Internet dan Perubahan Zaman

Muhajir Juli.

Internet adalah penanda kemajuan. Tonggak penting peradaban manusia. Temuan yang memudahkan manusia di dunia yang setiap hari mengalami desrupsi.

Dulu, daun pisang, daun jati dan daun-daun lainnya menjadi pembungkus makanan. Setelah kertas ditemukan, fungsi daun tergeser. Bukan kertas penyebabnya. Tapi manusia. Ya, manusia yang –setelah kertas diproduksi secara massal– enggan menggunakan daun. Kepraktisan menjadi alasan. Awalnya makanan dibungkus dalam kertas khusus. Kemudian kertas koran [bekas] pun menjadi media pembungkus makanan. Di masa kini, styrofoam mengambil alih. Lebih praktis, walau diributkan sebagai bahan yang tidak aman untuk kesehatan.

Kehadiran internet mendisrupsi media cetak dan radio. Informasi semakin cepat tersampaikan ke publik. Oleh media sosial, informasi kian massif dibagikan ke se antero. Pemilik koran sempat menempatkan media online sebagai mass media yang bukan mainstream. Media kelas dua. Tapi dunia terus berubah. Pembaca tak ambil pusing. Mereka yang lahir di era internet justru tidak menyukai koran cetak. Kini, media padat modal pun beralih. Membuka platform online dengan bubuhan akhir com, co, co.id, id, uk, dll.

Kemajuan teknologi membuka gelombang protes semakin besar. Kelas sosial yang tidak mendapatkan tempat berteriak di era lampau, kini menemukan ruang. Baik melakui mass media maupun media sosial. Kebohongan dan kebenaran pun bertarung di ruang terbuka. Manusia semakin banyak yang keukeuh dengan kebenaran yang ia yakini. Mereka pun semakin leluasa mengabaikan ilmu pengetahuan.

Maka, setiap hari adalah keributan [di dunia maya] yang sering pula disertai di dunia nyata. Sindir menyindir di status medsos, dakwa dakwi di medsos, kerap berujung perundungan di alam nyata.

Tidak sedikit yang mengutuk internet. Mereka menuduh internet sebagai biang kerok. Brutalisme manusia disangkakan kepada internet yanh dinilai telah menghancurkan silaturahmi.

Tapi internet terus-menerus melangkah maju. Kini jaringan 4G telah menempatkan 3G sebagai sesuatu yang kuno. Sesuatu yang ketinggalan zaman. Industri smartphone menyesuaikan diri. Industri lainnya pun demikian juga. Sebentar lagi jaringan 5G akan mengakhiri kejayaan 4G.

Desrupsi tidak bisa dilawan. Perubahan adalah sunnatullah. Perintah Tuhan yang diamanahkan kepada para penemu dan industri yang mengembangkan temuan teknologi. Golongan tua dan mereka yang mencoba bertahan dalam status quo hanya bisa memaki, dan kemudian mau tak mau harus ikut menyesuaikan diri.

Saya teringat pada sekelompok orang di masa lampau yang mengutuk buku. Upaya mereka hanyalah kesia-siaan. Kini, buku yang dulunya dicetak di atas kertas, menjadi nir kertas. Bisa dibaca melalui telepon genggam. Demikian juga kitab suci. Dari Firman yang dihafal, kemudian ditulis di pelepah kayu, dicatat di kulit binatang, kemudian dicetak di atas kertas. Kini kitab suci bisa dibaca melalui telepon genggam. Bisa dibaca di mana saja. Aturannya tetap sama, kitab suci tidak bisa dibuka dan dibaca di sembarang tempat. Ketika masuk toilet, kandang, handphone dimatikan. Dengan sendirinya kitab suci hilang dan tersimpan di suatu tempat yang dikenal dengan “memori”.

Satu-satunya kelemahan internet hanyalah energi listrik. Bila listrik mati dalam waktu lama, internet akan mati. Karena smartphone membutuhkan daya. Belum ditemukan teknologi yang bisa menyimpan arus listrik dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang lama. []

KOMENTAR FACEBOOK