Kpop dan Drama Korea yang Fenomenal Itu

Processed with VSCO with c1 preset

Oleh Tarini Mahbengini*

Ada dua hal yang paling digandrungi oleh kawula muda hingga ibu rumah tangga saat ini dari Korea Selatan. Yaitu Kpop dan drama Korea (drakor) yang bila di Indonesia disebut sinetron alias opera sabun. Korsel berhasil membangun dunia hiburan yang sempat ditiru habis oleh pelaku entertaiment Indonesia.

Sepertinya “demam” Kpop dan drakor belumlah berakhir. Bahkan semakin besar walau di kalangan usia yang terbatas. Ini benar-benar menjadi berkah bagi Korsel yang berhasil menghadirkan sumber pemasukan baru melakui dunia hiburan yang eye catching banyak generasi muda di banyak negara di dunia.

Banyak remaja di berbagai belahan dunia mengidolakan artis-artis Korea. Para remaja menganggap artis Korea sosok yang sempurna, dan remaja pun ikut-ikutan dengan apa pun yang mereka konsumsi, seperti kosmetik, fashion, makanan dan lainnya.

Pesohor dunia hiburan Korea semakin mempengaruhi pola-pola pemikiran para remaja pecinta Kpop dan drakor. Bahkan dalam banyak hal mereka justru mulai meninggalkan identitas negerinya, dan menjadi kekorea-koreaan, dengan cara meniru habis gaya berpakaian personel Kpop dan bintang drakor. Termasuk menggemari semua hal yang disukai–atau yang diendors– oleh pesohor tersebut.

Jean Baudrillard mengatakan kemajuan teknologi bukan lagi sebagai penghasil masyarakat produksi tapi juga penghasil masyarakat konsumsi sehingga mereka menjadi hiperealistis. Nah ada hubungan antara pemikiran Jean Baudrillard dengan tingkah laku seseorang pencinta Kpop dan drakor.

Para pencinta Kpop dan drakor adalah seseorang yang mengkonsumsi sesuatu dan menjadi hiperealistis, maksud dari hiperealistis adalah seseorang itu bagaikan hidup di dunia maya dan bukan lagi hidup di dunia sendiri. Sebagai contoh drakor Descendents of the Sun, yang keromantisan di dalam opera sabun tersebut digilai oleh pemirsanya.

Banyak penonton fanatik drakor mengidam-idamkan pasangannya seperti So Joong Ki dalam drama tersebut. Sehingga mereka mengkhayal pasangan mereka juga begitu. Ada pula yang mengaku bila best friend mereka adalah artis Korea. Itulah salah satu contoh hiperealistis, yakni bukan lagi hidup di dunia sendiri tetapi hidup dari bayang-bayang drama korea.

Pengaruh lainnya seperti penggunaan kosa kata Korea ke dalam percakapan sehari-hari. Termasuk salam sudah pun menggunakan bahasa Korea yaitu annyeong. Selain itu, biasanya mengungkapkan cinta dengan kata aku cinta kamu kini diubah dengan kata saranghae.

Dunia hiburan di Korea Selatan adalah bisnis mereka. Jadi kita tidak boleh menyalahkan hal itu. Tidak hanya ada sisi negatif di dalam drakor tetapi ada pula sisi positifnya, tergantung bagaimana lagi seseorang itu menyaringnya. Jadilah seperti ikan di lautan yang tidak pernah keasinan dengan air laut.

*)Mahasiswa jurusan KPI, Fakultas Dakwah, Universitas UIN Ar-Raniry.