Katana Mengawal Siaga Bencana (2)

Ancaman Gempa di Aceh: Indonesia khususnya Aceh berada dalam kawasan ancaman gempa yang berpusat di lautan Samudera Hindia dan daratan Bukit Barisan. Slide ini diperlihatkan kepada peserta Katana di Desa Pasie Jantang, Aceh Besar. Foto: Murizal Hamzah.

Laporan Murizal Hamzah

Pasie Jantang – Ingatan manusia pendek. Ini adalah salah satu musuh menghadapi siaga bencana. Trik melawan ingatan yang sejengkal itu yakni harus sering diulang dalam bentuk hikayat seperti Syair Nadong yang mengulas peristiwa smong/tsunami. Melalui syair yang dilantukan kepada anak-anak di Pulau Simeulue. Artinya sejak kecil sudah diwaspadai jika gempa besar, segeralah angkat kaki seribu ke perbukitan.

“Melalui syair itu, warga Simeulue bisa menyelamatkan diri dari kejaran smong pada 2004. Hanya tujuh warga yang syahid,” jelas Kepala BNPB Doni Monardo di bawah tenda utama kemah di Desa Pasie Jantang, Lhoong Aceh Besar, Sabtu (7/12/2019) malam.

Dalam sentuhan hembusan angin laut, Doni beralasan perlunya keluarga siaga bencana. Segala peralatan teknologi tidak akan berguna jika keluarga dalam hal ini orang tua tidak berperan. Untuk itu, mantan anak kolong asrama TNI di Peuniti Banda Aceh ini memilih meluncurkan program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) di Pasie Jantang, Minggu (8/12/2019). Peluncuran Katana diiringi tabuhan satu rapai yang ditabuh oleh beberapa pejabat.

Doni mengingatkan warga untuk membangun keluarga tangguh bencana. Dia menegaskan bahwa keluarga merupakan kelompok terkecil yang paling rentan menderita karena bencana. Mereka diharapkan mampu menghindari atau meminimalkan risiko. Dengan demikian, ke depan persentase individu dan keluarga yang mampu bertahan hidup atau selamat mencapai 98%.

“Seandainya saja warga Aceh mengetahui dan memahami risiko serta meresponsnya, korban tidak akan banyak seperti saat itu pada 2004,” lirih pria semampai ini.

Mantan Danjen Kopassus ini menyebutkan pengetahuan kebencanaan menjadi sangat strategis sebagai salah satu tahap Katana. Setiap keluarga memiliki rencana darurat keluarga yang dapat dipraktekkan. Karena itu, pria yang menghabiskan masak kecil di Banda Aceh itu menegaskan warga harus siaga setiap saat dan di manapun berada.

Peh rapai (pemukulan rapai) oleh Doni dkk sebagai tanda dimulainya Program Katana di Indonesia yang dimulai dari Aceh pada Minggu (8/12/2019) di Desa Pasie Jantang Aceh Besar. Foto: Murizal Hamzah.

Masih pada kesempatan yang sama, mewakili Menteri Dalam Negeri, Direktur Manajemen Penanggulanga Bencana dan Kebakaran Kemendagri Syafrizal menyampaikan bahwa keluargalah yang paling menderita ketika bencana terjadi. Berbagai jenis ketahanan yang melekat pada keluarga dan ketahanan keluarga terhadap bencana sangat tepat.

Disebutkan, Indonesia telah memiliki Ketahanan Pangan, Ketahanan Negara dan segalanya dan kini ada Ketahanan Keluarga terhadap bencana alam. Untuk itu, alumni SMA 3 Banda Aceh itu mengutip ucapan kenali dirimu dan kenali musuhmu. Dengan demikian, kita paham bencana termasuk lokasi kemah tempat peluncuran Katana adalah daerah merah atau berbahaya bagi tsunami. Kenali diri merujuk pada kualitas keluarga yang dimiliki serta pada kemampuan pengurangan risiko bencana, sedangkan kenali musuhmu merujuk pada potensi ancaman bahaya yang ada di sekitar lingkungan.

“Kita beritahukan semua keluarga, kita peduli terhadap katana. Saya telah meminta seluruh pemda (pemerintah daerah) memasukan Katana sebagai program prioritas dan bagian dari SPM (standar pelayanan minimum) pemda,” ajak Syafrizal yang disimak oleh sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan.

Katana) merupakan mikromoskos dari penanggulangan bencana, dalam konteks bencana, keluarga menjadi fokus inti. Katana bagian dari Destana yang diimplementasikan pada 2020. Sasaran prioritas adalah masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana berdasarkan daftar di buku katalog bencana.

Keluarga ditingkatkan keselamatan, ketangguhannya dalam menghadapi kemungkinan atau potensi bencana. Akar permasalahan di lapangan yang ditemukan adalah kapasitas terkait pemahaman dan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang masih perlu ditingkatkan. Jika masalah-masalah tersebut teratasi, korban menjadi kecil.

Kunci Katana adalah adanya partnership/kemitraan antar lintas sektor. Katana adalah program bersama baik di pemerintahan maupun pemangku kepentingan lainnya

Tiga tahapan dalam katana yakni sadar risiko bencana mengetahui dan sadar akan risiko bencana di lingkungannya. Kedua, pengetahuan dalam mengetahui dan memperkuat struktur bangunan paham manajemen bencana, edukasi bencana. Ketiga, berdaya mampu menyelamatkan diri sendiri keluarga dan tetangga.

Keluarga memiliki peran penting dalam pengurangan risiko bencana karena keluarga adalah struktur masyarakat terkecil pertama yang memberikan sosialisasi kepada setiap anggotanya. Keluarga dapat memberikan sosialisasi pendidikan bencana sejak dini terutama kepada anak-anak dan remaja.

*)Murizal Hamzah, wartawan dan salah satu penulis buku Smong Purba, Jejak Bencana Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK