Pelabuhan Calang, Penyangga Barsela Dalam Konektivitas Dengan India

Oleh Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil.,M.A

Pada Minggu pagi, 29 Desember 2019, saya menyempatkan waktu berkunjung ke Kota Calang, Ibukota Kabupaten Aceh Jaya, dengan tujuan khusus untuk melihat langsung aktivitas di Pelabuhan Calang. Kunjungan saya ke sana atas tawaran Staf Khusus Bupati Aceh Jaya, Azwar yang juga merupakan teman lama saya. Ia telah lama mengetahui bahwa saya aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan kerjasama antara Aceh dan India.

Tawaran Azwar, sebenarnya memancing naluri saya sebagai seorang peneliti untuk melihat langsung kondisi di lapangan, sekaligus dapat melakukan wawancara. Tidak hanya tahu dari membaca koran atau mendengar cerita orang. Seorang peneliti yang dicari adalah kebenaran dan bukan pembenaran.

Setelah Shalat Subuh dan mendengar ceramah di Masjid Kupiah Meukeutop atau Masjid Teuku Umar, Banda Aceh, kami langsung bergegas menuju Aceh Jaya. Kata Azwar, “Kita jalan tidak usah terburu-buru. Sambil menikmati perjalanan, kita mampir ke beberapa tempat.” Di perjalanan, kami menyempatkan waktu berfoto di lokasi yang memiliki pemandangan yang indah, sekitar 1 km sebelum memasuki perbatasan Aceh Jaya. Dilanjutkan dengan berhenti sejenak di Puncak Gunung Geurutee yang menjadi bagian dari Hutan Ulu Masen. Hutan ini terkenal sebagai salah satu paru-paru dunia.

Dari atas Geurutee terlihat hamparan sawah, kebun, dan pantai pasir putih yang memanjang yang berdekatan dengan Pulau Kluang, nama dua pulau kecil tak berpenghuni. Lokasinya berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia. Sebelum tragedi tsunami, antara hamparan sawah, kebun, dan pasir putih dengan salah satu pulau tersambung. Sekarang terlihat terputus dan dipisahkan oleh perairan.

Sesampai di Lamno, kami mampir di sekolah yang menjadi sekolah percontohan binaan Pemerintah Daerah Aceh Jaya. Dilanjutkan dengan mampir di warung kopi yang berdekatan dengan Pasar Lamno. Suasana terlihat ramai, berhubung hari Minggu merupakan hari peukan (hari pasar), puncaknya berkumpul penjual dan pembeli di pasar tradisional. Lamno adalah nama kota Kecamatan Jaya di Aceh Jaya yang terkenal dengan keberadaan orang-orang keturunan Portugis, berparas Eropa dan bermata biru.

Memasuki gerbang Kota Calang, mengingatkan kembali saya, perbedaan berada di rentang tiga waktu yang berbeda. Sebelum terjadi tsunami, saya pernah berkunjung ke Calang, dan dua tahun setelah tragedi tsunami, kembali berkunjung ke kota ini. Kunjungan di hari Minggu menjadi kunjungan yang ketiga. Rasanya mungkin hampir tidak percaya, bahwa kota yang saya kunjungi ini, dulunya hancur, tersapu bersih oleh kekuatan dorongan gelombang tsunami. Yang terlihat hanya hamparan tanah yang luas dan tidak berpenghuni. Pohon-pohon besar pada bertumbangan.

Tanah yang kosong ini, kini telah berpenghuni. Ekonomi telah bergeliat. Berdiri banyak rumah warga, bangunan pertokoan, pasar, masjid, gedung perkantoran dan sekolah, warung-warung kopi dan rumah makan, dan tempat penginapan serta pelabuhan laut (Pelabuhan Calang).

Pelabuhan Calang yang berada di Kecamatan Krueng Sabee telah membuka babak sejarah baru dalam kegiatan perdagangan internasional di Aceh. Pada 17 Oktober 2019 dilakukan ekspor perdana CPO (minyak mentah kelapa sawit) dengan jumlah 4.900 metrik ton dari pelabuhan ini menuju Pelabuhan Krishnapatnam yang berada di antara Pelabuhan Chennai dan Pelabuhan Kolkata di India. CPO diangkut oleh Kapal Mekong Trans berbendera Vietnam yang memiliki bobot 7.000 ton.
Plt. Gubernur Aceh yang langsung meresmikan ekspor perdana ini disertai dengan pemotongan pita pada pipa penyaluran dari tabung penampungan milik PT. Calang Sejati Indah ke dalam kapal (Aceh.tribunnews.com, 17/10/2019). Pada 17 Desember 2019 Kapal Mekong Trans kembali bersandar di pelabuhan ini untuk mengangkut CPO untuk diekspor ke India (Aceh.tribunnews.com, 17/12/2019). Rencananya pada bulan Februari 2020 akan dilakukan ekspor yang ketiga, menuju pelabuhan yang sama.

Pelabuhan Calang menjadi pelabuhan pertama di Aceh yang melayani ekspor CPO ke luar negeri. Sebelumnya ekspor CPO dilakukan melalui Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara. Yang secara ekonomi jauh lebih menguntungkan karena jarak tempuh yang lebih dekat dibandingkan dengan jarak dari Pelabuhan Belawan ke India.
Pelabuhan ini juga menjadi pelabuhan pertama yang konsisten dalam perdagangan internasional, walaupun yang dikirim baru pada satu komoditas. Mengapa saya katakan konsisten, karena kegiatan ekspor yang dilakukan bukan hanya sekali, yang pertama sekaligus terakhir. Tapi menjadi kegiatan ekspor yang berkesinambungan.
Q
Di dekat pelabuhan telah dibangun tiga kilang penampungan CPO yang masing-masing berdaya tampung 5.000 metrik ton. Sehingga akan memudahkan mengaliri CPO dari pipa kilang menuju ke dalam kapal. Amru selaku Pejabat Pembuat Komitmen Pelabuhan Calang mengatakan,”Diharapkan ke depan ekspor CPO dapat dilakukan tiga kali pengiriman dalam sebulan. Diperkirakan sebesar 15.000 Metrik ton. Saat ini sedang dilakukan beberapa pembenahan.” Ditambahkan olehnya,”Masyarakat perlu tahu bahwa pelabuhan memiliki peran sentral, tidak hanya sebagai terminal arus barang dan jasa tapi ia menjadi gerbang perekonomian bagi daerah.”

Pelabuhan Calang memiliki kedalaman alami mencapai 15 meter, hingga dapat menampung draft kapal yang tenggelam di dalam air antara 7 hingga 8 meter. Di dalam area pelabuhan yang luas sekitar 1,9 hektar, terlihat tumpukan tiang pancang untuk pembangunan PLTU di Nagan Raya. Pelabuhan ini telah dikontrak hingga tiga tahun ke depan sebagai pelabuhan bongkar muat tiang pancang PLTU 4 dan 5 yang didatangkan dari China sebelum dibawa ke Nagan Raya.

Tidak hanya aktivitas ekspor dan impor saja yang berlangsung di pelabuhan ini, namun juga aktivitas perdagangan batu split antara Calang dan Sinabang sekaligus menjadi pelabuhan transportasi laut bagi penumpang yang ingin bepergian menuju Sinabang. Pelayaran dari Calang ke Sinabang berlangsung seminggu sekali, tepatnya di Hari Minggu. Ongkos tiketnya sangat murah, hanya Rp16 ribu, karena selebihnya disubsidi.

Perairan Samudera Hindia yang berada di sepanjang wilayah Aceh bagian barat dan selatan merupakan jalur perdagangan tua atau kuno yang telah digunakan sejak abad ke-1 Masehi sebagai jalur perdagangan rempah-rempah. Pelabuhan Barus yang berada di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara berada satu garis lurus dengan Pelabuhan Calang, merupakan pelabuhan tertua di Nusantara. Kapur barus terbaik di dunia berasal dari Barus (yang terkenal juga dengan nama Fansur), yang diekspor ke Mesir untuk digunakan sebagai salah satu bahan kimia bagi pengawetan mayat atau mumi di masa Mesir kuno.

Dibukanya Terusan Suez pada 1869 berpengaruh signifikan pada berubahnya tata pelayaran dan perdagangan internasional. Jalur perdagangan di bagian utara dan timur Sumatera seperti di Selat Malaka dan Selat Singapura menjadi diuntungkan. Pelabuhan Singapura bisa berkembang pesat dan maju seperti saat ini, tidak terlepas dari pengaruh dibukanya Terusan Suez. Terusan ini menjadi salah satu rekayasa manusia yang terbesar dalam sejarah dunia. Apabila dikemudian hari dibukannya Cra Canal (Kanal Kra) yang berada di Thailand Selatan, maka dipastikan jalur perdagangan dunia akan berubah dan besar kemungkinan, demi efisiensi waktu tempuh, kapal-kapal dagang besar akan menghindari melewati jalur Selat Malaka dan Selat Singapura. Maka yang diuntungkan adalah wilayah yang berdekatan dengan perairan Samudera Hindia. Apalagi saat ini Samudera Hindia telah menjadi perairan laut tersibuk di dunia. Aceh yang sangat diuntungkan dengan letak geografis, berada di antara Samudera Hindia dan Selat Malaka, harus dapat memanfaatkan peluang besar ini.
Dalam berbagai kesempatan, saya menyampaikan, jika Poros Maritim Presiden Joko Widodo ingin berhasil maka kuncinya ada di Aceh. Jika perdagangan internasional di Aceh tumbuh pesat maka posisi dan poros maritim Indonesia juga akan menjadi kuat. Maka yang diuntungkan adalah ekonomi Nasional.

Dalam membangun konektivitas dengan India, sudah selayaknya Pelabuhan Calang dipertimbangkan menjadi pelabuhan penyangga untuk wilayah barat – selatan Aceh. Tidak hanya CPO yang diekspor, namun juga ke depannya berpeluang untuk mengekspor komoditas pinang serta komoditas atau produk lainnya. Sedangkan Pelabuhan Krueng Geukeuh dapat menjadi penyangga untuk wilayah Aceh bagian timur. Kedua pelabuhan ini nantinya dapat terkoneksi dengan Pelabuhan Malahayati dan Pelabuhan di Sabang dalam membangun konektivitas dengan India.

*)Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim.