Bahas Ekonomi di Tengah Malam Pasie Jantang (3)

Hasil laut Aceh: Seorang peserta Kemah Peluncuran Program Katana Hasyim memperlihatkan ikan yang baru dibeli dari nelayan setelah menarik pukat di Pasie Jantang, Lhoong Aceh Besar, Sabtu (7/12/2019). (Murizal Hamzah)

Laporan Murizal Hamzah*

ACEHTREND.COM,Pasie Jantang – Tidak bisa dibantah salah satu faktor pemicu bencana alam seperti banjir karena pohon dibabat. Tujuannya untuk mengisi kebutuhan perut pelaku dan keluargannya. Hal ini dilakukan secara tradisional atau memakai alat berat. Jika sekadar mengisi lambung tidak berdampak besar. Sebaliknya jika secara masif dengan alat berat dan modal besar dengan laba untuk tujuh turunan, ini berdampak masyarakat yang menetap di bawah. Pengusaha dapat untung, warga dapat buntung.

Jika warga memiliki kerja yang tidak berkaitan dengan hal-hal yang merusak hutan, diyakini mampu mencegah kerusakan alam yang berdampak pada longsor, banjir bandang, dan sebagainya.

“Setelah berjuang dengan senjata, sekarang kita perang ekonomi. Teman-teman punya lapangan kerja,” jelas Kepala BNPB Doni Monardo, Jumat (6/12/2019) dini hari di hamparan Pantai Pasie Jantang, Lhoong, Aceh Besar.

Doni menyelipkan waktu sekitar 2 jam lebih dengan teman-teman yang berbeda ideologi negara pada masa dulu. Hari ini, mereka beradu lutut bahas perkara ekonomi. Masalah perut. Mantan gerilyawan itu curhat kepada jenderal bintang tiga ini. Mohon dikonekkan ke pelaku pemasaran atau pembelian.

“Kami bisa jual manggis atau pinang namun setelah ditampung, siapa pembelinya,” ungkap Jamal dalam diskusi bersahaja ditemani semilir angin dari Samudera Hindia.

Doni mendengar sekejab. Dialog berlanjut tentang jumlah manggis dan hal-hal yang berkaitan. Bagi Doni, jika warga sibuk kerja yang tidak merusak ekosistem, berarti alam bisa dijaga. Motto yang digaungkan alumni SD di Banda Aceh, “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”.

Disebutkan mayoritas kebakaran hutan di Indonesia karena ulah manusia. Dengan kata lain, dengan alasan ekonomi, warga mau membakar hutan untuk perusahaan perkebunan dan sebaginya. Pencegahan bencana alam harus dilakukan dari hulu ke hilir dengan melibatkan berbagai sektor.

Sang jenderal menghentikan bicara. Lalu mengeluarkan telepon pintarnya sekitar pukul 00.30 WIB. Loudspeaker dinyalakan. Terdengar bisikan dari seberang telepon. Tersebut kata manggis. Intinya, pengusaha itu siap menampung manggis dari Aceh. Telepon seluler dimatikan. Satu persoalan manggis selesai. Ternyata di balik Kemah Peluncuran Katana di Aceh, ada misi membawa kegiatan ini ke dunia investor bahwa Aceh aman berinvestasi.

Mengutip filosofi Lao Tze (570 SM): “Temuilah rakyatmu. Hiduplah bersama mereka, mulai dari apa yang ada”. Di malam itu Doni besar yang kecil di Aceh itu banyak mendengar plus memberikan solusi dan pemahaman terhadap kondisi sekarang.

“Dengan begini, kita bisa merasakan betul denyut nadi rakyat. Dalam konteks program Katana, kita menjadi tahu seberapa paham rakyat, khsusnya rakyat Aceh terhadap potensi bencana gempa dan tsunami,” ujar mantan Danjen Kopassus itu jelang peluncuran Progam Katana pada Minggu, (8/12/ 2019) yang diikuti oleh jajaran BPBD seluruh Indonesia, TNI, Polri, serta mitra penanggulangan bencana seperti perguruan tinggi, PMI, Orari, RAPI, LPBI NU, MDMC, media dan sukarelawan.

“Sudah tidak pada tempatnya kita bicara masa lalu. Kalau yang lalu kita berperang dengan senjata, perang sekarang adalah perang ekonomi. Perang dagang. Perang memperebutkan peluang dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera,” kata Doni kepada beberapa mantan lawannya di masa Darurat Militer 2003 dari Aceh Timur, Sabang dan lain-lain.

Mantan Pangdam XVI/Pattimura ini menuturkan ketika berdinas di sini, suatu hari pernah dijamu oleh salah satu bupati. “Saya dihidangkan lobster sepanjang ini,” kata Doni menjulurkan lengannya.

“Lobster Aceh adalah yang terbaik. Demikian juga jenis ikan yang lain. Saya tahu betul, kekayaan ikan di laut Aceh sangat kaya. Selain kuantitas berlimpah, kualitasnya juga nomor satu,” jelas mantan Pangdam III/Siliwangi ini.

“Benar, Pak. Kami kelebihan ikan. Tongkol terkadang dijual lima ribu rupiah per kilogram saja tidak laku, dan busuk,” jelasnya di bawah remangan bulan sabit

Tak hanya itu. “Produk gula aren kami yang terbaik di Aceh. Aroma dan tekstusnya khas. Produk gula merah kami bisa diadu dengan produk gula merah daerah mana pun.”

“Apa daya, Pak, untuk bawa gula ke luar Sabang, kami kesulitan. Pelabuhan Sabang benar-benar bebas. Bebas tidak ada kapal sama sekali. Apa kami disuruh makan gula?” jelas pria berotot itu.

“Kita jangan patah semangat. Kita harus berinisiatif. Buka jaringan. Penduduk Cina hampir 2 miliar. Jumlah penduduk India, hampir 1,4 miliar, “ Doni memberi semangat

“Ada yang tahu nilam?” tanya eks murid SMP 1 Banda Aceh ini.

“Tahu,” jawab mantan gerilyawan kompak.

“Ada yang tahu singkatan nilam?” Doni menguji lagi

Semua hening menikmati deburan ombak Samudera Hindia.

“Saya sudah ke Belanda. Nilam itu artinya Netherlands Indische Land ook Acheh Maatzcappij. Kekayaan Hindia Belanda di Aceh. Harga satu drum minyak nilam itu miliaran rupiah. Pasar Eropa terbuka lebar untuk ekspor nilam, dan Aceh punya peluang menjadi pemain utamanya. Jika semua potensi alam itu digali dan dipasarkan dengan benar, haqul yakin, rakyat Aceh akan makmur,” ajak jelas Doni.

Yang namanya pembicaraan di tengah malam, berputar ke sana dan sini seperti gasing. Namun fokusnya tentang pada ekonomi. Dua jam lebih mereka saling menyimak dan mengeluarkan aspirasi.

“Zal, ingatkan mereka tentang manggis dan tanaman porang yang diekspor ke Jepang itu. Lazimnya di mana ada benteng Jepang, ada tanaman itu,” ingat Doni kepada penulis.

Ketika jarum jam menunjuk angka 1 dini hari, Jamal dari Sabang menyatakan kita akhiri dulu.

“Ya Kita lanjutkan besok,” pungkas Doni menuju tenda birunya yang tidak dijaga oleh ajudannya.

Sementara penulis melanjutkan pembicaraan dengan eks gerilyawan agar diskusi di tengah malam buta ini ada aksi. Maklum kita bukan anggota NATO (No Action Talk Only) alias haba-haba mantong peh tem (bicara saja).

Murizal Hamzah, wartawan dan salah satu penulis buku Smong Purba, Jejak Bencana Aceh.

Baca juga:Katana Mengawal Siaga Bencana (2)

Belajar Tsunami di Deburan Ombak Pasie Jantang (1)