Akankah Artificial Intelligent Mendisrupsi Guru?

ILustrasi. Gambar via http://www.tulisan.com

Oleh Ikhwanul Muslim, S.Pd.,M.Pd*

Robot mengalahkan manusia dalam bermain catur. Sebuah berita yang dimuat pada Republika.co.id dengan judul “Robot Gantikan Atlet Catur! Master Catur Korea Ini Sampai Pensiun!”. Berikut cuplikan beritanya “Master permainan catur China ‘Go’, Lee Sedol, memutuskan pensiun dari kompetisi profesional karena kelahiran mesin kecerdasan buatan (AI) yang begitu jago dalam gim itu. Lee pernah melawan robot berbasis AI, AlphaGo pada 2016. Dari 5 laga yang dimainkan, ia hanya menang satu kali. Dari situ, AlphaGo buatan Google semakin canggih dan mengalahkan pemain top lain di seluruh dunia.

Demikianlah sekilas fakta dan bayangan yang terbentuk dalam benak kita tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) jika dia hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Begitu menakutkan, karena akan menggantikan peran kita yang selama ini mempunyai profesi tertentu akan hilang, seiring dengan semakin majunya AI. Bahkan kita membayangkan AI seperti digambarkan dalam film, yakni robot yang mampu berpikir serta ingin menguasai dunia dan menjajah manusia.

Dikutip dari KumparanTechno “Padahal faktanya teknologi di Indonesia, khususnya teknologi kecerdasan buatan, berkembang cukup pesat. Menurut International Data Corporation (IDC), sebuah perusahaan IT market research, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal adopsi artificial intelligence (AI) di ASEAN. Hasil penelitian IDC menyebutkan 24,6 persen organisasi di Indonesia sudah menerapkan kecerdasan buatan.”

Kemajuan dunia teknologi dan informasi telah berakibat pada bidang kehidupan yang lain. Perubahan tersebut antara lain merangsek ke cara manusia berkomunikasi, mendapatkan informasi dan memasok gaya hidup. Terlebih ketika telah ditemukan smart phone, seseorang bisa menjelajah dunia tanpa beranjak dari tempat duduk. Kapan saja dan dimana saja. Kecerdasan Buatan/Artificial Intelligence (AI) merupakan salah satu bagian dari kemajuan di era industri 4.0
Secara singkatnya AI, mengacu pada simulasi kecerdasan manusia dalam mesin yang diprogram untuk berpikir seperti manusia dan meniru tindakannya.

Tidak dapat dipungkiri, kehadiran kecerdasan buatan sangat penting di era perkembangan teknologi yang kian pesat ini. Artificial intelligence akan memudahkan aktivitas dan pekerjaan manusia, bahkan membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat.

Salah satu contohnya adalah implementasi konsep smart city atau kota pintar, seperti yang dilakukan Nodeflux dan Jakarta Smart City. Pemanfaatan AI antara lain layanan pemanfaatan optimalisasi transportasi publik untuk smart mobility, Pemerintah DKI Jakarta yang lebih transparan menuju smart government, optimalisasi pengawasan volume air secara berkala untuk smart living, serta pengelolaan data terkait pariwisata di Jakarta untuk smart tourism.

Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini juga mulai diterapkan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Misalnya, dalam memprediksi cuaca, iklim, hingga pemodelan tsunami dan peringatan gempa. Sehingga prediksi dan pemodelan seperti itu sudah tidak dilakukan secara manual lagi, tetapi sudah menggunakan teknologi AI.

AI dan Dunia Pendidikan

Bagaimana pula pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, khususnya guru. Apakah peran guru akan tergantikan seiring dengan majunya AI? Dengan segala kecanggihannya sebuah aplikasi dapat menjawab pertanyaan dari murid dengan sangat teratur. Menampilkan segala macam fakta dari berbagai penjuru dunia. Algoritmanya semakin komplek dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa. Dengan timbunan data yang terus dianalisis, informasi yang ditampilkan juga semakin menarik. Demikianlah kira-kira yang terbayang apabila AI akan mengganti peran guru.

Namun hal tersebut di atas terlalu ditakutkan. Kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Sama seperti komputer bersama perangkatnya ketika memasuki dunia pendidikan. Saat itu, kita menakutkan komputer akan menggantikan guru di kelas dengan berbagai media yang berbentuk digital. Ternyata dikemudian hari komputer hanya menjadi alat ataupun media untuk memudahkan pembelajaran.

Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari pemanfaatan AI seperti pemanfaatan ponsel pintar dalam mencari tempat makan, belanja, dan sebagainya. Dalam dunia pendidikan, pemanfaatan AI diharapkan dapat mempermudah kegiatan belajar mengajar. Ethel, Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) 
percaya AI dapat mempermudah kinerja guru, terutama dalam urusan administratif seperti menentukan nilai akhir berdasarkan bobot penilaian.Tak hanya itu, menurut Ethel, teknologi AI juga dapat mempermudah guru dalam melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Karena mereka dapat mengunduh bahan ajar dari berbagai sumber di seluruh dunia dan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Para guru tidak perlu menghindari perkembangan teknologi ini. Namun kita harus menyikapinya dengan baik. Guru tidak harus bertanding dengan aplikasi dalam menghafal sekumpulan rumus, hukum, ataupun fakta. Dikarenakan mesin akan lebih mahir dalam hal tersebut. Lebih daripada itu dengan adanya AI, para guru diharapkan dapat mengembangkan strategi mengajar yang lebih baik agar siswa sampai ke tujuan pelajaran.

Tugas dan peran guru, tidak lagi pada tataran mentransfer ilmu. Hal ini dikarenakan jika guru masih menggunakan strategi tersebut dia akan tertinggal dengan teknologi yang serba cepat dan akurat. Guru harus lebih fokus pada mendidik karakter siswa, yang tidak dapat dilakukan oleh mesin.

Guru tidak boleh hanya mengajar seperti yang tertulis di buku, dia akan tergantikan oleh teknologi. Ki Hajar Dewantara pernah memberi nasihat, bahwa hakikat pendidikan adalah mengembangkan karakter, pikiran, dan jasmani siswa. Sehingga dengan demikian maka profesi guru tersebut tidak akan tergantikan oleh kecerdasan buatan. Bagaimana cara guru menginspirasi, memotivasi, membuat siswa menjadi pelajar yang baik itu adalah beberapa tugas guru yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Paradigma guru sebagai subjek utama pemberi ilmu saat ini harus benar-benar ditranformasikan menjadi guru sebagai fasilitator. Kemampuan pembelajaran abad 21 sangat relevan dengan perkembangan AI. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif harus terus dibimbing kepada peserta didik oleh seorang guru. Guru tidak akan terkejut lagi, ketika siswa membawa setumpuk data yang belum pernah dilihat atau didengarnya di kelas. Karena guru akan lebih banyak membimbing bagaimana cara menganalisis, mensintesis bahkan menciptakan sesuatu kepada siswanya.

Kita akan banyak merenung membaca sepenggal paragraf opini dari saudara Miswari pada media AcehTrend mengenai kecerdasan buatan yang berbunyi “Manusia akan kembali fokus pada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan AI seperti menyusui bayi sambil memeluknya dengan erat, berjalan-jalan di taman sambil menggandeng tangan anak dan suami, merawat orang tua sambil memberinya ciuman penuh kasih.”

Demikianlah perkembangan AI dan korelasinya dengan bidang pendidikan. Guru tidak perlu takut dan bersaing atau bahkan menjadi ancaman dengan produk dari AI. Namun lebih dari itu dengan adanya AI akan mempermudah guru dalam menyiapkan manusia sebagai khalifah secara kaffah dimuka bumi.

*)Penulis dalah pengamat pendidikan serta sekjen Komunitas Menulis Ababil Pantai Barat Selatan