Cerita Lain tentang Reformasi dalam Tank Merah Muda

Raisa (kiri) dalam bincang-bincang tentang antologi cerpen Tank Merah Jambu di halaman Kontras Aceh di Lamlagang, Sabtu sore (21/12/2019).

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Era reformasi merupakan masa krisis bagi bangsa Indonesia. Di mana saat itu terjadi kenaikan harga barang-barang yang disebut sebagai krisis moneter dan kerusuhan terjadi di mana-mana.

Melalui buku yang berjudul Tank Merah Muda, Cerita-cerita yang Tercecer dari Reformasi, Raisa Kamila beserta lima orang temannya menuliskan cerita pendek tentang keadaan yang terjadi saat itu. Hal ini disampaikan Raisa saat bincang buku yang diadakan oleh Kontras Aceh, Sabtu sore (21/12/2019).

Dalam bincang tersebut Raisa menyebutkan bahwa buku yang ditulisnya itu berupa kumpulan dari cerita masa reformasi di berbagai daerah seperti Timor Timur, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Aceh. Daerah yang dipilih sesuai dengan asal para penulisnya.

Buku tersebut merupakan hasil proyek hibah Cipta Media Ekspresi yang didanai oleh Wikimedia Indonesia dan Ford Foundation. Fokusnya untuk para perempuan yang berasal dari kalangan penulis, peneliti, dan seniman untuk membuat sesuatu. Raisa dan teman-temannya memilih untuk membuat buku kolaborasi yang berasal dari berbagai daerah tersebut.

“Jadi kami mengajukan proyek berdasarkan riset tentang pengalaman dan ingatan perempuan pada periode transisi reformasi. Periode ini sekitar tahun 1998-2004. Inilah ide dari munculnya buku ini,” ujar Raisa.

Cerita-cerita dari Reformasi itu menurut Raisa yang menjadi benang merah untuk menyatukan ingatan kolektif para perempuan dari berbagai daerah yang mereka teliti. Di mana saat itu semua masyarakat merasakan dampak dari transisi reformasi yang mengakibatkan terjadinya kenaikan harga barang-barang, toko-toko dijarah, aksi massa, dan sebagainya.

Di buku ini mereka menuliskan apa yang diingat oleh para perempuan dalam keseharian saat itu. “Kalau kita lihat buku sastra yang menggambarkan kondisi pada tahun 1998, memang sudah ada beberapa seperti buku Saman dan Pulang. Namun, itu sangat aktivis seperti kondisi saat massa turun ke jalan, mahasiswa demo, penculikan, perempuan Tionghoa diperkosa, dan sebagainya. Pengalaman seperti itu memang penting untuk dituliskan, tapi kami tidak ingin terjebak dalam momentum besar sehingga melupakan keadaan yang sifatnya keseharian. Melalui buku inilah kami menggambarkan keadaan keseharian pada saat masa reformasi tersebut,” jelas Raisa.

Dalam buku tersebut terdapat tiga tulisan Raisa masing-masing berjudul Cerita dari Belakang Wihara, Cerita dari Sebelah Masjid Raya, yang settingnya mengambil tempat di Banda Aceh, dan Cerita dari Cot Panglima yang setting tempatnya di Simpang Antara, Kabupaten Bener Meriah.

Tulisan yang dibuat oleh Raisa dibuat berdasarkan cerita dari para perempuan yang menjadi respondennya. Dia menggunakan metode snow ball yaitu secara acak, perempuan yang pada masa reformasi berusia remaja dan dewasa awal. Dari cerita-cerita merekalah lahir tiga buah tulisan Raisa dalam buku Tank Merah Muda tersebut.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK