In Memoriam. Abu Lueng Angen: “Meunyo Bak Tgk. Muslim Mangat Ta Beuet”

Oleh Boy Abdaz

Inna lillaahi wainna ilaihi rajiuun. Kepada Allah pula sebaik-baik tempat untuk kembali. Professor Tgk. H. Muslim Ibrahim telah tutup usia di kediamannya Limpok, Aceh Besar pada 12 Desember 2019. Aceh telah kehilangan sebuah cahaya dari timur dan duka sedalam-dalamnya bagi ummat. Beliau adalah sosok sederhana dengan segudang ilmu yang Allah hidayahkan kepadanya.

Dalam usia 71 tahun beliau telah menyumbang begitu banyak pemikiran untuk Aceh. Seorang Guru Besar Hukum Islam dan menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Beliau juga menjadi bagian dari Majelis Ulama Asean dan beberapa peran pening lainnya.

Saya pernah lancang kepada beliau ketika pertama kali saya hendak bertemu untuk urusan yang sifatnya masih pribadi. Paman saya seorang Ustadz yang tinggal di Jakarta, Tgk. H. M. Noer Ahimy, Lc., di penghujung tahun 2002 meminta saya untuk menelusuri sebuah kitab karangan Prof. Dr. H. Muslim Ibrahim, MA yang judulnya dia ingat samar, tapi itu dari disertasinya. Berusaha mencarinya hampir di semua toko buku yang ada di Banda Aceh, dan saya tidak menemukannya. Akhirnya mendapat kabar bahwa buku itu belum pernah ada.

Akhirnya saya diarahkan untuk bertemu dengan beliau di kantornya, MPU Aceh. Dengan semangat ingin bertatap muka langsung dengan figur santun ini saya datang sendirian dan dijamu dengan baik di bagian Resepsionis dan menanyakan keperluan dan janji pertemuan. Oh, saya belum membuat janji pertemuan, tapi saya membawa sebuah pesan, kata saya. Mungkin meyakinkan, akhirnya saya diantar ke ruangan beliau.

Selesai bersalaman, beliau menanyakan hal yang sama, sudah kah buat janji pertemuan? Dengan sangat malu saya menjawab, belum. Tidak masalah kata beliau, karena kebetulan jadwalnya juga lagi kosong. Lantas saya pahami bahwa beliau sangat menghargai waktu, dan seharusnya saya membuat janji agar ketika datang ke sana beliau memang sedang berada di sana, di kantornya. Atau kedatangan tanpa janji pertemuan akan menghambat orang lain untuk masuk, padahal mereka sudah punya jadwal pertemuan.

Saya mengutarakan maksud saya, dan beliau mengerutkan dahinya. Pertama, saya seperti anak muda pada lazimnya dengan gaya berpakaian kekinian membawa sebuah pesan yang berat. Kedua, beliau tidak mengerti dari mana paman saya memperoleh infromasi bahwa kitab itu ada padahal disertasi beliau tidak dipublish secara luas. Tapi saya meyakinkan beliau bahwa tantangan Ustadz di kota besar seperti Jakarta harus menguasai referensi yang cukup dan menelaah sebuah perkara hukum dari bermacam aspek dan perbandingan. Lalu akhirnya beliau yang membuat janji pertemuan dengan mengundang saya ke rumahnya di kawasan kampus Darussalam, esoknya.

Ketika saya datang, beliau menunggu saya tepat waktu. Saya malu diperlakukan seperti tamu khusus di rumahnya, di hadapannya dan oleh beliau sendiri yang menjemput segelas teh dari belakang. Lalu beliau mengambil sebuah bungkusan yang berbalut kain. Membukanya di depan saya dan memperlihatkan disertasi beliau yang memang belum dibukukan sebagai mana buku pada umumnya. Sebuah kitab berbahasa Arab –jika diterjemahkan kira-kira—berjudul PANDANGAN MINORITAS DALAM FIQH ISLAM , Fiqh Perbandingan, Tesis Diajukan Dalam Kuliah Hukum Islam dan Perundang-Undangan, Untuk Mencapai Gelar Doktor Dalam Fiqh Perbandingan, Universtas Al Azhar, 1982 M.

Kitab yang ditulis oleh Yang Mulia Allahyarham Prof. Dr. Muslim Ibrahim. [Boy Abdaz]

Kitab ini sudah lapuk, kata beliau sambil membukanya perlahan. Tulisannya masih menggunakan mesin tik dengan aksara Arab yang tidak kalah dengan hasil komputerisasi. Kertasnya usang dan lapuk, harus sangat hati-hati membukanya agar tidak sobek. Kitab ini belum pernah saya perlihatkan pada orang umum, dan belum pernah saya beri pinjam untuk difotokopi, lanjut beliau. Saya merasa dimuliakan, tapi seketika itu juga merasa saya telah membawanya pada posisi serba salah, saya salah tingkah dan sudah siap untuk pulang dengan tangan kosong.
Tapi, entah kenapa, hari ini saya bersedia Ananda pinjam dan difotokopi saja agar bisa dikirimkan. Padahal ini belum pernah saya pinjamkan kepada siapapun. Kata beliau kemudian.

Saya kaget, malu, merasa terhormat bercampur menjadi sebuah perasaan yang aneh. Tidak tahu harus menjawab seperti apa agar sebanding, sampai beliau mengalihkan pandangan dari kitabnya lalu menatap saya untuk meyakinkan saya agar amanah ini benar-benar harus berjalan dengan baik.
Alhamdulillah, saya akan mencari toko fotokopi yang baik dan saya akan mengawalnya. Janji saya waktu itu. Dan Alhamdulillah itu berjalan dengan baik. Saya membuatnya menjadi rangkap dua, saya ambil satu dan satunya saya kembalikan bersama kitab asli dengan maksud agar jika ada yang ingin pinjam lagi, beliau bisa memberikan versi kopian. Bersamanya saya sisipkan sebuah peci rajut sebagai hadiah saya atas kemurahan hati beliau. Tapi sepertinya peci itu dihadiahkan ke orang lain lagi.
Kini beliau menghadap Yang Maha Kuasa. Syurga Allah menantinya. Allahummaghfirlahu, warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Masih teringat pula ketika Abu Darul Huda Lueng Angen, Tgk. H. Muhammad Daud Ahmad menyikapi Pengajian Tinggi Ulama di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan mengatakan “Meunyo bak Tgk. Muslim nyan mangat ta beuet.”

KOMENTAR FACEBOOK