Kisah Meutia, Penyintas Tsunami Aceh dalam Novel “Te O Teriatte” Karya Akmal Basery Nasral

Hendra Syahputra dan Akmal Nasery Basral (kiri) @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sangat rawan terhadap bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan beberapa bencana alam lainnya. Kondisi ini tidak terlepas dari letak geografis Indonesia yang berada pada zona cincin api karena diapit oleh tiga lempeng bumi aktif di dunia, rangkaian jalur gunung api, serta kondisi hidrologis, dan klimatologis.

Tingginya risiko bencana sejatinya membentuk kesadaran di tengah-tengah masyarakat bahwa mereka harus bisa “bersahabat” dengan bencana karena tinggal di wilayah yang memiliki risiko tinggi. Kesadaran tersebut idealnya tidak hanya didapatkan dari sisi teknologi semata tetapi juga dari sosial, kebudayaan, termasuk meningkatkan kemampuan mereka untuk belajar mengurangi risiko bencana

Hal itu disampaikan founder Titik Temu Asia, Dr. Hendra Syahputra, yang didapuk sebagai ketua panitia saat peluncuran novel berjudul Te O Teriatte (Genggam Cinta) karya Akmal Basery Nasral, di VIP Room Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (24/12/2019).

Kegiatan ini dibuka oleh Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Samsul Rizal, M.Eng, dengan menghadirkan pemateri Akmal Nasery Basral, pembahas Yulia Direzkia, M.Si, dan moderator Dr. Hendra Syahputra M.M.

Menurut Hendra, salah satu bagian penting dalam pengurangan risiko bencana adalah mengakses informasi terkait daerah rawan bencana, melakukan tindakan yang mengandung mitigasi bencana, mengantisipasi bencana dengan skenario terburuk, serta meminimalkan risiko. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pengurangan risiko bencana

“Satu saluran untuk mendapatkan pengetahuan adalah media massa. Peran media yang memiliki elemen penting dalam penyadaran publik, dalam memberikan informasi, tidak terkecuali informasi bencana. Selain meningkatkan kemampuan literasi yang baik, juga bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari bahan bacaan tersebut,” kata Hendra.

Tentang Literasi Melawan Lupa

Uda Akmal panggilan akrab penulis, menceritakan buku itu ia tulis berdasarkan kisah nyata seorang remaja korban tsunami Aceh 2004 silam dan riset sang penulis berkait bencana tsunami. Buku dengan judul Te O Toeriatte ini bercerita tentang seorang gadis asal Aceh yang mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

Dikisahkan, Meutia Ahmad Sulaiman baru berusia 14 tahun ketika tsunami Aceh menewaskan kedua orang tua dan ketiga adiknya pada tahun 2004.

Dia selamat tersangkut di tiang kapal yang terdampar di pemukiman warga. Kisah Meutia mendapat liputan media massa internasional dan menarik perhatian suami istri Hiroshi dan Harumi di Fukushima, Jepang, untuk mengadopsinya dan di sinilah kisah Meutia dimulai dalam sebuah buku Te O Toeriatte.

Uda Akmal menambahkan, kisah Meutia beberapa tahun kemudian bersama orang tua angkatnya di Jepang dengan terulangnya musibah gempa dan tsunami di Tohoku serta Fukushima sehingga mengingatkannya kembali dengan musibah di Aceh sehingga membuatnya traumatik. Ia pun didera PTSD. Di tengah deraan PTSD ( Post-Traumatic Stress Disorder )yang dialami setiap hari, Meutia yang kini berusia 29 tahun dan sedang mengejar mimpi untuk menjadi doktor ilmu komputer.

“Untuk beberapa tahun selanjutnya Meutia merasakan kebahagiaan sebuah keluarga. Namun, triple disaster yang menghancurkan Tohoku (gempa bumi dan tsunami) serta Fukushima (kebocoran reaktor nuklir) pada tahun 2011 dan menewaskan orang tua angkatnya, membuat hidup Meutia kembali terpuntir pusaran traumatik yang meretakkan jiwanya,” kata Uda Akmal.

Yulia Direzkia, M.Si. Psikolog, dalam peluncuran ini menjelaskan traumatik yang dialami oleh Meutia dalam hidupnya selama bencana di Aceh dan Jepang.

“Beberapa halaman menjelaskan traumatik PTSD yang dialami oleh Meutia. Salah satunya saat dia berada dalam sebuah taxi dan tiba tiba berteriak kepada supir untuk berhenti karena ia melihat seorang anak kecil laki-laki menyeberang seumuran adiknya yang terlepas dari pelukannya saat diterjang ombak tsunami Aceh 15 tahun silam, dan saat diperiksa oleh supir tidak ada siapa pun yang menyeberang,” jelasnya.

Salah satu media pembelajaran untuk pengurangan risiko bencana adalah belajar dari apa yang dituliskan oleh orang lain. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang penulis produktif dan kreatif Indonesia Akmal Nasery Basral. Ia adalah mantan wartawan majalah Tempo dan Gatra, dan kini menjadi novelis dengan karya-karya seperti Nagabonar Jadi 2 (2007), Sang Pencerah (2010), Trilogi Imperia (Ilusi Imperia, Rahasia Imperia, Coda Imperia, 2014-2018), serta Dilarang Bercanda dengan Kenangan (2018), dan  Te o Toriatte (Genggam Cinta) di tahun 2019.

Novel terbarunya berjudul Te o Toriatte (Genggam Cinta). Novel ini diilhami dari kisah nyata penyintas gempa dan tsunami Aceh 2004 yang bernama Meutia.

Bertepatan dengan memperingati 15 tahun gempa dan tsunami Aceh, Titik Temu Asia, bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (PRPRK) Universitas Syiah Kuala, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, dan Jaringan Survey Inisiatif, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Ar-Raniry, LKMS Mahirah Muamallah Syariah, Bank Rakyat Indoensia, Gramedia, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Radio Three FM 94,5 FM, RRI Pro2 FM 92,6 Mhz serta PKBI mengadakan bedah buku dan diskusi buku karya Akmal Nasery Basral berjudul Te o Toriatte.

“Semoga kisah yang dituliskan Akmal Nasery Basral bisa mengingatkan kita bahwa melalui narasi literasi kita juga bisa melawat lupa dan membangun siaga,” kata Hendra.

Akmal Nasery Basral akan diagendakan juga hadir pada penyerahan buku Te O Toriatte pada peringatan 15 tahun gempa dan tsunami Aceh 2004 pada tanggal 26 Desember 2019 di Pidie.[]

Editor : Ihan Nurdin