Belajar Tsunami di Deburan Ombak Pasie Jantang (1)

Laporan Murizal Hamzah

“Mayat hidup, mayat hidup, mayat hidup,” teriak Arif mengisahkan pengalamannya 15 tahun lalu. Nestapa berbekas itu tidak bisa dilupakan. Dia menguraikan secara ringkas dalam testimoni mengenang gempa bumi yang disusul tsunami. Arif kehilangan istri setelah smong menyerbu rumahnya di kawasan Kahju – yang berada di bibir pantai Samudera Hindia – dan terlempar ke kawasan Kampus Darussalam, Banda Aceh sekitar sejauh 3 kilometer.

“Baju saya terlepas dari badan. Warga memandikan saya yang menduga saya sudah meninggal dunia dan dimasukan ke kantong jenazah. Padahal saya pingsan. Begitu siuman, saya bangun dari kantong jenazah dan warga berteriak mayat hidup,” kenang didampingi istri dan 2 anaknya pada Sabtu (7/12/2019) malam di kawasan Pantai Pasie Jantang, Lhoong Aceh Besar. Seribu peserta ibu rumah tangga, pekerja sosial, pelajar, dan prajurit TNI, personel Polri, pemuda Muhammadiyah, pemuda NU, Pramuka dan lain-lain. Di bawah tenda berukuran raksasa, mereka sangat tekun mengikuti ruang kelas yang diisi oleh pemateri dari BNPB dan instansi pendukung, seperti BMKG, Arsip Nasional, dan lain-lain. para peserta Keluarga Tangguh Bencana (Katana) berasal dari seluruh Indonesia dan 23 kabupaten/kota di Aceh.

Peh rapai (pemukulan rapai) oleh Doni dkk sebagai tanda dimulainya Program Katana di Indonesia yang dimulai dari Aceh pada Minggu (8/12/2019) di Desa Pasie Jantang Aceh Besar. Foto: Murizal Hamzah.

Arif adalah salah satu contoh yang ditampilkan ke pentas yang tidak paham tentang tsunami. Setelah Arif berbicara, keluarga Arif itu turun panggung. Secepatnya Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo yang duduk beralas terpal oranye menyalami mereka. Dalam remang-remang sinar bulat Arif masih menyimpan duka mendalam. Doni menepuk bahunya memberikan semangat. Jika dulu Arif adalah penyintas/korban tsunami, kini dia pegawai di Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Pernah dikirim ke gempa di Padang selama 1 bulan.

Jika Arif mewakili mayoritas warga Aceh yang tidak paham perihal tsunami, sebaliknya seorang dosen di Unsyiah yang bernama Muhammad Irham, S.Si,M.Si., paham jika terjadi gempa besar seperti yang dialaminya, berpeluang terjadi tsunami. keluarga itu meminta warga sekitarnya untuk menjauh dari pantai. hasilnya, mereka selamat dari kejaran lumpur tsunami. bahkan sebelum tsunami 2004, sang dosen itu memberi mata kuliah perihal gempa dan tsunami.

“Melalui program Katana, diharapkan setiap keluarga paham apa itu tsunami dan menghadapinya,” jelas Doni yang kemudian meluncurkan program Katana pada Ahad, (8/12/2019) pagi.

Tidak bisa dibantah lagi, kata tsunami pada Desember 2004 tidak dikenal di Aceh secara umum. Warga menyebut “ie laot diek” alias air laut sudah naik. Bahkan perwira Doni yang kala itu berdinas di Lhokseumawe tidak tahu kata tsunami. Adiknya yang berada di Jepang menghubungi mantan Komandan Kopassus itu untu berhati-hati jika gempa besar akan disusul oleh tsunami. Apa itu tsunami? adiknya menjelaskan perihal tsunami dan sebagainya.

“Jika rakyat Aceh tahu tentang tsunami, maka korbannya tidak akan banyak,” jelasnya, Doni sedih.

Sang jenderal yang menghabiskan masa kecil sekitar 10 tahun di Aceh Barat, Peuniti Banda Aceh dan Lhokseumawe menuturkan korban sebanyak ini karena ketidaktahuan masyarakat bahaya tsunami pasca gempa besar serta jalan-jalan pagi ke pantai pada Minggu pagi yang menjadi tradisi sebagian besar warga Aceh. Doni menerangkan setelah patahan lempeng dasar laut dengan pusat gempa di sekitar Calang Aceh Jaya, terjadi gempa dahsyat. Air laut menyusut cepat, ikan pun terpapar di pantai yang menarik warga untuk memunggut ikan. Warga kalah cepat melawan gerak cepat tsunami yang mencapai 700 km per jam atau setara kecepatan rata-rata pesawat terbang 700 km per jam.

Ancaman Gempa di Aceh: Indonesia khususnya Aceh berada dalam kawasan ancaman gempa yang berpusat di lautan Samudera Hindia dan daratan Bukit Barisan. Slide ini diperlihatkan kepada peserta Katana di Desa Pasie Jantang, Aceh Besar. Foto: Murizal Hamzah.

“Mengenang 15 tahun tsunami itu, BNPB mengagas program prioritas yang dinamakan Katana mengenang dan mendoakan para korban. Di Desa Pasie Jantang, dari 1.000 warga, yang tersisa sekitar 300 warga karena tidak berada di gampong. Bukit kerang setinggi di atas 10 meter dilewati oleh tsunami,” pungkas Doni yang selama 2 malam tidur beratap tenda biru diiringi deburan ombak pantai Pasie Jantang yang berhadapan dengan Samudra Hindia. Biasanya tamu tidur di hotel berbintang 5, kali ini tidur di lapangan hijau beratap seribu bintang.

*)Murizal Hamzah, wartawan dan salah satu penulis buku Smong Purba, Jejak Bencana Aceh.