Buruknya Film & Program Televisi Kita

Oleh: Shinta Melandika*

Film, tepatnya sinema, sudah tidak asing lagi bagi kita. Kita dapat menonton berbagai film melalui televisi atau sebagian menontonnya di bioskop. Film dibuat dari ide-ide imajinasi seorang sutradara yang dikemas menjadi sebuah rangkaian cerita yang menyampaikan berbagai pesan.

Dunia film makin berkembang dari masa ke masa, terlihat dari sisi teknologi zaman sekarang semakin canggih alat-alat yang digunakan dari masa ke masa. Pertanyaannya adalah bagaimana film-film yang disajikan oleh di negara kita sendiri Indonesia ?

Industri film Indonesia banyak memproduksi film-film yang bermanfaat untuk masyarakat. Film yang berbalut religi ataupun film yang mencontohkan perilaku-perilaku kebaikan untuk masyarakat.

Namun tidak sedikit pula hal-hal negatif yang diproduksi. Seperti film horor yang lebih menunjukkan sisi erotis ketimbang ceritanya yang menakutkan. Sensualitas tubuh perempuan lebih ditonjolkan sebagai jualan ketimbang jalan cerita yang masuk akal.

Di dunia pertelevisian setali tuga uang. Televisi Indonesia kerapkali memproduksi program receh seperti FTV dan sinetron. Dua jenis hiburan tersebut kerapkali memunculkan cerita perselingkuhan, hamil di luar nikah, anak haram dan kehidupan glamour. Juga kehidupan kota yang seakan-akan jauh dari nilai kemanusiaan. Seperti bully membully antara satu sama lain. Juga perbedaan kasta antara kaya dan miskin. Orang kaya yang selalu dicitrakan negatif dan orang miskin dalam kondisi teraniaya serta tidak memiliki kemampuan membela diri.

Dalam siaran televisi Indonesia juga banyak yang menampilkan iklan yang tidak sesuai dengan syariat Islam ataupun agama.

Tontonan yang demikian tentu sangat buruk untuk masyarakat Indonesia. Karena semakin banyak lahir tontonan yang mencontohkan perilaku-perilaku yang negatif maka anak di bawah umur yang pemikirannya masih sangat penasaran akan melakukan apa yang ditontonnya.

Fakta yang berdampak terhadap masyarakat baru-baru ini adalah, bahwa ada anak kecil sudah pandai membully temannya yang lemah hingga sang teman meninggal dunia. Mereka ramai-ramai membully satu orang. Bullian itu bukan hanya melalui kata-kata, tapi melalui kontak fisik.

Fakta lain banyak anak sekolah bahkan anak SD sekarang yang sudah tahu bagaimana percintaan, sehingga banyak dampak-dampak buruk yang mereka praktekkan diakibatkan apa yang di perlihatkan oleh tontonan televisi.

Juga banyak senior-senior dalam sekolah tinggi, ketika ospek, mereka mendidik keras juniornya dengan kekerasaan karena ingin memperlihatkan kekuasaan.[]

*)Penulis adalah mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Ar-Raniry.