Samudera Hindia ini. Suka disanjung dan menyanjung diri sendiri seperti fitrah atau sunnatullah dalam kebudayaannya. Karena itu, akibat sanjung menyanjung ini muncul istilah “Nyoe ate hana teupeh, pade bijeh dipeutaba. Nyoe ate ka teupeh bu leubeh han meuteume rasa”. Bermodal sebagai daerah modal sebagai bumbu sanjungan nasional, frasa ini telah menghantarkan imajinasi banyak rakyat Aceh menempatkan diri sebagai suku bangsa paling berjasa bagi kemerdekaan Indonesia, dan diulang-ulang seperti irama frekuensi radio RRI menjelang tutup siaran di malam hari. Pada saat bersamaan, sumber daya alam Aceh sebagai modal masa depan justru terus dikeruk tanpa ampun, seperti gula menghabisi daging akibat diabetes.

Otsus yang mengepung kehidupan manusia Aceh dalam satu cuplikan bak gula pasir. Manisnya bahkan membuat lupa manusia-manusia yang dulunya begitu sangar, ngotot ingin mensejahterakan Aceh jika mampu berdiri sendiri. Realitasnya, gula pasir bermana otsus telah menjadi candu yang akan berakhir dengan kebutaan dan operasi amputasi pula. Lebih menyeramkan, mengingat arena sejarah sudah menunggu memberi narasi terburuk bagi mereka yang mulai digrogoti diabetes-otsus. Materi yang melimpah benar-benar telah memisahkan mereka yang dulunya sangar dengan masyarakat awam yang sempat berimajinasi akibat taburan mimpi kesejahteraan di atas kaki sendiri. Ironinya tidak demikian. Gula pasir memang manis bak kristal di awal, namun kerap menjadi petaka di akhir.

*)Peminat Studi Perbatasan Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK