Nisan

Muhajir Juli.

Oleh Muhajir Juli

Nisan adalah tanda. Dibuat oleh manusia yang masih hidup untuk mereka yang telah tiada. Bermacam-macam model nisan dibuat, tergantung kepentingan manusia yang masih hidup. Secara umum, untuk mereka yang umum, nisan hanya dibubuhi nama almarhum lengkap dengan nasab terdekat, tanggal lahir dan tanggal berpulang.

Di dunia perkuburan, nisan memiliki peran penting. Sebagai penanda pusara seseorang. Nisan ditancap di ujung gundukan.

Di dalam Islam, nisan bukan sesuatu yang wajib. Tapi telah menjadi kelaziman. Lagi-lagi sebagai tanda, pernak pernik yang tak mengapa bila tak ada, tapi sudah menjadi “seakan harus” ada. Dapat dipahami lebih jauh, menurut sebagian ulama, pemasangan nisan dan sejenisnya merupakan sesuatu yang dianjurkan.

Rasulullah SAW sendiri menandai makam saudara susunya, Utsman bin Mazh‘un, dengan meletakkan batu besar di atas makamnya.

Tapi, oleh manusia, nisan terkadang bukan sebagai penanda biasa. Kerapkali dijadikan sebagai identitas politik–terlepas andaikan masih hidup si empunya kubur sepakat atau tidak. Maka tidak heran bila di nisan, juga ditambah emblem bendera dan simbol politik lainnya.

Penambahan emblem tersebut, bukan kebutuhan mayit. Itu kebutuhan manusia dengan menumpang pada mayit. Semacam membentuk semangat heroisme.

Di era lampau, di nisan-nisan kuno milik muslim yang ditemukan di Aceh, banyak nisan yang juga diukirkan syair dalam bentuk kaligrafi.

Nisan, apalagi yang sudah ditambahkan ragam macam “aksesoris” itu hanya sesuatu yang berhubungan dengan orang hidup saja. Tak berdampak kepada ahli kubur. Segarang apapun bentuk nisan dibuat, takkan pernah bisa mengubah paradigma malaikat. Seindah apapun nisan diukir, takkan menjadi bekal si mayat di dalam kubur.

Karena nisan dan amal, betapapun seakan dekat antara keduanya, tetapi dua hal yang berbeda dan tidak memiliki hubungan sama sekali. []

*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK