Siang dan Malam Sebagai Bukti Bumi Bulat

Bumi dalam belahan siang dan malam. (ist)

Oleh Ismail,S.Sy.,MA

Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana kaitannya peristiwa siang dan malam dengan bentuk bumi. Pertanyaan tentang bagaimana bentuk bumi yang kita pijak ini memang tidak ada habisnya, ada yang menjawab datar dan ada juga yang menjawab bulat. Perdebatan ini telah berlangsung lama dan secara ilmiah telah dimenangkan oleh jawaban yang mengatakan bentuk bumi ini adalah bulat. Banyak bukti ilmiah yang menghantar manusia kepada sebuah kesepakatan dalam bentuk bumi yang bulat. Seperti adanya siang dan malam, perubahan musim di permukaan bumi, gravitasi dan orbit satelit. Dalam kesempatan ini, penulis hanya mencoba untuk menjelaskan bagaimana kaitan siang dan malam dengan bentuk bumi yang bulat.

Ali Imran ayat 190.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Terjemah Kemenag 2002
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”.

Al-Isra’ ayat 12.
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا
Terjemah Kemenag 2002
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”.

Dari dua ayat Alquran di atas dapat dipahami bahwa peristiwa siang dan malam yang silih berganti merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah terhadap segala ciptaan-Nya dan menjadi penanda waktu bagi manusia dalam beraktifitas. Dengan adanya siang dan malam yang teratur, manusia mudah mengatur waktu untuk bekerja dan istirahat, dan pengorganisasian waktu dalam bentuk harian, mingguan, bulanan, dan tahunan untuk keperluan administrasi. Keteraturan peristiwa siang dan malam ini menjadi kata kunci dalam membuktikan bentuk bumi yang kita pijak adalah bulat.

Peristiwa siang dan malam menjadikan bumi terbelah dua dalam menerima sinar matahari, permukaan bumi yang menghadap matahari dalam kondisi siang hari dan permukaan bumi yang membelakangi matahari dalam kondisi malam hari. Perputaran bumi (rotasi) pada sumbunya yang relatif tetap mengakibatkan matahari terlihat terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat relatif sama. Saat matahari terbit di suatu daerah menjadi tanda awal hari dan saat terbenam di ufuk barat menjadi tanda awal malam hari. Terbit dan terbenam matahari pasti berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain dan perbedaan ini bisa dihitung melalui selisih nilai bujur antara dua daerah. Ketepatan perhitungan selisih waktu di permukaan bumi telah bisa dibuktikan dengan bantuan perangkat teknologi media komunikasi dan perhitungan ini hanya bisa dilakukan pada asumsi bentuk bumi yang bulat, bukan pada bentuk bumi yang datar.

Panjang lingkaran bumi sekitar 40000 kilometer atau 360 derjat busur. Matahari bergerak (gerak semu) dari timur ke barat dalam satu kali putaran membutuh waktu 24 jam. 360/24= 15 derajat, 24 = 1440 menit (1° = 1440/360° = 4 menit), sehingga matahari membutuh waktu 1 jam untuk menempuh jarah 15 derajat busur dan 4 menit untuk jarak tempuh 1 derajat busur. 360° = 40000 km (1° = 40000/360° = 111,11 km), 1° = 111,11 km, 1 menit = 1/4°, 1 menit = 111,11/4 = 27,7 km. Sehingga dalam setiap 4 menit, matahari menempuh perjalanan 111,11 kilometer dan setiap 1 menit, matahari menempuh jarak 27,7 kilometer.

Realita siang dan malam akibat dari perjalanan semu matahari, manusia mampu mengukur lingkaran bumi dengan panjang rata-rata 40000 kilometer dengan jarak tempuh matahari dalam setiap 1 menit adalah 27,7 kilometer. Perjalanan matahari dalam setiap 1 menit dengan jarak tempuh 27,7 kilometer hanya ada pada bumi yang berbentuk bulat, tidak mungkin terjadi pada bumi yang berbentuk datar. Bagi umat Islam, pembuktian bumi bulat melalui siang dan malam sangat mudah dengan ditentukannya masuk waktu salat yang merupakan salah satu syarat sahnya salat pada perjalanan matahari, dan ditetapkannya waktu berbuka puasa saat terbenam matahari di suatu daerah.

Sekarang sangat mudah mengetahui bagaimana waktu salat terjadi pada permukaan bumi yang bulat, dalam hitungan menit awal waktu salat Zuhur misalnya mulai masuk di Irian Jaya, pelan-pelan bergeser hingga 3 jam kemudian masuk waktu Zuhur di Aceh. Begitu juga masuk berbuka puasa di awali di Irian Jaya dan 3 jam kemudian baru saat berbuka puasa untuk wilayah Aceh. Perbedaan waktu berbuka puasa dan masuk waktu salat di Indonesia menjadi bukti bahwa bentuk bumi memang bulat. Bila bentuk bumi datar, pasti masuk waktu salat dan waktu berbuka puasa di Indonesia seragam dari Sabang sampai Merauke.

Zaman dulu sulit untuk membuktikan perbedaan waktu, jangankan untuk tingkat dunia, untuk wilayah Indonesia saja terasa sulit sehingga pendapat bumi bulat ikut sulit untuk dibuktikan di tingkat masyarakat awam. Zaman sekarang dengan perangkat teknologi informasi yang canggih sangat memudahkan untuk mencari tahu perbedaan waktu, saat sedang azan Zuhur di Kota Banda Aceh misalnya, telepon orang yang ada di Irian Jaya saat itu masyarakat di Irian Jaya pasti telah melaksanakan salat Asar, bahkan hampir mendekati masuk waktu Magrib.

Begitu pula dengan perbedaan waktu di dunia, sebagai contoh saat pukul 12 siang di Kota Lhokseumawe, bisa ditanyakan pada penduduk Kota Meksiko saat itu sedang pukul 12 malam. Kenapa waktu bisa berbeda di permukaan bumi? Karena bentuk bumi yang bulat. Mengapa perbedaan waktu bisa diketahui secara rinci dan teratur? Karena Allah telah menjelaskan pada ujung ayat 12 di atas, bahwa persoalan waktu yang dipedomani dari pergantian siang dan malam bisa dirincikan serinci-rincinya. Kenapa masih ada yang mengatakan bentuk bumi adalah datar? Karena pada ujung ayat 190 di atas Allah telah menjelaskan bahwa hanya yang memiliki akal sempurna yang mampu memahami makna di balik peristiwa siang dan malam. Sekian, wallahu ‘alam bissawab.

KOMENTAR FACEBOOK