Balitbang Kemenag RI Dituding Lempar Batu Sembunyi Tangan Soal Aceh di Ranking Terbawah Indeks KUB

Dialog interaktif Harmoni Kerukunan Umat Beragama di Aceh yang berlangsung di RRI Banda Aceh, Senin (30/12/2019)

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Publikasi hasil survei indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) versi Badan Litbang Kemenag RI Tahun 2019 yang menempatkan Provinsi Aceh di ranking terbawah (34) telah menimbulkan kegaduhan dan mengganggu kerukunan sosial di Aceh.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh, Nasir Zalba, mengatakan, pihaknya sudah berusaha mengundang Prof Muhammad Adlin Sila selaku Ketua Tim Survei Balitbang Kemenag RI untuk menjelaskan metodologi dan proses survei di hadapan tokoh-tokoh lintas agama di Aceh, tapi yang bersangkutan tidak mau hadir ke acara tanggal 23 Desember 2019 di Banda Aceh.

“Kita mendapat jawaban alasan klasik, tidak ada anggaran (untuk pergi, red) katanya,” kata Nasir Zalba, Ketua FKUB Aceh, dalam acara Dialog Interaktif Harmoni Kerukunan Umat Beragama di Aceh yang berlangsung di RRI Banda Aceh, Senin (30/12/2019).

Nasir Zalba menambahkan, Balitbang Kemenag RI memberikan “PR” berupa kegaduhan baru kepada orang Aceh yang sedang enak-enaknya hidup rukun dan damai.

“Balitbang Kemenag RI kasih PR ke kita. Mereka seperti melempar batu sembunyi tangan,” kata Nasir di hadapan umat lintas agama.

Dalam kesempatan itu, Pendeta Kotler Siagian (Kristen), Baron Pandiangan (Katolik), Paini (Hindu), Yuswar (Buddha) mengajukan protes keras kepada Balitbang Kemenag RI. Mereka tidak setuju Aceh ditempatkan di urut terbawah tingkat kerukunan umat beragama karena realita di lapangan sangat aman, rukun, dan damai kehidupan umat beragama di Aceh.

Sementara Heri, dari Dewan Dakwah Aceh, meminta Kemenag RI untuk mencabut hasil survei itu dan mendesak Ketua Tim Survei untuk meminta maaf.

“Saya berpikir untuk menggugat Balitbang Kemenag RI,” kata Heri.

Ketua Tim Survei Balitbang Kemenag RI, Prof Dr Muhammad Adlin Sila, melalui sambungan telepon, mengatakan, pihaknya akan berupaya memadukan metode kuantitatif dan kualitatif dalam survei pada tahun-tahun mendatang, dan ini membutuhkan dana lebih besar. Selama lima tahun terakhir Balitbang Kemenag RI hanya dilakukan secara kuantitatif.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK