Demi Konektivitas Aceh, Nurzahri Dukung Pembelian Pesawat N219

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Senin (9/12/2019) di pabrik milik PT. Dirgantara Indonesia. Foto: Humas for aceHTrend.

ACEHTREND>COM, Banda Aceh-Pengamat dunia penerbangan Aceh, Nurzahri yang juga sarjana teknik penerbangan lulusan ITB mendukung penuh rencana Pemerintah Aceh membeli pesawat N219.

Dukungan itu disampaikan Nurzahri lewat rilis yang diterima aceHTrend, Selasa (10/12/2019), setelah Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menandatangani perjanjian kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) pengadaan pesawat terbang N219 serta pengembangan sumber daya manusia dan pengoperasian angkutan udara Aceh dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Senin (9/12/2019).

“Saya sangat mendukung rencana pembelian pesawat N219 yang memang tercanggih di kelasnya, karena modal transportasi udara dapat menyelesaikan permasalahan konektivitas antar wilayah di Aceh,” ungkap Nurzahri.

Meskipun demikian, mantan anggota DPRA itu juga mengingat Pemerintah Aceh agar berhati-hati dalam pembelian pesawat tersebut apabila menggunakan Anggran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).

“Saya rasa perlu hati-hati dalam pembelian pesawat ini apabila menggunakan APBA. Karena perlu kesepakatan juga dengan DPRA sebelum menandatangani MoU dengan PT DI. Karena siapa yang dapat menjamin kalau DPRA akan menyetujui anggaran ratusan milyar tersebut,” ujarnya.

Menurut Nurzahri, dunia penerbangan mengandung prinsip high tecnology dan high risk sehingga butuh biaya mahal dalam perawatannya. Juga butuh tim atau kru profesional dengan honor lumayan tinggi [karena mereka harus tersertifikasi] sehingga pasti akan membebani APBA setiap tahunnya, apabila pengelolaan pesawat tersebut di sandarkan kepada APBA.

“Misalnya coba kita lihat sejarah pengelolaan airline milik pemda [BUMD] belum ada yang menunjukkan prestasi. Hampir semuanya bangkrut. Apalagi melihat kemampuan PT PEMA kita yang belum menunjukkan prestasi dalam pengelolaan perusahaan. Sehingga dikhawatirkan apabila diserahkan pengelolaan pesawat ini kepada PT PEMA, maka akan menyeret PT PEMA ke dalam kerugian yang semakin dalam,” katanya.

Nurzahri mengatkan, dalam setiap transksi pasti ada bonus sebagai komitmen fee. Dirinya berharap agar kejadian yang menimpa garuda tidak terjadi di pengadaan pesawat N219.

“Kita berharap semoga kejadian moge pada pengadaan pesawat Garuda tidak terjadi di pengadaan N219 ini,” pungkas Nurzahri.

KOMENTAR FACEBOOK