Mendulang Serpihan Emas di Krueng Tangse

Abdul Mufakir sedang mendulang emas secara tradisional @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

HUJAN baru saja reda, Abdul Mufakir (46), bersiap-siap turun ke tepian sungai yang tak jauh dari rumahnya. Pria asal Pulo Seunong, Kecamatan Tangse, Pidie ini kerap menghabiskan aktivitas sehari-harinya sebagai pendulang emas secara tradisional. Dengan menggunakan lempengan kayu berbentuk belanga, ayah tiga anak ini mengambil pasir-pasir di bawah batu kali. Kemudian, ia memasukkannya ke dalam belanga kayu. Setelah cukup banyak, ia mengaduk-aduk pasir dengan gerakan memutar-mutar hingga butiran pasir itu hilang sedikit demi sedikit hanyut dibawa air.

Entah berapa kali ia sudah mengaduknya, tapi raut wajahnya masih belum berubah. Belum seserpih pun butiran emas yang ia peroleh meski hari kian beranjak siang.

“Hasilnya tidak menentu, kalua lagi ada rejeki biasanya sampai Rp300 hingga 500 ribu per harinya. Tapi kalau nasibnya tak bagus, kita pulang dengan tangan kosong,” ujar Abdul Mufakir kepada aceHTrend saat ditemui di lokasi, Minggu (8/12/2019).

Kawasan hutan Tangse, Mane, dan Geumpang di Kabupaten Pidie kini ramai diperbincangkan publik. Selain memiliki panorama alam yang indah, potensi sumber daya alam juga berlimpah. Salah satunya adalah kandungan bijih emas yang terdapat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Tangse–Geumpang. Warga yang mayoritas mendiami daerah pedalaman Kabupaten Pidie ini menggantungkan mata pencaharian sebagai pendulang emas tradisional.

@aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Setiap harinya, puluhan pendulang emas yang terdiri atas kaum laki-laki maupun perempuan datang silih berganti. Aktivitas yang dilakukan warga kini sudah menjadi sumber mata pencaharian andalan. Pasalnya, mereka berharap penuh harapan dengan segenggam emas yang diperoleh. Maka tak heran, mereka juga banyak mendirikan tenda-tenda untuk menginap di tengah belantara hutan. Ini dikarenakan termotivasi atas keberhasilan rekan-rekannya yang memperoleh beberapa serpihan berupa kerikil emas.

Di bawahnya sungai mengalir ke hilir, mengantar jalan ke perkotaan, namun Gusmaidar (57) berencana tetap berada di sungai itu, seperti hari-hari sebelumnya. Mereka mengaku, rejeki berlimpah saat debit air sungai berkurang. Hal ini memudahkan mereka untuk mendulang emas yang masih bersembunyi dalam butiran pasir.

“Emas yang kita urai ada di sekitar pasir-pasir yang berada di bawah batu sungai. Jika kita keruk semakin dalam, maka semakin besar peluang untuk kita dapatkan emasnya,” kata Abdul Mufakir.

Sementara itu, tak jauh dari lokasi dirinya mencari emas, ada sejumlah orang juga ikut mendulang emas. Mereka memiliki cara berbeda saat menyisihkan butiran emas dari pasir dan kerikil sungai.

Mengandalkan sekop, mereka mengeruk pasir di bawah batu sungai secara bergantian, sehingga potensi hasil yang diperolehnya lumayan banyak.

Mereka mengaku sudah lama menggeluti profesi sebagai pendulang emas tradisional. Ini dikarenakan profesi mereka tidak dieksploitasi sehingga tidak merusak lingkungan.

Awalnya, ia mengaku pernah ada yang mencari emas menggunakan mesin sehingga terjadi kerusakan lingkungan.

“Berdasarkan kearifan lokal, kegiatan tersebut dihentikan, namun mencari emas secara tradisional dengan mendulang masih dipertahankan hingga sekarang,” ujar pria lain yang enggan namanya ditulis.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK