Masjid Kajhu, Saksi Bisu Tsunami Melumat Aceh

Masjid Al-Maghfirah Habib Chiek Kajhu @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

Sore itu, udara sejuk menyambut, sang senja sudah terlihat di ufuk barat. Lantunan ayat suci Alquran yang diputar pada loudspeaker masjid kian menambah sore itu menjadi indah nan syahdu. Kicauan burung dari atas pohon cemara yang terletak di pekarangan masjid semakin membuat suasana betah saat menikmati sore di Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Gesekan daun-daun kering turut menjadi backsound saat memandangi segerombolan anak kecil yang berlari-lari di seputaran pekarangan masjid. Semilir angin membuat suasana senja ini semakin nyaman. Suasana sore itu tampak terlihat lengang, amatan aceHTrend, hanya dua pria terlihat duduk di sebuah balai yang terletak tak jauh dari pekarangan masjid.

Inilah Masjid Al-Maghfirah Habib Chiek Kajhu yang beralamat di Jalan Laksamana Malahayati Km. 8 Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Masjid yang dibangun pada tahun 1985 ini merupakan saksi bisu sejarah mahadasyat bencana gempa dan gelombang tsunami yang memporak-porandakan Aceh pada 14 tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004.


Jika pengunjung atau peziarah berkesempatan mengunjungi Aceh dalam rangka memperingati 14 tahun tsunami, maka sempatkanlah mengunjungi Gampong Kajhu. Pasalnya, di gampong yang terletak sekitar 5 kilometer dari bibir pantai ini Anda akan menemukan saksi sejarah betapa dahsyatnya tsunami menerjang daerah ini.

Saat tsunami menyapu Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, Masjid Al-Maghfirah ini menjadi salah satu dari sedikit bangunan yang masih kokoh berdiri. Sementara bangunan yang terletak di sekitaran masjid tersebut hancur dan rata dengan tanah. Masjid ini masih tetap berdiri kokoh walaupun sebagian bangunannya rusak. Fenomena ini membuat banyak orang terhenyak melihat betapa besarnya kuasa Ilahi.

Salah satu pengurus masjid Al-Maghfirah, Teungku Fazlun mengatakan, belasan orang selamat saat berlindung di masjid ini saat musibah tsunami ini terjadi.

“Ada sekitar sepuluh orang lebih yang selamat ketika tsunami terjadi. Mereka berlindung di sini umumnya berasal dari Gampong Mon Singet. Bahkan Tgk Lateh, imam masjid di sini juga selamat, namun beliau juga sempat terombang-ambing digulung ombak , tapi dia tersangkut di masjid setelah ombak itu surut kembali,” kata Teungku Fazlun kepada aceHTrend, Senin (16/12/2019).

Teungku Fazlun merupakan warga asli Kajhu. Saat tsunami menerjang, ia telah kehilangan separuh keluarganya yang umumnya berdiam di wilayah pesisir tersebut.

Hingga saat ini, masjid Al-Maghfirah ini juga telah menyita banyak perhatian wisata dari berbagai belahan dunia, khususnya bagi para wisata religi yang tertarik untuk mengunjungi masjid ini selain Masjid Raya Baiturrahmahman, Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue, dan Masjid Rahmatullah di Lampuuk.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK