Makna Simbol Buraq Perempuan

Oleh Miswari*

Singa adalah lambang kekuatan di bumi, buraq adalah lambang keistimewaan di langit. Maksudnya adalah, kita harus memiliki kualitas dan mendedikasikan diri untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Kalau dianggap lambang buraq menghina Nabi Muhammad, di situ jadi lucu. Seorang yang membuat lambang itu seolah dianggap tidak cinta Nabi Muhammad. Kalau dianggap lambang buraq itu bukan budaya Aceh, ini jadi lebih lucu lagi. Karena saya telah beberapa kali menemukan gambar ukiran buraq di relif meunasah-meunasah lama, rumah Aceh, di beberapa gampong di Aceh. Bahkan lambang lambang buraq banyak disimpan orang Aceh khususnya, masyarakat Indonesia umumnya, sebagai kaligrafi yang bertuliskan kalimat syahadat, shalawat, dan ayat-ayat Alquran.

Mengenai buraq yang mirip kepala perempuan dan singa jantan. Maknanya adalah untuk menyeimbangkan aspek feminim dan maskulin. Aspek feminim dan maskulin ini bukan bermakna literal sebagai jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Tetapi, menurut literatur sufi, itu adalah lambang Jamal dan Jalal.

Dalam bagian tentang Nabi Muhammad dalam Fusush Al-Hikam, Ibn Arabi menjelaskan bahwa perempuan (aspek feminis, jamal, bukan jenis kelamin perempuan), adalah lambang bagi aspek transendensi. Sementara Laki-laki (aspek maskulin, jalal, bukan jenis kelamin laki-laki) adalah lambang imanensi.

Hamzah Fansuri dalam Asrar Al-Arifin mengatakan dalam segala entitas alam terkandung aspek jamal dan jalal yang mana kedua aspek tersebut berasal dari Nafs al-Rahman. Terkadang suatu entitas lebih dominan aspek maskulinnya (jalal). Sementara entitas lain lebih dominan aspek feminimnya (jamal).

Setiap lambang memiliki makna filosofisnya. Tidak bisa diterjemahkan secara literal. Demikian juga bendera Indonesia. Merah berarti matahari. Yang artinya kita harus menyadari bahwa manusia dan alam semesta berasal dari transendensi ilahi. Putih berarti air. Maknanya adalah manusia dan alam semesta ditahbiskan ke dunia untuk berbuat kebaikan dan bermanfaat bagi sesama.

Demikian juga dalam lambang Garuda Pancasila. Sayap burung adalah simbol langit, tanzih, transendensi. Sementara pita atau ular adalah simbol bumi, tasybih, immanensi. Yang mana dalam aspek immanensi, terjadi keberagaman, namun hakikatnya adalah kesatuan, wahdah fi ‘ayn katsah, bhinneka tunggal ika. Meskipun beragam, tetapi harus satu. Hudep beusaree, matee beusajan. Se iya sekata. Prinsip persatuan. Semangat gotong-royong.

*)Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

KOMENTAR FACEBOOK