Intelektual Menguak Gua Tsunami Purba (4-Tamat)

Laporan Murizal Hamzah

Pasie Jantang – Embun malam belum menyentuh rumput. Ratusan peserta peluncuran Katana dan warga masih menyaksikan acara demi acara hingga film Ajarkan Aku Aceh – film mitigasi gempa dan tsunami, dan trauma wisatawan karya Komunitas Aceh Bergerak – tuntas sekitar pukul 00.00 Wib memasuki Ahad, (8/12/2019).

“Tahun 2005, kita baru mengetahui bahwa di Lhoong Aceh Besar ada bekas tsunami purba,” kata Dosen Kebencanaan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Nazli Ismail pada malam penerimaan penghargaan dari BNPB kepada peneliti tsunami, Sabtu (7/12/2019).


Nazli mengatakan tim peneliti dari Unsyiah dan Nanyang University Singapura telah melakukan penelitian di Guha Ek Leunti hingga terkuak rahasia besar tsunami Aceh sejak 7.400 tahun lalu. Dari sedimen struktur tanah terungkap ada siklus tsunami yang tidak teratur. Ini menjadi temuan besar, terkait kesiapan masyarakat menghadapi tsunami yang hampir bisa dipastikan, bakal terjadi lagi.

“Ini adalah gua paleotsunami satu-satunya di Indonesia,” ungkap Nazli pakar paleotsunami pada malam itu.

Disebutkan garis-garis dan struktur sedimen pasir di dinding gua menunjukkan kejadian tsunami demi tsunami yang menerjang Aceh. Menurutnya sebelum penelitian ini masuk ke jurnal, sudah duluan dimuat koran.

“Pendidikan kebencanaan harus dimulai dari keluarga, kemudian sekolah, dan lingkungan yang lebih luas,” ajaknya.

Kepala BNPB Doni Monardo menyatakan pihaknya perlu memberikan penghargaan kepada intelektual, peneliti dan pihak lain sebagai bentuk penghargaan melalui selembar piagam yang wajib diapresiasi kerja peneliti.

“Adalah keliru, jika kita menafikan hasil penelitian para pakar. Mereka adalah orang-orang yang sudah berinvestasi untuk surga karena lewat penelitiannya, langsung tak langsung bisa menyelamatkan nyawa manusia lain,” pujinya kepada lima peneliti yang menerima langsung penghargaan dari Kepala BNPB.

“Luar biasa jasa para peneliti. Hasil penelitian mereka di gua ini, kita semua jadi tahu, bahwa tsunami di Aceh adalah peristiwa yang berulang,” ungkap Doni.

Para peneliti yang menerima piagam pada malam itu yakni Syamsidik (permodelan dan rekayasa tsunami, Nazli (paleotsunami), Ella Meilianda (morfologi pantai), Muksin (kegempaan/pencitraan seismik patahan Sumatera) dan Khairul Munadi (Kepala Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Kebencanaan (TDRM) Unsyiah).

Peneliti Tsunami: Kepala BNPB Doni Monardo (kanan) menyerahkan piagam kepada kepada Nazli pakar paleotsunami di Pasie Jantang, Lhoong, Aceh Besar, Sabtu (7/12/2019). [Foto: Murizal Hamzah]

Warga Aceh yang tidak tahu perihal tsunami membuat banyak korban berjatuhan. Karena itu, tsunami Aceh adalah pelajaran untuk membangun mitigasi pada diri sendiri dan keluarga. Disebutkan, melalui Katana akan diciptakan kader tangguh bencana mulai tingkat nasional, provinsi sampai tingkat desa. Nantinya setiap rumah tangga wajib mengikuti pelatihan mitigasi bencana. Untuk menyukseskan program besar ini, Doni berharap Presiden mengeluarkan intruksi Presiden tentang kewajiban pemerintah daerah melakukan rencana darurat penanggulangan bencana.

Juragan Bencana

Pada malam itu juga, Doni menyematkan rompi juragan (juru keluarga tangguh bencana) kepada Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, dan Teuku Kamaruzzaman mewakili Wali Nanggroe Aceh. Penyematan rompi sebagai simbol Juragan. Para penerima rompi merepresentasikan pihak-pihak yang dapat berperan untuk mengantarkan keluarga di Indonesia menjadi keluarga tangguh bencana.

Membumikan Katana merupakan tugas bersama. Penta helix, pemerintah, pakar-akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa memiliki masing-masing peran untuk mengakselerasi terwujudnya keluarga tangguh.

“Urusan bencana tidak bisa dibebankan pada satu unsur saja karena bencana adalah urusan bersama,” papar Doni pada malam itu.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berpesan Indonesia terus berproses dalam meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami.

“Dahulu kita hanya mempunyai 2 sensor di wilayah Aceh dan setelah belajar dari peristiwa tsunami Aceh, kita menambah menjadi 13 sensor,” ujar Dwikorita.

Dwikorita mengilustrasikan saat itu pihaknya hanya memiliki 2 sensor untuk mendeteksi gempa di 6 juta km wilayah Indonesia. Kemudian, para petugas masih menggunakan alat yang sangat sederhana seperti penggaris dan jangkar untuk membuat perhitungan titik episenter gempa.

“Betapa ‘primitifnya’ kita melindungi masyarakat,” kenang Dwikorita.

Empat tahun setelah peristiwa tsunami Aceh 2004, BMKG meningkatkan dan membangun sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Dwikorita menyampaikan bahwa sebanyak 170 sensor terpasang untuk memantau seluruh wilayah Indonesia.

Setelah diluncurkan Katana, akan dilanjutkan penguatan desa yang disebut Desa Tangguh Bencana (Destana). Beberapa desa di Aceh telah ditetapkan sebagai Destana terutama desa yang pernah dilanda tsunami. Salah satu desa Destana adalah Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Desa ini memiliki standar mitigasi bencana bagi warganya. Warga sepakat memfungsikan lantai dua masjid dan sekolah sebagai gedung evakuasi sementara jika tsunami.

KOMENTAR FACEBOOK